Penulis: Fityan
TVRINews - Teheran
Presiden AS Sebut Serangan Udara ke Teheran sebagai Momentum Perubahan bagi Rakyat Iran
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangkaian serangan udara terkoordinasi yang diluncurkan oleh pasukan AS dan Israel di Teheran, Sabtu 28 Februari 2026.
Melalui pernyataan resmi di media sosial, Presiden Trump menyebut peristiwa ini sebagai bentuk "keadilan" bagi rakyat Iran, warga Amerika, serta masyarakat dunia.
Kutipan Medsos Trump (Foto: X Donald Trump)
Ia menegaskan bahwa operasi militer tersebut bertujuan memberikan kesempatan bagi bangsa Iran untuk menentukan masa depan negara mereka sendiri.
"Ini adalah kesempatan tunggal terbesar bagi rakyat Iran untuk mengambil kembali negara mereka," tulis Trump.
Ia juga menambahkan bahwa banyak elemen militer Iran saat ini mulai enggan untuk melanjutkan perlawanan.
Bukti Satelit dan Skala Kerusakan
Hingga saat ini, Teheran belum memberikan konfirmasi resmi mengenai status Ali Khamenei.
Namun, sejumlah citra satelit yang dirilis menunjukkan kerusakan signifikan pada kompleks kediaman sang Pemimpin Tertinggi di ibu kota.
Puing-puing bangunan yang tersisa pascaserangan Israel-AS di Teheran, Iran, (Foto: BBC News)
Dalam laporan awal, militer Israel menyatakan telah mengidentifikasi tujuh pejabat tinggi Iran yang tewas dalam operasi tersebut, meski pada awalnya nama Khamenei tidak termasuk dalam daftar yang dipublikasikan secara terbuka.
Puing-puing bangunan yang tersisa pascaserangan Israel-AS di Teheran, Iran (Foto: AP News)
Eskalasi Regional
Sebagai balasan atas serangan tersebut, Teheran meluncurkan serangan rudal ke berbagai titik di Timur Tengah.
Laporan ledakan muncul dari Dubai, Doha, Bahrain, dan Kuwait wilayah yang menampung pangkalan militer AS atau merupakan sekutu utama Washington.
Berdasarkan data dari Bulan Sabit Merah, lebih dari 200 orang dilaporkan tewas di seluruh wilayah Iran akibat gempuran udara tersebut.
Media lokal Iran juga melaporkan sebuah serangan udara mengenai sebuah sekolah perempuan yang menewaskan sedikitnya 85 orang.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di kawasan Teluk tetap dalam status siaga tinggi.
Gedung Putih menyatakan bahwa operasi udara akan terus berlanjut guna memastikan stabilitas dan keamanan global dari ancaman rezim yang dianggap berbahaya kutip BBC News.
Editor: Redaktur TVRINews





