Putu Sastrani Titaranti Dewantara – Tale of Spring : Sebuah Energi Positif yang Rindu Dilepaskan

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Di sebuah ruang kedap suara yang tenang, lengkingan soprano menyayat udara dengan presisi yang ganjil. Ia tidak menderu layaknya musik pop yang membanjiri ruang publik ibu kota dan media sosial, melainkan mengalun tenang, membawa wibawa klasik yang seakan memindahkan pendengarnya ke panggung-panggung opera di Eropa

ELKA HUNTER 

Putu Sastrani Titaranti Dewantara—atau yang lebih dikenal sebagai Sastrani—sedang tidak sekadar berlatih vokal. Ia sedang merapal sebuah manifesto transformasi jiwa yang kini ia kristalisasikan dalam mini album terbarunya, “Tale of Spring.” Bagi Sastrani, mini album ini adalah muara dari sebuah perjalanan spiritual yang panjang dan berliku. Berisi lima lagu utama—A Tale of Spring, Be Saved, Sacred Path of Truth, Children of The Cre ator, dan Path of Divine—karya ini meru pakan pelepasan energi positif yang menurutnya sudah lama terpendam dan rindu untuk dibagikan kepada dunia. 

Panggilan Alam Sang Spinto Soprano Lahir di Jakarta pada 15 November 1988, Sastrani adalah anomali di generasinya. Ketika remaja sebayanya menggandrungi band-band alternatif, Sastrani kecil justru asyik dengan keroncong lawas dan opera.

 “Bukan milih sih, Pak. Dari kecil itu saya sudah nyanyi begini,” kenangnya saat menceritakan rekaman suaranya di usia empat tahun yang sudah terdengar layaknya penyanyi seriosa. Baginya, musik klasik bukanlah pilihan karir yang dipaksakan, melainkan sebuah “pilihan alam.” 

Loyalitasnya pada genre klasik begitu kuat. Ia bahkan sempat berujar bahwa sejauh-jauhnya ia mencoba bernyanyi pop, batas terjauhnya hanyalah panggung Broadway. Namun, bakat alami saja tidak cukup. Di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) periode 2006-2010, Sastrani mendalami teknik Bel Canto. 

Perjalanan akademisnya tidak mulus begitu saja; ia sempat merasa minder karena kemampuan membaca partiturnya tertinggal dibanding rekan-rekannya. 

Frustrasi itu justru menjadi bahan bakar. Di bawah asuhan Catherine Leimena di Gita Swara, Sastrani berlatih gila-gilaan—hingga delapan jam sehari—demi mengejar ketertinggalan teknis. Hasilnya adalah suara Operatic Spinto Soprano yang mampu melintasi berbagai spektrum emosi, sebuah modal yang membawanya ke panggung-panggung bergengsi seperti Java Jazz hingga berkolaborasi dengan maestro Addie MS di Twilight Orchestra.

Titik Nadir dan Sakelar Cahaya

Sebelum menemukan kedamaian yang ia rasakan sekarang, Sastrani mengaku pernah menjadi sosok yang sangat ambisius. Ia terjebak dalam pengejaran panggung dan pengakuan materi. “Mengejar banget untuk tampil di sini, tampil di situ … Kalau tidak tercapai, stres,” akunya. Tekanan persaingan di industri musik sempat membuatnya merasa “salah lahir” di Indonesia, sebuah negeri yang panggung operanya tak semegah di Barat. 

Puncaknya terjadi saat pandemi CO VID-19 melanda. Proyek ambisius ber sama Eros Djarot untuk menghadirkan kembali soundtrack legendaris “Badai Pasti Berlalu” yang direncanakan berlangsung hingga 2021 harus kandas. 

Sastrani terhempas ke titik nadir. Di tengah ketidakpastian itu, ia mulai mempertanyakan esensi keberadaannya sebagai manusia. Ia rindu akan sebuah jalan yang bisa membebaskannya dari keterikatan hati namun tetap mengizinkannya bermusik. Pertemuannya dengan seorang praktisi Falun Dafa menjadi titik balik. 

Sebuah brosur kuning bertuliskan tiga prinsip utama—Sejati, Baik, Sabar (Zhen, Shan, Ren)—seolah menjadi sakelar yang menyalakan cahaya di rumah jiwanya yang sedang gelap. “Pas saya baca tulisan itu, langsung ada kayak tombol klik… byarrr. Akhirnya jadi terang rumahnya,” ungkapnya dengan suara yang bergetar penuh haru. 

Kidung Musim Semi: Bedah Mini Album 

Mini album “Tale of Spring” lahir dari rahim transformasi tersebut. Sastrani tidak lagi memandang bakat vokalnya sebagai alat mencari uang semata, melainkan sebagai titipan Tuhan untuk menyuarakan kebaikan. 

1. A Tale of Spring: Dirilis eksklusif di platform Gan Jing World pada 25 Januari 2025. Lagu ini menjadi metafora kebangkitan jiwa dari “musim dingin” frustrasi menuju “musim semi” pencerahan. 

2. Be Saved: Muncul perdana dalam format video musik pada 30 September 2024. Lagu ini membawa pesan spiritual yang kuat tentang harapan dan keselamatan di tengah masa-masa sulit. 

