Teheran, tvOnenews.com - Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tidak hanya mengguncang Teheran, tetapi juga memicu respons keras dari tokoh oposisi paling simbolik Iran di pengasingan, Reza Pahlavi. Kepada BBC, Pahlavi—putra mahkota terakhir Iran dan kepala Dinasti Pahlavi—menyebut wafatnya Khamenei sebagai titik balik bersejarah yang berpotensi “mengubah arah sebuah bangsa”.
Reza Pahlavi adalah putra dari Shah terakhir Iran Mohammad Reza Pahlavi dan Shahbanu Farah Pahlavi. Sejak Revolusi Islam 1979 menggulingkan monarki, Pahlavi hidup di pengasingan dan dikenal sebagai penuntut simbolik takhta Persia sekaligus tokoh oposisi yang vokal terhadap Republik Islam Iran.
Dalam pernyataan awalnya, Pahlavi secara terbuka menyambut kematian Khamenei, sosok yang selama lebih dari tiga dekade ia sebut sebagai “pusat represi dan stagnasi Iran”. Sikap itu kemudian diperluas dalam sebuah esai panjang yang diterbitkan di The Washington Post, beberapa jam setelah kabar kematian Khamenei mencuat ke publik internasional.
Ucapan Terima Kasih untuk TrumpDalam esainya, Reza Pahlavi secara eksplisit menyampaikan apresiasi kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia merujuk pada pernyataan Trump kepada rakyat Iran bahwa “jam kebebasan kalian telah tiba”.
Menurut Pahlavi, selama hampir setengah abad, Republik Islam Iran telah “merusak kedaulatan negara tetangga, memicu konflik di berbagai belahan dunia, serta mengejar senjata nuklir dan rudal jarak jauh”. Namun, ia menegaskan bahwa kejahatan paling keji justru terjadi di dalam negeri Iran sendiri.
Ia menyoroti ribuan demonstran yang tewas dalam berbagai gelombang penindakan, termasuk penumpasan brutal terhadap aksi protes pada Januari lalu. “Republik Islam bukan hanya ancaman eksternal, tetapi juga algojo bagi rakyatnya sendiri,” tulis Pahlavi.
Seruan Perubahan SistemikBerbeda dengan sebagian kelompok oposisi yang mendorong transisi cepat tanpa peta jalan jelas, Reza Pahlavi menawarkan kerangka perubahan politik yang terstruktur. Ia menyerukan pembentukan konstitusi baru yang dirancang dan disahkan melalui referendum nasional.
Setelah itu, menurut Pahlavi, Iran harus menggelar pemilu bebas dengan “pengawasan internasional” guna memastikan legitimasi dan mencegah kembalinya otoritarianisme dalam bentuk baru. Ia menekankan bahwa masa depan Iran tidak boleh ditentukan oleh kekerasan atau balas dendam, melainkan oleh kehendak rakyat.




