Saatnya Rempah Nusantara Menggoyang Lidah Gen Z

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Wewangian rempah semerbak di Warung Kopi Rempah Nusantara di Jalan Sei Siguti, Medan, Jumat (27/2/2026). Menjelang buka puasa, berbagai jenis minuman seperti teh serai jahe dan kopi rempah disajikan. Minuman rempah memberikan kehangatan di tengah hujan yang tiba-tiba mengguyur Kota Medan sore itu.

Pendiri Warkop Rempah Nusantara, Herawanti Handayani, bersama anak-anak generasi Z sibuk menyiapkan pertunjukan “Spektakel Lidah Gen Z, Eksplorasi Rempah di Ruang Performative”. Kurang dari dua bulan, acara itu akan dihelat pada 10-11 April 2026 di Warkop Rempah.

“Spektakel Lidah Gen Z lahir dari kegelisahan pada gen Z yang tak akrab lagi dengan kayu manis, cengkih, serai, kapulaga, dan rempah Nusantara lainnya. Lidah mereka lebih kenal dengan boba, taro, serta makaman dan minuman manis lainnya,” kata Herawanti.

Warkop Rempah ingin mengakrabkan lagi kekayaan cita rasa rempah Nusantara kepada anak-anak muda. Herawanti tak mau lidah anak-anak muda disetir dan dibentuk oleh industri makanan dan minuman. “Jangan sampai lidah kita dibatasi dan diseragamkan hanya untuk kepentingan industri makanan dan minuman global,” kata Herawanti.

Menurut Herawanti, industri raksasa dari berbagai negara punya kepentingan membersihkan lidah generazi Z dari memori cita rasa kekayaan rempah Nusantara. Mereka melakukan upaya sistematis menyeragamkan indra pengecap untuk menciptakan pasar bagi produknya. Dalam hal ini, lidah punya tempat mendasar dalam nasionalisme.

Karena itu, Herawanti menggagas pertunjukan Spektakel Lidah Gen Z. Perhelatan ini akan menampilkan sejumlah kegiatan antara lain diskusi, lomba taman rempah, raba belai cium rempah, resep racik rempah, invitasi bertema rempah, akting, dan pertunjukan teater bertema rempah.

Acara ini mendapat dukungan dari Program Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan Kategori Pendayagunaan Ruang Publik dari Kementerian Kebudayaan. Pendanaannya memanfaatkan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan.

Herawanti menyebut, rempah-rempah Nusantara tidak sulit untuk disukai. Anak-anak gen Z langsung jatuh cinta pada makanan dan minuman rempah yang mempunyai cita rasa dan aroma yang unik dan nikmat. Rempah dengan mudah mengaktifkan memori dan jejak cita rasa rempah di lidah gen Z.

Spektakel Lidah Gen Z juga dikerjakan oleh anak-anak gen Z. Mereka menjadi panitia yang menyiapkan acara, perlombaan, dan berbagai hal lain. Mereka ikut mengambil peran memperkenalkan rempah lebih luas. Mereka antara lain membuat lomba “raba belai cium rempah”.

Peserta lomba hanya bisa menggunakan indra penciuman dan peraba untuk mengidentifikasi rempah. Siapa yang lebih dulu mengenali rempah akan mendapat poin. Sebelum lomba, para peserta harus melatih penciumannya untuk mengenali berbagai jenis aroma dan cita rasa rempah.

Baca JugaRempah Menjalin Keterhubungan Budaya Antarnegara ASEAN

Penampilan menarik lainnya adalah pertunjukan teater bertopik “Rental Lidah”. Pertunjukan ini menampilkan kisah orang-orang yang harus menyewa lidah untuk merasakan kenikmatan cita rasa. Pertunjukan ini diampu oleh seniman teater sekaligus Manajer Warkop Rempah Nusantara Agus Susilo.

“Kita seakan masih punya lidah, ternyata lidah kita sudah disetir, direnovasi, dan diseragamkan untuk merasakan rasa tertentu saja. Untuk mengembalikan khazanah lidah sejati, kita ternyata harus menyewa lidah,” kata Agus.

Shafiyah (19) menjadi salah seorang gen Z yang ikut menjadi panitia Spektakel Lidah Gen Z itu. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara itu sudah kadung jatuh cinta pada rempah. “Anak-anak gen Z juga bisa mencintai rempah,” katanya.

Shafiyah menolak jika gen Z hanya diidentikkan dengan modernitas dan selalu dianggap jauh dari tradisi Nusantara. Jika diperkenalkan melalui dunia yang akrab dengan gen Z, yakni media digital, anak-anak muda juga bisa mencintai tradisi-tradisi Nusantara.

Shafiyah dan teman-temannya kini menyukai berbagai jenis minuman rempah. Mereka akrab menyeduh dan menyeruput teh serai, bunga telang, jahe, kunyit, dan lain sebagainya.

“Gen Z juga pasti suka jika dilakukan promosi dengan visual estetik, romantisasi, dan normalisasi rempah. Gen Z paling suka tiga hal itu,” kata Shafiyah.

Beberapa pemengaruh di media sosial, kata Shafiyah, juga sukses mempromosikan tradisi Nusantara lain seperti luluran dan mandi kembang. Tradisi-tradisi Nusantara kini mulai disukai lagi oleh anak-anak muda dalam bentuk yang lebih baru.

Baca JugaRempah-rempah Membentuk Dunia Modern


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Makin Ramai, Ini Pilihan dan Harga Mobil Listrik Jepang di Indonesia
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
ICW Desak PT Agrinas Pangan Nusantara Buka Informasi Pengadaan Pikap untuk Koperasi Merah Putih
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Pohon Karet Tumbang Sempat Bikin Macet Jalan di Ciputat Tangsel
• 1 jam laludetik.com
thumb
Misteri Mutilasi di Pantai Ketewel Bali
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Chef Mualaf Asal Prancis Bagikan Takjil Gratis untuk Warga Bandung
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.