BBWSCC: Hilangnya Situ Jadi Penyebab Banjir Jabodetabek Semakin Parah

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) menyatakan, hilangnya situ atau danau akibat alih fungsi lahan menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang (Jabodetabek).

"Betul, salah satu penyebab banjir adalah adanya alih fungsi lahan (situ atau danau)," ungkap Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane David Partonggo Oloan Marpaung dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Minggu (1/3/2026).

Berdasarkan data Water Resources Data Center (WRDC), dari ribuan situ yang sebelumnya tercatat, kini hanya terdapat 187 situ yang berada dalam pengelolaan BBWS Ciliwung Cisadane.

Baca juga: Situ Pengendali Banjir di Jabodetabek Menyusut, dari Ribuan Kini Tersisa 185

Namun, dari jumlah tersebut, 18 situ telah beralih fungsi sehingga yang tersisa tinggal 169 situ.

"Sementara wilayah DKI Jakarta situ yang dikelola Pemerintah Daerah sebanyak 16 Situ, sehingga total situ yang masih ada di wilayah kerja kami 185," tutur David.

David menyayangkan penyusutan jumlah situ di Jabodetabek yang terjadi secara bertahap setiap tahun.

Fungsi vital yang hilang

Menurut David, banyak lahan situ di Jabodetabek yang berubah menjadi kawasan terbangun, sehingga tidak lagi mampu menampung dan menyerap air secara optimal. Padahal, keberadaan situ memiliki dua fungsi vital.

Pertama, sebagai kawasan konservasi air. Situ berperan menyimpan air, membantu proses peresapan, serta menjaga cadangan air tanah untuk jangka panjang.

Kedua, sebagai pengendali banjir alami. Situ berfungsi menahan air hujan sementara waktu agar tidak langsung mengalir ke sungai atau melimpas ke permukiman warga.

Baca juga: BRIN: Kolong Tol dan Flyover Bisa Disulap Jadi Situ Pengendali Banjir

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Dengan berkurangnya daya tampung situ, air hujan yang turun dalam intensitas tinggi langsung mengalir ke sungai dan kawasan permukiman. Kondisi ini menyebabkan peningkatan debit air secara cepat dan memperbesar risiko banjir di wilayah hilir.

Tak heran jika dalam beberapa waktu terakhir banjir di Jabodetabek dinilai semakin parah, terutama saat hujan deras terjadi dalam waktu singkat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cadangan Uranium Iran Cukup untuk Buat Sekitar Selusin Bom Nuklir
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Adu Skill MLBB pada Hari Keempat JConnect Ramadan Vaganza 2026
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
RS Paru Jember Buka Rekrutmen Pegawai BLUD 2026, Cek 9 Formasi yang Tersedia
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Perayaan Harmoni Imlek Nusantara kumpulkan donasi sebesar Rp116 M
• 17 jam laluantaranews.com
thumb
Update Korban Serangan Israel-AS ke Iran: 40 Siswi Tewas
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.