Dilarang Sekolah oleh Taliban, Perempuan Afghanistan Dirikan Klub Buku Rahasia

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021, akses pendidikan bagi perempuan dibatasi secara ketat. Anak perempuan tidak dapat melanjutkan sekolah menengah, sementara perempuan dewasa dilarang berkuliah. Kebijakan ini berdampak luas terhadap hak belajar perempuan di negara tersebut.

Data UNICEF pada 2025 mencatat lebih dari 2,2 juta anak perempuan terdampak larangan pendidikan tersebut. Di tengah situasi itu, lima perempuan berusia awal 20-an membentuk klub buku rahasia untuk tetap melanjutkan proses belajar secara mandiri.

Sebagian besar perempuan dalam kelompok tersebut bertemu secara langsung. Namun Parwana (21), tinggal di distrik berbeda sehingga harus bergabung melalui telepon. Ia masih kecil ketika Taliban melarang anak perempuan bersekolah, sehingga tidak sempat menyelesaikan pendidikannya.

“Ketika kami dilarang bersekolah, saya kehilangan seluruh harapan. Ibuku terus menyemangati, tetapi aku tahu keadaan tidak akan membaik. Aku memutuskan untuk melakukan sesuatu sendiri… Dan sekarang saya memiliki klub baca ini,” ungkapnya.

Pertemuan klub buku ini dilakukan setiap Kamis selama sekitar satu setengah jam. Lokasinya berpindah-pindah dari rumah ke rumah untuk menghindari perhatian. Anggota yang berada di distrik lain bisa tetap bergabung mengikuti diskusi melalui sambungan telepon. Demi keamanan, mereka tidak mendokumentasikan kegiatan di media sosial dan hanya berkomunikasi melalui pesan pribadi.

Sebagian dari anggota klub buku rahasia ini memang tidak sempat menyelesaikan sekolah ketika larangan diberlakukan. Ada yang berhenti kuliah, dan ada juga yang batal masuk fakultas hukum setelah kebijakan diumumkan. Klub buku ini menjadi cara mereka mempertahankan akses terhadap pengetahuan di luar jalur formal.

“Buku selalu menjadi bagian penting dalam hidupku,” kata koordinator kelompok tersebut, Darya (25), yang saat itu berada di tahun ketiga kuliah jurusan bahasa dan sastra ketika Taliban menutup universitas bagi perempuan.

“Saat membaca, aku merasa seperti berada di dunia lain, bersama para tokoh, tempat-tempat, dan alamnya. Kadang aku menangis mengikuti ceritanya, kadang aku tertawa. Tetapi selalu, buku telah memberi warna dalam hidupku,” tambahnya.

Buku yang dibaca umumnya bertema kekuasaan, pembatasan, dan posisi perempuan dalam masyarakat. Salah satunya adalah Animal Farm karya George Orwell. Buku-buku yang dibaca mereka peroleh melalui unduhan gratis atau pinjaman terbatas di perpustakaan. Karena keterbatasan jumlah buku, mereka membaca secara bergiliran dan merangkum isi bacaan agar semua anggota tetap dapat mengikuti.

Dalam setiap diskusi, para perempuan muda ini membahas karakter, konteks sosial, serta relevansinya dengan kondisi yang mereka alami saat ini. Bagi mereka, klub buku ini bukan sekadar ruang membaca, tetapi sarana untuk menjaga keberlanjutan proses belajar di tengah pembatasan pendidikan bagi perempuan di Afghanistan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump Umumkan Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran Tewas
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Menag: Tingkat Kerukunan Umat Beragama Indonesia Capai Titik Tertinggi
• 18 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemerintah Lakukan Mitigasi Antisipasi Dampak Penutupan Ruang Udara di Sejumlah Negara Timur Tengah
• 38 menit laludisway.id
thumb
Pemimpin Dunia Respons Serangan AS-Israel ke Iran, Serukan Kesabaran dan Diplomasi
• 21 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
IRGC umumkan operasi militer terbesar usai syahidnya Khamenei
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.