3. Sacred Path of Truth: Sebuah persembahan yang dirilis bertepatan dengan World Falun Dafa Day pada 17 Mei 2024. Lagu ini mencerminkan komitmen Sastrani untuk berjalan di atas prinsip kebenaran. 

4. Children of The Creator: Kolaborasi internasional bersama penyanyi Thu Hiền yang dirilis pada Mei 2025. Lagu ini menekankan asal-usul manusia yang murni di bawah naungan Sang Pencipta.

 5. Path of Divine: Lagu yang telah populer dengan puluhan ribu tayangan sejak dirilis pada April 2023. Melodi sopranonya yang jernih menggambarkan pencarian manusia akan jalan ketuhanan. Sastrani kini aktif mempelajari partitur-partitur klasik dari NTD Classic dan Shen Yun untuk memperdalam pemahamannya tentang seni tradisional yang lurus. Ia percaya pada prinsip “melepas baru memperoleh” (seperti yang tertulis dalam buku Zhuan Falun), sebuah filosofi yang membuatnya lebih tenang dan fokus dalam berkarya

Ekosistem Gan Jing World: Teknologi Bagi Kemanusiaan

Dalam merilis karya-karyanya, Sastrani memilih platform Gan Jing World (GJW) sebagai wadah utama. Pilihan ini bukan tanpa alasan. GJW memiliki visi “Teknologi bagi Kemanusiaan” dan dirancang sebagai platform digital yang menyediakan hiburan ramah keluarga, bebas dari konten berbahaya. 

Sastrani merasa GJW sejalan dengan misinya untuk menyebarkan energi positif. Ia bahkan sempat memenangkan kontes konten “Kindness is Cool” (Kebaikan itu Keren) di platform tersebut lewat lagunya yang berjudul serupa bersama April Gunawan. Baginya, platform ini adalah jawaban atas keresahan orang tua modern yang khawatir akan dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental anak. GJW menawarkan lingkungan yang membina rasa percaya dan saling menghormati di antara pengguna. 

Menjadi Lilin yang Menyala Kini, Sastrani tidak lagi terbebani oleh ambisi untuk menjadi diva pop yang haus pujian. Kebahagiaannya sangat sederhana: bisa melepaskan segala keterikatan batin dan menyuarakan hal-hal indah melalui suara emasnya. Mini album “Tale of Spring” adalah bukti bahwa seni sejati tidak selalu harus mengikuti tren pasar. Seperti ungkapan Tiongkok kuno yang sering ia kutip, “Di balik gelapnya rerimbunan pohon willow ada kecerahan sebuah desa”—Sastrani telah melewati masa gelapnya dan kini siap melepaskan energi positif itu melalui setiap nada soprannoya. Melalui Tale of Spring, ia mengajak kita semua untuk sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia dan mendengarkan kembali kejernihan jiwa yang selama ini rindu untuk melepaskan. 

Makna filosofi musim semi dalam mini album “Tale of Spring” karya Sastra merupakan metafora dari kebang kitan jiwa, harapan, dan pencerahan spiritual setelah melewati masa-masa sulit atau “musim dingin” kehidupan. Filosofi musim semi menggambarkan momen ketika ia menemukan “Jalan Sejati” (pencerahan) yang mengakhiri kegelapan emosional tersebut.

Sastrani mengibaratkan penemuan prinsip spiritualnya (Sejati, Baik, Sabar) seperti menyalakan “tombol sakral” di dalam rumah yang sedang mati lampu, sehingga seketika menjadi terang benderang. Musim semi dalam album ini mewakili energi positif yang muncul saat seseorang berhasil melepaskan keterikatan hati dan menemukan kedamaian batin. Manifestasi melalui Karya Musik Lima lagu dalam album ini merupakan pelepasan energi positif tersebut ke dunia. A Tale of Spring yang merupakan Lagu utama yang melambangkan narasi kebangkitan. Sacred Path of Truth dan Children of The Creator menunjukkan dedikasinya pada nilai-nilai kebenaran dan asal-usul manusia yang murni. Path of Divine dan Be Saved: Menggambarkan pencarian jalan ketuhanan dan pesan keselamatan bagi umat manusia. 

Secara keseluruhan, “Tale of Spring” bukan sekadar kumpulan lagu klasik, melainkan sebuah perayaan spiritual yang mengajak pendengarnya untuk bangkit menuju kemurnian dan kebaikan universal.

Artikel ini sebelumnya terbit di Koran Cetak The Epoch Times edisi 923 Bahasa Indonesia 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fariz RM Hijrah usai Bebas dari Penjara, Kuasa Hukum: Dia Sudah Bertobat
• 7 jam lalugrid.id
thumb
Netanyahu Klaim Serangan Israel Tewaskan Komandan Garda Revolusi Iran
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
PSIM Putus Tren Negatif, Van Gastel Minta Skuadnya Lebih Efisien
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Profil Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Tewas Dibunuh AS-Israel
• 6 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Rotasi Pejabat Kortas Tipikor: Brigjen Totok Kakortas, Brigjen De Deo Dirtindak
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.