Krisis Ketajaman PSM Makassar Memperparah Ancaman Degradasi di Tengah Proyek Stadion Baru

harianfajar
11 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — PSM Makassar kini menghadapi situasi yang sangat genting: meski proyek pembangunan Stadion Untia di Makassar tengah berjalan pesat sebagai simbol masa depan cerah klub, performa tim di lapangan justru menunjukkan tanda-tanda krisis ketajaman yang mengancam posisi mereka di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

PSM Makassar Berjuang Mematahkan Kutukan Kekalahan Tipis

Rabu malam, 25 Februari 2026, di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, PSM kembali menelan kekalahan tipis 0-1 dari Persebaya Surabaya. Pelatih Tomas Trucha mengungkapkan rasa frustrasinya setelah pertandingan itu.

“Kami selalu kalah tipis. Ini sangat menyakitkan,” katanya dengan nada letih saat konferensi pers usai laga.

Meski statistik menunjukkan PSM mampu menciptakan 40 kali peluang masuk ke kotak penalti lawan dan melepaskan 12 tembakan, ketajaman dalam menyelesaikan peluang masih menjadi pekerjaan rumah terbesar. Tomas menegaskan, “Kami harus menciptakan peluang bersih dan menyelesaikannya menjadi gol.” Namun, hal ini menjadi tantangan paling sulit bagi tim berjuluk Juku Eja.

Masalah Ketajaman dan Energi yang Hilang

Pemain PSM, Luka Cumic, mengakui bahwa timnya sering kehilangan energi pada babak pertama, baru menunjukkan permainan hidup setelah tertinggal. “Kami baru bereaksi ketika keadaan sudah terlambat,” bebernya, menyoroti masalah konsistensi yang menjadi bagian dari musim ini.

Dalam sepuluh pertandingan terakhir, PSM hanya meraih satu kemenangan, sebuah alarm serius yang menggambarkan krisis yang tidak terlihat pada statistik kebobolan, melainkan pada detail kecil seperti keputusan akhir dan sentuhan terakhir yang terlambat.

Manajemen Berupaya Memperkuat Tim, Namun Hasil Belum Muncul

Manajemen PSM telah mendatangkan tambahan pemain untuk memperdalam skuad dan memberi variasi taktik. Struktur tim yang lebih seimbang secara teori belum mampu menghasilkan konsistensi di lapangan. Setiap pertandingan terasa seperti perjuangan mematahkan kutukan bermain cukup baik namun gagal menang.

Kondisi ini membuat ancaman degradasi yang dulu dianggap mustahil kini menjadi perbincangan nyata di kalangan suporter. Waktu terus berjalan dan posisi PSM di klasemen semakin terancam.

Ironi Proyek Stadion Baru dan Masa Kini yang Suram

Sementara performa tim menurun, Pemerintah Kota Makassar justru mempercepat pembangunan Stadion Untia yang diproyeksikan menjadi markas masa depan PSM. Sejak dilantik pada Februari 2025, Wali Kota Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham menjadikan pembangunan infrastruktur strategis sebagai prioritas utama.

Pengamanan aset lahan di kawasan Untia, Kecamatan Biringkanaya, telah dilakukan dengan menyertifikatkan 19 bidang tanah sepanjang 2025, dengan total luas 7,7 hektare dan nilai aset lebih dari Rp111 miliar. Secara keseluruhan, kawasan yang disiapkan mencapai sekitar 23 hektare, cukup untuk kompleks stadion modern berstandar masa depan.

Namun, stadion megah tidak otomatis menyelamatkan tim yang kehilangan identitas permainan. PSM saat ini terlihat seperti tim yang masih mencari dirinya sendiri. Mereka tidak buruk, tetapi juga tidak cukup tajam untuk menang. Kondisi ini lebih berbahaya karena masalahnya tidak jelas terlihat, sehingga solusi pun menjadi kabur.

Waktu Terbatas untuk Bangkit

Liga tidak menunggu proses refleksi terlalu lama. Setiap pekan membawa konsekuensi baru dan setiap kekalahan memperpendek jarak menuju zona degradasi. Tomas Trucha mencoba menjaga optimisme dengan mengatakan selalu ada pertandingan berikutnya.

“Selalu ada pertandingan berikutnya,” jelasnya. Namun realitas kompetisi menunjukkan bahwa kesempatan untuk memperbaiki keadaan semakin terbatas.

PSM kini berada di persimpangan yang menentukan: di satu sisi, mimpi stadion baru sedang dibangun batu demi batu; di sisi lain, tim harus memastikan mereka tetap berada di liga tertinggi saat stadion itu benar-benar berdiri.

Jika tren ini tidak berubah, sejarah bisa mencatat ironi terbesar PSM Makassar: memiliki masa depan yang megah, tetapi kehilangan masa kini. Sepak bola, seperti hidup, selalu lebih kejam kepada mereka yang terlambat bangkit.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Lancarkan Serangan Balasan, Iran Bidik Markas Komando AS di Bahrain | SAPA MALAM
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
MIND ID Dukung Kebijakan Energi, Wujudkan Swasembada Nasional
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Jelang Lebaran 2026, BNI Siapkan Uang Tunai Rp23,97 Triliun
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Foto: Jalur Alternatif Ungaran-Mranggen Lumpuh Akibat Longsor
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Karel Mainaky Pastikan Kondisi Pemain Indonesia Siap Tampil Maksimal di All England 2026
• 14 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.