Liputan6.com, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak para influencer, content creator, serta insan media lokal untuk berperan aktif membangun ekosistem ruang digital yang sehat, edukatif, dan produktif melalui konten yang positif serta bertanggung jawab.
Ajakan tersebut disampaikan Ibas dalam agenda audiensi bersama influencer daerah pemilihan Jawa Timur VII dalam rangkaian Reses Ramadan Religi, Menguatkan Negeri bertema Membangun Konten Positif dan Kolaboratif, yang diikuti ratusan kreator digital muda dari Ponorogo, Ngawi, Madiun, Magetan, dan wilayah sekitarnya.
Advertisement
Dalam sambutannya, Ibas menegaskan bahwa perjuangan generasi masa kini tidak lagi terbatas pada ruang formal seperti parlemen maupun forum diskusi publik, tetapi juga berlangsung aktif di ruang digital.
“Hari ini panggung perjuangan tidak hanya ada di parlemen atau mimbar, tetapi juga di media sosial. Setiap postingan, video, maupun narasi yang kita buat bisa menggerakkan, menginspirasi, bahkan menyatukan masyarakat. Namun satu informasi yang tidak benar juga dapat memecah belah bangsa,” ujarnya dalam keterangan diterima, Sabtu (28/2).
Menurutnya, momentum Ramadan menjadi pengingat bahwa tanggung jawab moral juga berlaku dalam aktivitas digital sehari-hari.
“Di bulan Ramadan kita belajar menahan diri, termasuk menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang menyakitkan, provokatif, ataupun menyesatkan. Konten adalah tanggung jawab moral. Apa yang kita tulis hari ini bisa menentukan arah bangsa ke depan,” lanjut Ibas.
Dalam forum dialog interaktif usai buka puasa bersama, Ibas secara khusus membuka ruang aspirasi bagi para kreator muda. Farid, content creator asal Ponorogo, menyampaikan pertanyaan mengenai bagaimana kreator dapat memberikan kritik maupun apresiasi terhadap pembangunan tanpa dianggap melampaui batas atau merasa takut dalam berkarya.
Menanggapi hal tersebut, Ibas menegaskan bahwa kebebasan berekspresi tetap harus berjalan seiring dengan nilai, etika, dan tanggung jawab publik.
“Memang isu yang kontroversial sering menarik perhatian. Tetapi kita harus kembali pada value yang kita pegang. Informasi harus berdasarkan fresh, fact, and right. Aktual, berbasis fakta, dan sesuai kebenaran,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi dan justru dibutuhkan dalam proses pembangunan nasional.
“Membuat konten dengan narasi membangun bukan berarti tidak boleh mengkritik. Kritik justru bisa membawa perubahan selama disampaikan dengan etika, data, dan niat yang baik. Jika tidak bersuara, ketidakbenaran justru bisa semakin berkembang,” tegas Ibas.
Pertanyaan lain disampaikan oleh Fahrulza yang menyoroti peran paling penting content creator lokal dalam memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurut Ibas, kekuatan terbesar kreator digital terletak pada kemampuannya memperkenalkan potensi daerah kepada publik yang lebih luas.
“Dampak besar bisa dimulai dari hal sederhana, yaitu menjadi media yang mengekspose potensi daerah. Ketika kalian memperkenalkan wisata, budaya, atau produk lokal, bukan hanya daerah menjadi dikenal, tetapi ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.



