Jakarta, CNBC Indonesia - Memasuki pekan pertama bulan Maret 2026, pelaku pasar dan investor akan dihadapkan pada jadwal rilis data makroekonomi yang padat, baik dari bursa domestik maupun global.
Data-data yang dijadwalkan rilis pada pekan ini memiliki peran krusial sebagai leading indicator untuk menilai arah kebijakan moneter bank sentral, prospek pertumbuhan ekonomi, serta pergerakan arus modal lintas batas.
Perhatian utama akan tertuju pada rilis indikator ketenagakerjaan dari Amerika Serikat, evaluasi aktivitas manufaktur di negara-negara ekonomi utama, serta rilis tingkat inflasi dan stabilitas eksternal dari dalam negeri.
Rilis Data Inflasi Februari 2026
Pada awal pekan, Badan Pusat Statistik (BPS) akan merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) untuk periode Februari 2026. Sebagai kilas balik, laju inflasi tahunan pada Januari 2026 mengalami akselerasi menjadi 3,55%, naik dari posisi Desember yang berada di level 2,92%. Angka tersebut merupakan titik tertinggi sejak Mei 2023 dan telah menembus batas atas rentang sasaran Bank Indonesia yang berada di level 1,5%-3,5%.
Kenaikan signifikan pada bulan Januari utamanya didorong oleh anomali pada sektor perumahan, yang mencatat inflasi sebesar 11,93% secara tahunan berbanding 1,62% di bulan Desember.
Lonjakan ini lebih banyak disebabkan oleh low base effect (efek basis yang rendah) akibat diskon tarif listrik yang diberikan pada awal tahun 2025, bukan semata-mata karena lonjakan permintaan riil.
Meskipun demikian, tekanan harga juga masih persisten pada kelompok makanan (1,54%), kesehatan (1,62%), dan restoran (1,36%). Sementara itu, inflasi inti yang mencerminkan daya beli masyarakat naik ke 2,45%, tertinggi dalam sembilan bulan terakhir.
Untuk data rilis Februari ini, pelaku pasar akan mencermati apakah inflasi dapat kembali melandai ke dalam target Bank Indonesia, atau justru terbentuk tren harga tinggi yang permanen, yang dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter ke depannya.
Neraca Perdagangan Januari 2026
Kinerja perdagangan internasional Indonesia akan kembali menjadi sorotan. Pada penutupan tahun 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD 2,52 miliar, melampaui estimasi konsensus yang berada di angka USD 2,45 miliar.
Capaian ini diiringi oleh lonjakan performa ekspor yang tumbuh 11,64% secara tahunan (yoy) menjadi USD 26,35 miliar, menandai laju pertumbuhan tercepat sejak Februari 2025. Pertumbuhan ekspor ini membalikkan kontraksi 6,6% yang terjadi pada bulan November.
Dari sisi impor, aktivitas belanja luar negeri juga mencatat kenaikan tajam sebesar 10,81%, jauh di atas ekspektasi pasar yang memproyeksikan penurunan 0,7%. Peningkatan impor ini didorong oleh naiknya impor migas sebesar 1,71% serta lonjakan impor non-migas sebesar 12,46% menjadi USD 20,48 miliar.
Sepanjang tahun 2025, Indonesia berhasil membukukan surplus total USD 41,05 miliar. Rilis data neraca perdagangan Januari 2026 pada pekan ini akan memberikan sinyal penting mengenai performa ekspor di tengah fluktuasi harga komoditas global, serta menjadi indikator tingkat permintaan bahan baku oleh industri manufaktur domestik pada awal tahun.
Pembaruan Posisi Cadangan Devisa Februari 2026
Bank Indonesia juga akan merilis posisi cadangan devisa (cadev) untuk akhir Februari 2026. Pada akhir Januari lalu, posisi cadev tercatat sebesar USD 154,6 miliar, turun dari USD 156,5 miliar pada akhir Desember 2025.
Penurunan tersebut dikonfirmasi oleh Bank Indonesia sebagai dampak dari kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intervensi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.
Meskipun mengalami penurunan, posisi cadev Januari masih setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor, atau 6,1 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri, yang mana posisi tersebut jauh berada di atas standar kecukupan internasional (sekitar 3 bulan impor).
Investor akan meneliti data cadev Februari guna mengevaluasi seberapa besar amunisi bank sentral dalam mempertahankan ketahanan sektor eksternal, menjaga stabilitas makroekonomi, dan membentengi Rupiah dari potensi capital outflow.
Dinamika Pasar Tenaga Kerja Februari 2026
Salah satu indikator paling penting dari Amerika Serikat pada akhir pekan ini adalah rilis data ketenagakerjaan (Non-Farm Payrolls / NFP) serta tingkat pengangguran AS untuk periode bulan Februari 2026.
