jpnn.com - JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin atau Kang TB meragukan kemampuan Indonesia menjadi fasilitator konflik Iran vs AS-Israel.
Kang TB berkata demikian demi menanggapi keinginan Presiden Prabowo Subianto yang konon siap menjadi fasilitator konflik tiga negara tersebut.
BACA JUGA: Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
Menurut politikus PDI Perjuangan itu, syarat menjadi fasilitator dialog konflik ialah harus diterima oleh kedua belah pihak yang bersitegang.
Namun, ujarnya, Indonesia saat ini telah bergabung ke Board of Peace yag dibentuk Presiden AS Donald Trump.
BACA JUGA: Pengumuman Resmi Pemerintah Iran setelah Ayatollah Ali Khamenei Tewas
Eks Sesmilpres itu menilai bahwa Iran sulit menerima kehadiran Indonesia menjadi fasilitator konflik ketika politik luar negeri Tanah Air condong ke Amerika Serikat.
"Dengan gerak diplomasi Indonesia yang saat ini dinilai lebih condong ke poros Amerika dan Israel melalui keterlibatan dalam BoP, sulit rasanya membayangkan Iran bisa menerima dengan mudah,” kata Kang TB, Minggu (1/3).
BACA JUGA: TV Pemerintah Iran: Ayatollah Ali Khamenei Tewas
Mantan perwira tinggi dengan jabatan terakhir Mayjen itu mengatakan, fasilitator konflik harus membutuhkan komitmen serius.
Menurut Kang TB, Indonesia harus meluangkan waktu, tenaga, bahkan anggaran untuk memfasilitasi pihak-pihak yang berselisih.
"Dialog tidak hanya satu atau dua kali," kata alumnus AKABRI 1971 itu.
Kang TB beranggapan, Indonesia (Prabowo) lebih baik mengambil peran fasilitator konflik ASEAN yang melibatkan Thailand vs Kamboja ketimbang Iran vs AS-Israel.
"ASEAN itu pekarangan kita juga. Kawasan ini harus damai dan stabil. Itu lebih langsung berkaitan dengan kepentingan nasional," ujarnya.
Diketahui, Presiden RI Prabowo menyatakan kesiapan menjadi fasilitator dialog di tengah kondisi tegang dan membara di kawasan Timur Tengah.
Sikap itu diambil menyusul konfirmasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Prabowo bahkan siap bertolak ke Teheran.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," dikutip dari akun X @Kemlu_RI, Sabtu (28/2). (ast/jpnn)
Redaktur : Mufthia Ridwan
Reporter : Aristo Setiawan




