Ancaman penutupan Selat Hormuz di tengah Amerika Serikat atau AS dan Israel menyerang Iran menjadi salah satu berita populer di kumparanBisnis sepanjang Sabtu (28/2).
Selain itu, kabar mengenai OPEC+ yang berniat menambah pasokan minyak mentah juga tidak kalah menyita perhatian publik.
Berikut ini rangkuman selengkapnya:
Ancaman Penutupan Selat Hormuz di Tengah Memanasnya Israel-AS Serang IranSelat Hormuz dikenal sebagai jalur vital pengiriman minyak dunia. Selat itu yang selama ini kerap dimanfaatkan Iran sebagai instrumen tekanan geopolitik, dengan ancaman penutupan yang berulang kali disampaikan setiap ketegangan memuncak.
Ketegangan terbaru meningkat usai Amerika Serikat (AS) bersama Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2), yang terjadi hanya dua hari setelah delegasi Teheran dan Washington bertemu di Swiss untuk menjalani putaran ketiga perundingan mengenai aktivitas nuklir Iran.
Pada akhir Januari, komandan senior angkatan laut Garda Revolusi Iran kembali mengancam penutupan selat tersebut jika terjadi serangan, setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan aksi militer apabila Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengekang program nuklirnya.
Meski sering mengeluarkan ancaman blokade, Teheran belum pernah benar-benar melakukannya, walaupun sempat menutup sebagian selat untuk sementara waktu dengan alasan keselamatan selama latihan militer baru-baru ini.
OPEC+ Bakal Tambah Pasokan Minyak Mentah Usai Israel-AS Serang IranOPEC+ mempertimbangkan opsi peningkatan pasokan minyak mentah usai serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Dikutip dari Bloomberg, beberapa delegasi menyatakan bahwa kelompok negara pengekspor minyak bumi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia itu diperkirakan melanjutkan peningkatan produksi mulai April 2026 setelah pembekuan pasokan selama tiga bulan.
Pada kuartal IV 2025 lalu, OPEC+ telah menambahkan peningkatan produksi minyak mentah bulanan sebesar 137.000 barel per hari.
Harga minyak mentah naik ke level tertinggi selama tujuh bulan sebesar USD 73 per barel pada Jumat (27/2), karena kekhawatiran atas potensi serangan mengimbangi tanda-tanda kelebihan pasokan global.
Dalam beberapa hari terakhir, Riyadh dan beberapa produsen lainnya, termasuk Iran, mempercepat ekspor minyak. Arab Saudi, pemimpin OPEC, meningkatkan pasokan tahun lalu untuk sementara di tengah pemboman fasilitas nuklir Iran oleh AS.





