Pete Hegseth Menteri Pertahanan Amerika Serikat (Menhan AS) menegaskan bahwa siapa pun yang mencoba menantang Paman SAM akan menghadapi konsekuensi besar. Pernyataan itu disampaikan Hegseth di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan rangkaian operasi militer terbaru Washington di berbagai kawasan.
Menhan AS itu mengatakan operasi militer yang baru dilakukan menunjukkan dominasi kekuatan militer Amerika sekaligus menjadi pesan pencegah bagi negara atau pihak yang dianggap sebagai lawan.
“Tujuan kami adalah menciptakan efek penangkalan yang begitu kuat sehingga para musuh akan gemetar ketika berpikir untuk menantang kami,” ujar Hegseth saat menghadiri tur nasional Arsenal of Freedom di negara bagian Arkansas, Jumat (27/2/2026) waktu setempat, yang dikutip dari Anadolu.
Ia menegaskan dunia internasional saat ini tidak berada dalam kondisi ideal yang perdamaiannya hanya bisa melalui pendekatan lunak. Menurutnya, justru kekuatan militer tetap menjadi faktor utama dalam menjaga keamanan nasional.
“Dunia bukan tempat di mana bersikap baik saja bisa membawa perdamaian. Ini dunia yang keras, di mana kekuatan dibutuhkan untuk melindungi apa yang kita cintai,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Hegseth juga menekankan urgensi peningkatan kapasitas industri pertahanan AS. Pemerintah, kata dia, mengirimkan sinyal kuat kepada industri militer untuk mempercepat produksi alat utama sistem persenjataan.
“Kami ingin yang terbaik, dan kami membutuhkannya sejak kemarin. Era kelemahan telah berakhir,” ujarnya.
Ia turut menyinggung sejumlah kebijakan militer pemerintahan sebelumnya yang dinilai menjadi pelajaran penting, termasuk penarikan pasukan dari Afghanistan serta konflik yang berlangsung di Ukraina.
Hegseth juga memaparkan operasi militer bertajuk Operation Absolute Resolve di Venezuela sebagai contoh kemampuan koordinasi militer AS. Dalam operasi tersebut, puluhan rudal diluncurkan secara simultan ke berbagai target strategis beberapa menit sebelum pasukan khusus bergerak ke sasaran.
Menurutnya, operasi itu menunjukkan presisi dan kemampuan tempur tinggi militer Amerika Serikat dalam menjalankan misi strategis.
Ia bahkan menyebut Nicolás Maduro Presiden Venezuela telah merasakan langsung konsekuensi dari kekuatan militer AS. Washington sebelumnya melancarkan operasi militer pada 3 Januari yang diklaim bertujuan menangkap Maduro, termasuk melalui serangan udara terhadap infrastruktur pertahanan dan komunikasi di wilayah Venezuela.
Pemerintah AS menyatakan operasi tersebut sebagai bagian dari kebijakan keamanan kawasan serta upaya melawan dugaan jaringan narkotika dan korupsi, sekaligus menjaga kepentingan strategis Amerika di kawasan Amerika Latin. (bil/faz)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5080102/original/008701700_1736158590-20250106-Dapur_MBG-MER_2.jpg)