Bisnis.com, JAKARTA — Hong Leong Investment Bank (HLIB) menyebut bahwa CIMB Group Holdings Bhd berpotensi membukukan keuntungan satu kali (one-off gain) sebesar 810 juta ringgit atau setara Rp3,49 triliun dari pengurangan kepemilikan saham di PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) guna memenuhi potensi kenaikan ketentuan free float minimum di Indonesia menjadi 15%.
Potensi divestasi sebesar 7,4% saham di anak usaha tersebut tidak hanya akan memastikan kepatuhan terhadap regulasi, tetapi juga memperkuat basis permodalan grup perbankan asal Malaysia itu.
HLIB mengatakan, dana hasil divestasi tersebut dapat memberikan fleksibilitas keuangan yang lebih besar bagi grup untuk mendukung pertumbuhan kredit atau membagikan dividen spesial kepada pemegang saham.
"Setelah divestasi, kami memperkirakan dana sekitar RM810 juta akan digunakan untuk meningkatkan imbal hasil bagi pemegang saham. Analisis skenario kami menunjukkan grup dapat memanfaatkan dana tersebut untuk ekspansi portofolio kredit,” jelas HLB, dilansir dari The Edge Malaysia, Minggu (1/3/2026).
Lembaga riset itu juga tidak menutup kemungkinan pembagian dividen spesial apabila pengurangan kepemilikan saham terjadi. Ini akan menjadi tambahan dari rencana pengembalian modal sebesar RM2 miliar hingga 2027, yang berpotensi meningkatkan rasio pembayaran dividen dan imbal hasil pada FY26-27 masing-masing menjadi sekitar 70% dan 6,5%.
Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran terbaru dari MSCI terkait aspek keterjangkauan investasi dan transparansi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Regulator Indonesia dilaporkan tengah menyiapkan kerangka aturan baru, termasuk proposal untuk menaikkan ketentuan free float minimum di seluruh bursa dari 7,5% menjadi 15%. Keputusan final diperkirakan akan diumumkan pada Mei menjelang peninjauan ulang oleh MSCI.
Baca Juga
- CIMB Niaga: Bank Syariah Hasil Spin-Off Butuh Insentif Pemerintah
- Mau Tebar Dividen, Induk CIMB Niaga (BNGA) Raup Laba Bersih 7,9 Miliar Ringgit Malaysia
- CIMB Niaga (BNGA) Cetak Laba Bersih Rp6,93 Triliun sepanjang 2025
Saat ini, CIMB menguasai 92,4% saham CIMB Niaga, yang berkontribusi sekitar 25% terhadap laba sebelum pajak (PBT) grup.
Dampak ke CIMB Niaga (BNGA) Minim
Sementara itu, Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai divestasi ini berdampak minim terhadap strategi bisnis hingga fundamental BNGA. Dia mengatakan, divestasi porsi kepemilikan induk tidak otomatis mengubah operasional bank.
"Selama CIMB masih tetap jadi pemegang pengendali, arah bisnis, ekspansi kredit, dan kebijakan manajemen pada dasarnya tetap jalan seperti biasa," kata Ekky kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (1/3/2026).
Ekky menyampaikan, kinerja seperti ROA, ROE, kualitas aset, dan permodalan lebih ditentukan oleh eksekusi bisnis dan kondisi ekonomi, bukan karena kepemilikan induk turun beberapa persen.
Senada, Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengatakan bahwa strategi bisnis CIMB Niaga secara umum belum mengalami perubahan lantaran pemilik mayoritas masih sama. Demikian halnya untuk fundamental bisnis yang juga relatif tidak banyak mengalami perubahan.
"Ekspansi kredit juga relatif masih sama, demikian juga arah kebijakan manajemen karena pemegang saham mayoritas masih sama," ujar Trioksa kepada Bisnis, dikutip pada Minggu (1/3/2026).





