jpnn.com - Direktur Eksekutif Timur Barat Research Center (TBRC) Zaenal Abidin menyampaikan bahwa hasil survei lembaganya tentang setahun program MBG Presiden Prabowo, memperlihatkan tingginya dukungan masyarakat.
Zaenal menjelaskan dari hasil temuan survei didapati sebanyak 79,4% responden sangat mengetahui adanya program MBG untuk anak-anak sekolah dan 12,2% tahu, 3,1% tidak tahu, dan 5,3% tidak menjawab.
BACA JUGA: Ketua Umum LOGIS 08 Minta Presiden Prabowo Selamatkan Program MBG Melalui Perbaikan Tata Kelola
"Temuan survei menyatakan sebanyak 82,2% responden sangat puas dengan program MBG untuk anak anak mereka dan 12,6 tidak puas, 5,2% tidak menjawab," kata Zaenal, dikutip dari siaran persnya, Sabtu (28/2/2026).
Kemudian, survei juga mendapati 74,6% responden tidak tahu dan tidak melihat menu dan jenis makanan yang diberikan untuk program MBG pada anak anak mereka, sebanyak 3,7% responden kurang tahu, sedangkan 16,3% tahu dan melihat, dan 5,4 tidak menjawab.
BACA JUGA: Kenaikan Insentif dan Tunjangan Guru Honorer Bukti MBG Tak Mengganggu Anggaran Pendidikan
Pengaruh program MBG pada ekonomi rumah tangga masyarakat, hasil survei menunjukan 84,3% program MBG di sekolah memengaruhi secara positif pada ekonomi rumah tangga responden dan sebanyak 11,3% menyatakan biasa saja, dan 4,4% tidak menjawab.
Dari temuan survei didapati bahwa 64,3% responden menyatakan akibat program MBG, pengeluaran rumah tangga mereka setiap bulan menurun hingga 10-20 % dari pengeluaran RT, sebanyak 31,4% responden pengeluaran rumah tangga tiap bulan menurun 5-10 %, dan 4,3% responden tidak menjawab.
BACA JUGA: Polemik Anggaran MBG dan Pendidikan, Ketua Banggar cum Politikus PDIP Ini Buka-bukaan
Terkait mutu dan kualitas makanan yang disajikan dalam program MBG kepada siswa di sekolah, sebanyak 60,2% persen responden menyatakan harus diperbaiki dan ditingkatkan mutu dan kualitasnya.
"Sebanyak 30,7% menyatakan cukup bermutu dan berkualitas untuk gizi anak, dan 9,1% tidak menjawab," ujar Zaenal.
Selanjutnya, sebanyak 85,7% responden menyatakan pemilihan dan penyediaan makanan dan mutu serta kualitas MBG harus melibatkan para guru dan orang tua murid, sebanyak 7,1% responden menyatakan tidak perlu, dan 7,2 % tidak menjawab.
Survei TBRC juga terkait keikutsertaan Polri dan TNI dalam menyukseskan program MBG dengan membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Temuan survei menyatakan sebanyak 88,7% responden setuju dan mendukung dan sebanyak 7,2% responden tidak setuju dan tidak mendukung, dan 4,1% tidak menjawab," ucapnya.
Disebutkan juga bahwa sebanyak 90,1 responden menyatakan mutu dan kualitas makanan MBG dari SPPG Polri dan TNI sangat baik dan sebanyak 5,1% menilai biasa saja, sedangkan 4,8% tidak menjawab.
"Terkait dukungan masyarakat pada program MBG, sebanyak 89,7% mendukung untuk di lanjutkan, 6,1 persen meminta tidak boleh dihentikan, sebanyak 4,2% tidak menjawab,' kata Zaenal.
Kemudian, temuan survei mencatat 90,4% responden menyatakan program MBG harus dimasukan dalam program pendidikan, sebanyak 4,4% responden menilai tidak perlu, dan 5,2% tidak menjawab.
"Dari temuan survey bahwa program MBG makan bergizi gratis bukan sekadar program makan gratis, melainkan sebuah strategi ekonomi dan juga kebijakan pembangunan manusia dan MBG menjadi instrumen strategis pertumbuhan ekonomi nasional," ucap Zaenal.
Dia menyebut ketika produktivitas naik, maka pendapatan masyarakat meningkat. Saat pendapatan meningkat, konsumsi ikut terdorong dan ketika konsumsi menguat maka roda ekonomi bergerak lebih cepat.
"MBG merupakan investasi pada kualitas sumber daya manusia, pada kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas generasi mendatang,' ucapnya.
Zaenal menambahkan gizi yang cukup pada usia sekolah terbukti meningkatkan konsentrasi belajar, memperbaiki kehadiran di kelas, dan memperkuat perkembangan kognitif.
"Dalam jangka panjang, efek tersebut bermuara pada peningkatan produktivitas tenaga kerja," kata Zaenal Abidin.
Survei TBRC digelar pada 11-21 Februari 2026 di 458 Kabupaten Kota di Indonesia, dengan jumlah responden sebanyak 1.802 orang yang tersebar secara proporsional.
Responden terpilih merupakan warga negara Indonesia dari orang tua murid-murid sekolah penerima program MBG. Sesuai data Badan Gizi Nasional ada 59,86 juta penerima MBG di awal 2026.
Teknik pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Data survei diambil secara tatap muka dengan wawancara langsung pakai kuesioner terstruktur.
Survei ini memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error lebih kurang 2,31%.(fat/jpnn)
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




