Delapan Butir Telur Mengalahkan Cinta

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Sebelum menikah, kebanyakan pria suka bersikap manis di hadapan wanita. Saat mengajak makan, mereka akan bertanya: “Kamu suka makan apa?” Lalu memesan sesuai selera si gadis. Bahkan sibuk menyuapi dan berkata: “Makan yang banyak ya.”

Ketika si gadis bertanya manis: “Kenapa kamu tidak makan?” Jawabannya pun romantis:“Melihatmu saja sudah cukup.”

Namun setelah menikah, keadaan sering berbalik.

Wanita berusaha keras memikirkan makanan kesukaan suaminya, memasaknya dengan penuh perhatian. 

Lalu bagaimana dengan sang pria? Dia mencicipi sedikit, lalu berkata: “Keasinan.” Atau : “Kurang rasa.” Dan menyingkirkannya.

Jika ada ikan, daging, udang, atau kepiting di rumah, biasanya wanita akan mendahulukan anak, lalu suami. Jika masih tersisa sedikit, barulah dia mencicipinya. Jika tidak ada, dia pun rela tidak makan.

Itulah kebajikan tradisional wanita Tiongkok.

Ayah dan ibu saya adalah pasangan teladan. Jika makan sesuatu yang enak, mereka selalu saling mempersilakan.

Jika ada udang atau kepiting, ayah tidak pernah menyentuhnya. Dia selalu berkata tidak suka, meski kami tahu dia sebenarnya hanya tidak tega memakannya.

Ketika makan telur asin, bagian kuningnya sering berpindah dari satu mangkuk ke mangkuk lain—saling menyodorkan.

Saya selalu mengagumi ayah seperti itu.

Zi Yue adalah pacar saya. Kami serasi dan seolah ditakdirkan bersama. Saya pernah yakin dialah pria yang paling cocok untuk saya.

Dia hanya punya satu kekurangan: egois.

Dan keegoisannya paling tampak saat makan.

Jika dia menyukai suatu makanan, dia tidak memedulikan siapa pun—termasuk saya.

Mungkin karena kebiasaan keluarga? Semua pria di keluarganya seperti itu—dimanjakan oleh para wanita.

Saya sangat tidak menyukai kebiasaannya. Seorang pria dewasa yang begitu rakus saat melihat makanan, menunduk tanpa peduli, menyuap terus tanpa henti—sulit saya pahami.

Misalnya, ketika kami makan makanan kaleng (biasanya saya yang membelinya), dia memegang toples dan makan dengan lahap. Kadang menyuapi saya satu potong kecil, tapi dengan tatapan seolah saya merebutnya darinya. Dia makan cepat dan bersih—hingga kuah pun tak tersisa. Lalu pergi, meninggalkan saya dalam kecanggungan.

Saat kami memasak ayam, bagian terbaik selalu dia ambil lebih dulu. Dia tidak pernah sungkan. Bahkan jika tidak diambilnya, saya pun tidak tega memakannya sendiri.

Dia sangat suka ampela ayam. Sebenarnya saya juga suka. Suatu hari saya mengambil satu potong untuk diri saya sendiri. Dia langsung melihat dan berkata: “Kenapa kamu makan ampelaku?”

Saya terdiam. Bahkan merasa bersalah—seolah mencuri sesuatu.

Di musim dingin, semangka mahal. Dia suka sekali.

Karena kami hanya pekerja biasa dengan gaji pas-pasan, saya selalu berkata tidak suka agar dia bisa memakannya.

Dia membelah semangka dan memakannya dengan sendok. Suara sendoknya terdengar jelas. Saya menelan ludah diam-diam, tidak pernah meminta.

Suatu hari, dia tidak sanggup menghabiskan semuanya dan meninggalkan sedikit. Saat membersihkan meja, saya melihat masih ada sedikit daging merah. Sayang jika dibuang, jadi saya habiskan.

Ketika dia kembali dan mencari semangka, saya berkata: “Tadi tinggal sedikit. Kupikir kamu tidak mau, jadi aku habiskan.”

Dia hampir marah besar: “Tinggal sedikit? Setengahnya masih ada!”

Saya kembali merasa hina.

Pernah suatu kali dia membeli empat tusuk sate hati kambing dan menunggu saya di mobil. Karena saya terlambat, dia memakan semuanya.

