KAWASAN Timur Tengah berada di ambang perang besar setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara masif ke jantung pertahanan Iran, Sabtu (28/2).
Operasi militer yang menargetkan infrastruktur rudal hingga kediaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tersebut langsung memicu balasan dari Teheran.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menghujani pangkalan militer AS di negara-negara Teluk dan wilayah Israel dengan rentetan rudal balistik, yang memaksa penutupan ruang udara secara total di wilayah tersebut.
Baca juga : Tujuh Roket Israel Gempur Sekitar Kediaman Khamenei dan Istana Presiden Iran
Asap tebal tampak membumbung tinggi di distrik Pasteur, Teheran, lokasi kediaman Khamenei, di tengah pengamanan super ketat yang melumpuhkan ibu kota Iran.
Lembaga penyiaran publik Israel, Kan, melaporkan bahwa Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian menjadi target utama dalam operasi ini.
Meski demikian, televisi pemerintah Iran mengeklaim Pezeshkian dalam kondisi "aman dan selamat", walaupun beberapa ledakan terkonfirmasi menghantam distrik Keshvardoost dan Pasteur.
Baca juga : Tak Bisa Lawan AS-Israel, Iran Minta Negara-Negara Arab tak Fasilitasi Serangan Serdadu Trump-Netanyahu
Presiden AS Donald Trump, menyatakan bahwa tujuan Washington ialah "melenyapkan ancaman mendesak" dan menghancurkan industri rudal Iran hingga rata dengan tanah.
"Kami akan menghancurkan rudal mereka dan menyapu bersih industri militer mereka. Angkatan laut mereka akan kami musnahkan," tegas Trump dikutip dari AFP.
Ia pun menjanjikan "imunitas" bagi pasukan Iran yang menyerah, sembari menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan saat ini.
Senada dengan sekutunya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut operasi militer ini sebagai langkah untuk menghapus "ancaman eksistensial" terhadap negaranya.
Militer Israel memperingatkan warga sipil Iran untuk menjauh dari infrastruktur militer karena serangan udara akan dilakukan secara luas ke berbagai titik strategis.
Reaksi Teheran tak kalah sengit. IRGC mengumumkan telah meluncurkan gelombang serangan yang menyasar markas Armada Kelima AS di Bahrain, serta pangkalan militer Amerika di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA).
Ledakan-ledakan dilaporkan terdengar di langit Yerusalem, Doha, Manama, hingga Amman, saat sistem pertahanan udara negara-negara tersebut bekerja keras mencegat proyektil yang datang.
Di Qatar, kementerian pertahanan setempat menyatakan telah menghalau sejumlah serangan yang mengarah ke pangkalan udara Al-Udeid, fasilitas militer terbesar AS di kawasan tersebut.
Eskalasi ini memicu kekacauan transportasi udara global. Iran, Irak, Kuwait, Suriah, UEA, dan Israel segera menutup wilayah udara mereka untuk penerbangan sipil, yang berujung pada pembatalan massal rute penerbangan internasional.
Di tengah kecamuk perang, putra mahkota Iran yang diasingkan, Reza Pahlavi, muncul melalui pesan video dari Washington dan menyatakan bahwa "kemenangan akhir" untuk mengambil alih Iran sudah sangat dekat.
Kementerian Kesehatan Iran melaporkan telah mengerahkan armada ambulans ke pusat kota Teheran, meski hingga kini jumlah korban jiwa maupun luka-luka akibat gempuran tersebut belum dapat dipastikan secara resmi. (Ndf)





