Indonesia Sesalkan Gagalnya Perundingan AS-Iran, Prabowo Siap Fasilitasi Dialog

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA— Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyatakan Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berdampak pada meningkatnya eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi sebagai jalan penyelesaian konflik.

“Indonesia kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai,” tulis Kemlu di laman X pada Sabtu (27/2/2026).

Kemlu menambahkan, Presiden Prabowo Subianto turut menyampaikan kesiapan Indonesia untuk memfasilitasi dialog demi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Apabila disetujui oleh kedua belah pihak, Presiden Indonesia juga bersedia bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.

Kemlu menilai peningkatan ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia. Sejalan dengan itu, pemerintah juga mengimbau warga negara Indonesia (WNI) di wilayah terdampak untuk tetap waspada.

“WNI di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat,” tulis Kemlu.

Baca Juga

  • Serangan Udara Israel ke Iran, OPEC+ Bakal Bahas Opsi Peningkatan Pasokan Minyak
  • Hancurkan Rudal Iran, Trump Umumkan Rencana Serangan
  • Respons Menkomdigi Soal Kekhawatiran Industri Terhadap PP Tunas

Sebelumnya, AS dan Iran menjalankan perundingan terkait program nuklir Iran di Jenewa, Swiss. Menteri Luar Negeri Oman yang bertindak sebagai mediator, Badr Albusaidi, membeberkan perkembangan pembicaraan tersebut.

Perundingan nuklir AS–Iran berlangsung pada Kamis (26/2/2026) dan dihadiri utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner, yang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.

Dilansir dari BBC, Badr menyebut pejabat AS dan Iran telah mencapai kemajuan signifikan dalam pembicaraan nuklir berisiko tinggi tersebut. Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan yang dapat mencegah perang masih belum jelas. 

Badr mengatakan kedua pihak berencana melanjutkan negosiasi setelah melakukan konsultasi di ibu kota masing-masing. Diskusi tingkat teknis dijadwalkan berlangsung pekan depan di Wina, Austria.

“Kami telah bertukar ide-ide kreatif dan positif di Jenewa dan sekarang para negosiator AS dan Iran telah menunda pertemuan untuk istirahat. Kami akan melanjutkannya nanti. Kami berharap dapat mencapai kemajuan lebih lanjut,” kata Badr dalam unggahannya di X seperti dilansir BBC pada Jumat (27/2/2026).

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyampaikan bahwa terdapat kemajuan yang baik dalam negosiasi dengan AS, meskipun perbedaan pandangan masih ada di sejumlah isu.

Dia menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai salah satu putaran negosiasi paling intens dan terpanjang yang pernah dijalani Iran. Menurutnya, kedua negara telah mulai membahas unsur-unsur kesepakatan.

Di sisi lain, Trump sebelumnya telah memberikan ultimatum kepada Iran untuk mencapai kesepakatan dalam waktu 10 hingga 15 hari. Jika gagal, Teheran terancam menghadapi serangan militer lanjutan di tengah proses negosiasi yang masih berjalan.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington, D.C., pada 19 Februari 2026.

Trump menegaskan kembali klaimnya bahwa serangan gabungan Israel dan AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu membuka jalan bagi gencatan senjata di Gaza. Menurutnya, tanpa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, ancaman dari Teheran akan menghambat upaya perdamaian di Timur Tengah.

“Jadi sekarang kami mungkin harus melangkah lebih jauh, atau mungkin tidak. Mungkin kami akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan,” ujar Trump, dikutip dari Al Jazeera.

Trump juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi yang sangat traumatis apabila gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklirnya. Seiring dengan itu, AS dilaporkan telah mengerahkan ancang-ancang kekuatan militernya di kawasan Timur Tengah.

Namun, pejabat Iran menunjukkan sikap menantang terhadap ancaman tersebut. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, menulis di platform X bahwa kapal perang AS merupakan perangkat militer berbahaya.

“Namun, yang lebih berbahaya dari kapal perang itu adalah senjata yang dapat mengirimkannya ke dasar laut,” tulisnya.

Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat sejak akhir 2025. Saat menerima Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Desember lalu, Trump berjanji akan kembali menyerang Iran jika negara tersebut berupaya membangun kembali program nuklir atau rudalnya.

Beberapa hari setelah pernyataan itu, aksi protes antarpemerintah meletus di Iran, dan Trump secara terbuka mendorong demonstran untuk mengambil alih institusi negara.

Pada 2018, dalam masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan nuklir multilateral yang sebelumnya membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pencabutan sanksi internasional.

Meski perundingan terbaru kembali digelar, retorika ancaman dan sikap saling serang antara Washington dan Teheran masih berlanjut di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemprov Jatim Buka 54 Posko THR 2026, Layani Aduan Pekerja hingga 17 Maret
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Jadwal Imsak dan Buka Puasa 28 Februari 2026 di Jakarta dan Sekitarnya
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
KPK Soroti Mobil Dinas Rp 8,5 M Gubernur Kaltim, Ingatkan Risiko Korupsi Pengadaan
• 6 jam lalusuara.com
thumb
Pramono Sebut akan Ada Pawai Ogoh-ogoh di Bundaran HI Saat Nyepi
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Video: Arab Larang Impor Unggas dan Telur - Paramount "Gebuki" Netflix
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.