Pada bulan Januari, ekonomi AS secara mengejutkan mencetak 130.000 pekerjaan baru, jauh mengungguli proyeksi konsensus yang hanya memperkirakan penambahan 70.000 pekerjaan, dan menandai angka tertinggi sejak Desember 2024. Penambahan lapangan kerja terkonsentrasi pada sektor perawatan kesehatan (82.000), bantuan sosial (42.000), dan konstruksi (33.000).
Sebaliknya, sektor pemerintahan federal kehilangan 34.000 pekerjaan akibat pengunduran diri yang tertunda, sementara sektor aktivitas keuangan turun 22.000 pekerjaan. Hal yang patut dicermati oleh analis adalah adanya revisi turun yang masif terhadap total pertumbuhan lapangan kerja sepanjang tahun 2025, yang dipangkas menjadi hanya +181.000 dari laporan sebelumnya +584.000.
Di sisi lain, tingkat pengangguran AS pada Januari turun tipis ke 4,3% dari 4,4% di bulan sebelumnya, seiring dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja.
Rilis NFP bulan Februari akan menjadi proksi utama bagi Federal Reserve dalam menilai apakah pasar tenaga kerja AS benar-benar memanas atau sedang mengalami perlambatan struktural, yang secara langsung akan mendikte lintasan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) di kuartal mendatang.
Indeks Manufaktur dan Jasa (ISM PMI) Februari 2026
Rilis survei Institute for Supply Management (ISM) akan memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi sektor riil di AS. Pada bulan Januari, ISM Manufacturing PMI mencetak kejutan dengan berekspansi ke level 52,6 dari 47,9 di Desember, jauh di atas estimasi pasar di level 48,5.
Angka ini menandai ekspansi pertama di sektor manufaktur dalam 12 bulan terakhir. Komponen penyusun indeks menunjukkan perbaikan signifikan pada pesanan baru (57,1) dan tingkat produksi (55,9).
Namun, terdapat catatan kehati-hatian dari komite survei ISM, di mana kenaikan ini sebagian didorong oleh pembelian inventaris untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga akibat isu tarif perdagangan.
Sementara itu, ISM Services PMI di sektor jasa tetap stabil di level 53,8 pada bulan Januari, menunjukkan berlanjutnya ekspansi yang tangguh. Meskipun aktivitas bisnis secara umum tumbuh dengan laju yang lebih cepat (57,4), komponen pesanan baru dan penyerapan tenaga kerja mengalami perlambatan.
Tekanan harga di sektor jasa juga meningkat 66,6 dibandingkan dengan 65,1 di bulan Desember. Rilis data ISM bulan Februari ini akan memvalidasi apakah daya beli dan aktivitas korporasi di AS mampu mempertahankan tren ekspansifnya di tengah negosiasi tarif geopolitik yang tengah berlangsung.
Indeks Manufaktur RatingDog Tiongkok Februari 2026
Dari kawasan Asia, rilis RatingDog China General Manufacturing PMI Tiongkok akan menjadi indikator kesehatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Pada bulan Januari, indeks ini naik ke level 50,3 dari 50,1 di bulan Desember, sejalan dengan ekspektasi pasar.
Ekspansi marginal ini ditopang oleh percepatan pertumbuhan output berkat peningkatan pesanan ekspor baru. Namun, terjadi lonjakan inflasi biaya input ke level tertinggi sejak September akibat kenaikan harga logam industri, yang memaksa perusahaan menaikkan harga jual produk untuk pertama kalinya sejak November 2024.
Pelaku pasar akan mengevaluasi rilis data Februari untuk melihat apakah pesimisme pelaku usaha yang turun ke level terendah dalam sembilan bulan pada survei terakhir mulai mereda atau justru terkonfirmasi oleh data lapangan.
Kepercayaan Konsumen Jepang (Februari 2026)
Terakhir yaitu rilis indeks kepercayaan konsumen Jepang, yang akan melengkapi radar makroekonomi pekan ini dari Asia. Pada bulan Januari, indeks naik menjadi 37,9 dari 37,2 di bulan Desember silam.
Kenaikan ini didorong oleh penguatan di seluruh komponen, termasuk pandangan terhadap penghidupan (36,8), prospek lapangan kerja (42,4), dan pertumbuhan pendapatan (42,0).
Kelanjutan tren positif pada rilis survei bulan Februari berpotensi memberikan dorongan bagi Bank of Japan (BoJ) untuk lebih percaya diri dalam melakukan normalisasi kebijakan suku bunga jika inflasi yang didorong oleh upah (wage-driven inflation) mulai terwujud.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls) Add as a preferredsource on Google