Ketika saya masuk mobil dan mencium aroma sate, saya bertanya. Dia berkata santai: “Siapa suruh kamu lama!”

Hati saya terasa perih.

Suatu hari saya berkata padanya: “Aku ingin bercerita.”

Di masa Revolusi Kebudayaan, ada sepasang mahasiswa yang saling mencintai. Sang gadis adalah putri pejabat, sedangkan pemuda itu anak petani.

Ayah gadis itu memisahkan mereka dengan memindahkan si pemuda ke daerah terpencil. Gadis itu memutuskan ikut, meski harus memutus hubungan dengan keluarganya.

Mereka hidup miskin tapi bahagia bersama.

Suatu hari, saat Festival Pertengahan Musim Gugur, mereka hanya mendapat satu kue bulan.

Pemuda itu membagi dua dan memakan bagian miliknya lebih dulu. Lalu dia berpikir: “Jika gadis itu pulang, dia pasti tidak tega memakan seluruh bagiannya. Dia akan membaginya lagi untukku.” Maka dia memakan setengah dari bagian gadis itu.

Akhirnya, tanpa sadar, dia menghabiskan seluruh kue.

Ketika gadis itu pulang dan bertanya tentang kue bulan, pemuda itu mengaku telah memakannya semua.

Gadis itu sangat kecewa. Dan hubungan mereka pun berakhir karena sepotong kue bulan.

Saya menutup cerita itu dengan berkata: “Banyak cinta yang tak bisa dihancurkan oleh dunia, tapi runtuh karena hal kecil seperti sepotong kue bulan.”

Dia menatap saya tanpa mengerti. Dan hati saya mulai goyah.

Suatu hari di bulan Mei, saya pergi ke rumahnya. Orangtuanya tidak ada. Dia berkata ingin makan telur orak-arik.

Saya memecahkan delapan butir telur. Saya tambahkan daun bawang, garam, air, dan dua sosis. Saya tumis hingga harum memenuhi ruangan. Satu mangkuk besar penuh.

Saya berkata: “Aku rebus mie instan ya, nanti kita makan bersama.”

Saya berlari keluar dengan harapan dia akan menyuapi saya sesendok besar telur.

Namun saya terpaku. Mangkuk itu kosong bersih. Tak ada sisa sedikit pun. Dia duduk santai membaca majalah. Saat itu saya mengerti. Bukan karena dia rakus. Tapi karena di hatinya, hanya ada dirinya sendiri. Jika di hatinya tidak ada saya, untuk apa saya bertahan?

Saya menyajikan mie instan di hadapannya dan berkata : “Silakan makan pelan-pelan. Mulai sekarang, tak perlu takut ada yang merebut makananmu. Karena aku memutuskan untuk meninggalkanmu.”

Mungkin dia tidak pernah mengerti kesalahannya. Namun itu bukan lagi urusan saya. Saya pulang, memecahkan delapan butir telur, mencampurnya dengan air mata, dan memakannya sendirian.

Hikmah Cerita

Kadang cinta tidak runtuh karena pengkhianatan besar. Dia bisa runtuh karena hal kecil—yang diulang-ulang. Bukan soal makanan. Bukan soal telur. Tapi soal perhatian.

Cinta bukan hanya tentang perasaan besar dan kata-kata manis. Dia hidup dari hal-hal sederhana: mau berbagi, mau peduli, mau memikirkan orang lain.

Karena yang menguatkan cinta belum tentu tindakan spektakuler. Dan yang menghancurkannya pun belum tentu luka besar.Kadang, hanya delapan butir telur sudah cukup.(jhn/yn)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Di Tengah Pelemahan Pasar, Astra Catat Pendapatan Rp323 Triliun pada 2025
• 14 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadi Kinan di Film Laut Bercerita, Dian Sastro Mengaku Tak Terbebani Ekspektasi
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Ala THR! Bonus Hari Raya Ojol dan Tukang Paket Sebesar 20 Persen, Berikut Contoh Menghitungnya
• 13 jam laludisway.id
thumb
Fenomena Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Waktu dan Lokasi Terbaik untuk Menyaksikannya
• 20 jam lalunarasi.tv
thumb
Kakorlantas: Operasi Ketupat 2026 fokus keselamatan dan keamanan
• 1 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.