Jakarta, VIVA – Selama ini banyak pemilik kendaraan mengira jamur hanya menyerang kaca mobil. Padahal, bodi atau cat mobil juga bisa mengalami jamuran yang dikenal sebagai waterspot.
Jamur pada cat biasanya muncul dalam bentuk bercak putih atau keabu-abuan yang sulit hilang. Jika dibiarkan, noda tersebut dapat merusak tampilan bahkan menurunkan kualitas lapisan cat.
Disadur VIVA Otomotif dari laman Suzuki, Minggu 1 Maret 2026, salah satu penyebab utamanya adalah kandungan mineral dalam air. Ketika air dengan kadar mineral tinggi mengering di atas permukaan cat, sisa mineral akan tertinggal dan membentuk kerak.
Kondisi ini sering terjadi setelah mobil kehujanan atau selesai dicuci lalu dibiarkan kering sendiri. Airnya memang menguap, tetapi residunya tetap menempel dan memicu timbulnya noda.
Kesalahan saat memarkir mobil juga menjadi faktor pemicu. Mobil yang terus berada di area lembap atau minim sirkulasi udara lebih rentan mengalami pertumbuhan jamur.
Selain itu, kebiasaan mencuci mobil di bawah terik matahari langsung juga bisa memperparah keadaan. Permukaan yang panas membuat air cepat menguap dan meninggalkan bekas mineral lebih cepat.
Paparan sinar matahari berlebihan tanpa perlindungan tambahan juga mempercepat penurunan kualitas lapisan pelindung cat. Akibatnya, permukaan mobil menjadi lebih mudah ditempeli noda air dan jamur.
Tidak sedikit pemilik kendaraan yang terburu-buru menutup mobil dengan sarung setelah dicuci. Padahal kondisi yang masih lembap di balik penutup justru menciptakan lingkungan ideal bagi jamur berkembang.
Musim hujan menjadi periode paling rawan bagi bodi mobil. Intensitas air dan kelembapan tinggi membuat risiko munculnya jamur semakin besar jika tidak segera dikeringkan.
Karena itu, penting untuk memahami bahwa perawatan cat mobil tidak hanya soal kilap. Menjaga kebersihan, memastikan mobil benar-benar kering, dan memberi perlindungan tambahan seperti wax atau sealant menjadi langkah pencegahan yang efektif agar bodi tetap mulus tanpa noda jamur.




