Ridwan al-MakassaryDosen Jurusan Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Direktur Center of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII
PADA suatu Sabtu pagi di pungkasan Februari 2026, dunia terkejut menyaksikan serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke negara Iran. Sirene meraung di Yerusalem, pesawat tanker pengisian bahan bakar mendarat di Ben Gurion, dan jet F-22 menghiasi landasan Ovda.
Selanjutnya, dentuman bom mengguncang Teheran dan sejumlah kota di Iran. Israel, dengan dukungan penuh AS, telah dan sedang melancarkan serangan yang mereka sebut sebagai "serangan pre-emptif" (pencegahan). Serangan tersebut tak ayal melukai warga sipil dan menciptakan atmosfer ketakutan baru di sebuah kawasan yang sudah lama tidak mengenal damai yang sejati.
Dewasa ini, kita hidup di masa ketika rempah perang acap dibumbui dengan alasan “pencegahan” dan “legitimasi keamanan”. Namun, kata-kata besar itu gagal menutupi satu kebenaran sederhana, yaitu perang ini bukan hanya tentang pengetahuan nuklir dan program misil, melainkan kegagalan membangun tatanan dunia yang sanggup menengahi perselisihan dengan cara yang lebih manusiawi.
Bagi kita yang menyaksikan perang tersebut dari Indonesia, perang ini bukanlah telenovela jauh tanpa relevansi. Ini adalah pelajaran mahal tentang bagaimana arogansi kekuasaan dan kegagalan diplomasi bisa membakar kawasan yang sudah sekian lama menjadi bar mesiu dunia. Sejarah mewartakan ini bukan pertama kali serangan melintasi batas wilayah Iran. Konflik antara Israel dan Iran pernah mencapai puncaknya dalam gelombang bom dan balasan yang intens pada Juni 2025, yang mengakibatkan puluhan ribu korban dan kerusakan luas.
Konflik tersebut, sebagai sebuah episode yang kemudian dihentikan sementara oleh gencatan senjata yang rapuh. Namun, gencatan senjata itu tidak mengobati luka yang lebih dalam, yaitu ketiadaan kepercayaan yang nyata antar pihak.
Paradoks paling mencengangkan dari serangan ini adalah soal moralitas nuklir. Israel dan AS menggempur Iran dengan alasan mencegah proliferasi nuklir. Mereka khawatir Tehran memiliki bom.
Pertanyaannya, sejak kapan senjata pemusnah massal menjadi alat ukur moral yang elastis? Israel diyakini memiliki puluhan hulu ledak nuklir, namun tidak pernah digempur karena dianggap "stabilisator". AS memiliki ribuan, dan itu dianggap "pelindung perdamaian dunia".
Iran yang belum memilikinya, justru dibom agar tidak memilikinya. Sebaliknya, sudut pandang Teheran menyatakan bahwa serangan Israel dan Amerika Serikat dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan dan agresi yang memaksa. Pemerintah Iran bahkan telah memperingatkan akan memberikan respons tegas tanpa “garis merah” terhadap apa yang dianggapnya tindakan permusuhan yang tak dapat ditawar lagi. Israel lebih memilih jalur realisme tinimbang liberalisme.Terhadap fakta sosial ini, Noam Chomsky menyebut Amerika Serikat dan Israel menggunakan standar ganda yang sistematis. Jika nuklir adalah ancaman eksistensial, maka ia adalah ancaman bagi semua.
Jika deterensi adalah hak, maka ia adalah hak semua negara. Ia bukan monopoli mereka yang kebetulan menang dalam lotre sejarah kolonialisme. Membom Iran untuk mencegah nuklir, sambil memeluk erat negara yang memiliki nuklir di kawasan yang sama, adalah kemunafikan yang hanya bisa diloloskan oleh logika "kita boleh, kamu tidak boleh".
Serangan ke Iran menunjukkan bahwa serangan ini tidak akan pernah terjadi tanpa keterlibatan langsung Washington. Menariknya, para ahli mencatat bahwa Israel sebenarnya tidak sepenuhnya siap untuk perang terbuka skala penuh. Stok pertahanan rudal mereka menipis paska perang 12 hari dengan Iran tahun lalu.
Lalu mengapa mereka memaksa? Karena ada perhitungan sederhana dari Gedung Putih, di mana membiarkan Israel memukul duluan dan ketika Iran membalas, AS bisa masuk dengan narasi "membela sekutu yang diserang".
Ini adalah skenario klasik "let Israel strike first" yang dihembuskan untuk mengatasi keengganan publik Amerika terlibat perang baru di Timur Tengah. Dengan kata lain, darah yang tumpah di Teheran dan mungkin nanti di Teluk, adalah harga yang harus dibayar untuk mengakali opini publik di negeri Paman Sam. Ini bukan tentang keamanan; ini tentang mempertahankan hegemoni yang haus akan legitimasi.Serangan militer hanya akan mengukuhkan posisi garis keras di Teheran. Para teknokrat dan diplomat yang selama ini berjuang untuk negosiasi akan kehilangan muka. Rakyat yang mungkin selama ini kritis terhadap rezim, akan tergerak oleh sentimen patriotisme ketika tanah airnya diinjak-injak asing. Bom tidak pernah menyembuhkan luka; ia hanya menciptakan luka baru yang siap bernanah untuk generasi mendatang.
Hal yang kita takutkan adalah bagaimana dunia internasional acap membiarkan konflik semacam ini terus melaju tanpa ada arsitektur perdamaian yang benar-benar efektif. Kita memiliki Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), badan badan multilateral, dan berbagai forum diplomasi, termasuk Badan Perdamaian (Board of Peace/BOP), yang baru dibentuk Trump, namun, senjata sudah disiapkan berperang, bahasa diplomasi tampak seperti panggung formalitas belaka. Kekerasan terus berulang karena logika dominasi masih dianggap lebih unggul daripada logika kompromi.
Kita jangan melupakan skenario kemanusiaan yang menganga. Jika konflik meluas, AS dan Israel mungkin akan fokus pada fasilitas nuklir. Namun, rudal balistik Iran tidak mengenal zona aman. Lebih dari 13.000 warga Israel mengungsi dalam perang Juni lalu.
Di pihak Iran, warga sipil di Teheran, Isfahan, dan kota-kota lain hidup dalam cengkeraman ketakutan. Dan ketika perang pecah, satu-satunya yang diuntungkan adalah para pedagang senjata.
Sementara itu, Houthi di Yaman, Hezbollah di Lebanon, dan milisi di Irak bisa tergerak untuk membuka front baru. Ini bukan lagi perang Israel vs Iran; ini adalah api yang siap membakar seluruh kawasan.Di era globalisasi, perang di Teluk tidak akan berhenti di Teluk. Dua puluh persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Begitu Selat ini ditutup atau menjadi medan perang, harga minyak akan meroket. Inflasi akan mengguncang Eropa, Asia, dan Afrika.
Negara berkembang, termasuk Indonesia, akan merasakan dampaknya melalui harga BBM dan gejolak nilai tukar. Belum lagi gelombang migrasi dan pengungsi yang akan terjadi menjadi masalah kemanusiaan.
Pungkasannya, Israel dan AS hari ini memilih jalan yang acap mereka tempuh, yaitu jalan bom dan rudal. Dan seperti biasa, jalan tersebut tidak pernah membawa perdamaian. Yang dihasilkan hanyalah siklus dendam yang tak berkesudahan, dan juga matinya warga sipil dan kehancuran peradaban.
Original Article




