Di tengah dentum bedug jelang berbuka, dan iringan penari barongsai, ribuan warga berburu takjil di pesta Jappa Jokka Cap Go Meh. Kebersamaan kian erat saat warga dari berbagai latar belakang di Makassar ini merayakan perbedaan tanpa sekat. Keberagaman melebur dalam ruang yang bertumbuh.
Deretan stand makanan memanjang di sepanjang sekitar satu kilometer. Setengah Jalan Sulawesi, Makassar, Sulawesi Selatan, itu memang ditutup untuk pelaksanaan festival Jappa Jokka cap Go Meh, Sabtu (28/2/2026) jelang petang.
Ragam makanan dijajakan. Jalangkote, pisang ijo, hingga coto tersedia. Makanan timur tengah dan eropa juga ada. Tidak ketinggalan makanan ciri khas Tionghoa, seperti bakmi, dan olahan mi lainnya. Minuman dingin juga es krim beraneka rupa. Seiring matahari yang kian redup, dan waktu berbuka kian dekat, ribuan pengunjung berusaha mencari makanan terbaik. Tua-muda, berbagai agama, warna kulit, dan suku, berbaur dalam ruang yang sama.
“Sudah 30 menit antre belum dapat. Memang ramai sekali yang mau beli bakso di sini,” kata Wahyu (27), salah seorang pengunjung. Bakso Ati Raja, yang memang terkenal berjualan bakso selama puluhan tahun itu terlihat diserbu pembeli.
Meski antre, Wahyu tidak risau. Justru, suasana seperti ini menjadi ciri khas saat Ramadhan tiba. Terlebih lagi, “war” takjil kali ini berlangsung di festival Jappa Jokka Cap Go Meh 2026.
Karyawan swasta ini memang sengaja datang bersama enam orang rekannya. Mereka ingin ngabuburit, melihat pertunjukan, sembari berbuka puasa bersama di festival ini. Suasana kian ramai dengan hadirnya aneka rupa pedagang makanan dan penampilan, hingga adanya shalat Taraweh bersama.
“Tahun ini beda karena Cap Go Meh bertepatan dengan bulan Ramadhan. Jadi suasananya terasa lebih beda. Kompleks,” imbuhnya.
Situasi ini, ia melanjutkan, menunjukkan sebuah nilai yang bagus untuk bersama. Toleransi antara masyarakat yang merayakan Cap Go Meh, dan yang menjalankan puasa, terjalin dalam satu tempat. Perbedaan tidak menjadi halangan, bahkan menjadi sebuah nilai lebih.
Pengunjung festival Jappa Jokka Cap Go Meh Makassar berfoto dan berburu takjil sebelum berbuka puasa, Sabtu (28/2/2026). Festival ini kian semarak seiring pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Pengunjung festival Jappa Jokka Cap Go Meh menjalankan shalat Magrib seusai berbuka puasa, Sabtu (28/2/2026). Festival ini kian semarak seiring pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Pengunjung festival Jappa Jokka Cap Go Meh berburu takjil sebelum waktu berbuka puasa tiba, di Makassar, Sulawesi Selatan , Sabtu (28/2/2026). Festival ini kian semarak seiring pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan.
M Nasir (58), datang bersama lima anggota keluarganya. Ia sibuk menggendong cucu yang kecantol menonton barongsai. Istri, dua anak, dan seorang cucu lainnya, sibuk mencari takjil berbuka puasa.
Pegawai negeri ini datang dari kediamannya di kawasan Sudiang, sekitar 20 kilometer jaraknya. Ia dan keluarga ingin ngabuburit sembari berbuka puasa bersama di festival yang berlangsung dua hari ini, yaitu Sabtu hingga Minggu (1/3/2026).
“Karena ini bulan Ramadhan, jadi kami datang untuk sekalian berbuka puasa. Anak-anak, dan cucu saya juga suka menonton tradisi Tionghoa, jadi ini jadi pilihan keluarga,” tuturnya.
Perbedaan keyakinan, tutur Nasir, tidak menjadi sebuah penghalang untuk datang. Malah, perbedaan itu menjadi rahmat dan ruang untuk saling menghormati. Ia merasa bisa mengenal budaya dan tradisi lain, sembari tetap menjalankan ibadah dengan khidmat.
Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama M. Adib Abdushomad menyampaikan, apa yang berlangsung dalam festival Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar saat ini wujud nyata toleransi dan bekeragaman. Warga dari berbagai latar belakang berbaur dan saling menghormati kepercayaan masing-masing.
“Kita bisa lihat, meski di sini banyak jajanan, warga yang tidak berpuasa tidak tampak sengaja makan di depan orang yang berpuasa. Saling menghargai, menghormati, merupakan modal besar untuk tumbuh bersama. Dan itu hidup dalam praktek seperti di tempat ini,” katanya.
Nilai yang tumbuh tersebut, tutur Abdushomad, harus terus dipupuk dan dijaga kelestariannya. Selain dalam bentuk festival seperti sekarang, pihaknya meresmikan 10 kelurahan sadar toleransi di Makassar. Upaya ini ditujukan agar nilai tolernasi terus terjaga dan menguat dalam keseharian di masyarakat kota ini.
“Yang terpenting bukan sekadar peresmian atau papan nama. Nilai-nilai kerukunan itu harus hidup dan dipraktikkan dalam keseharian masyarakat. Dan kerukunan hanya dapat terwujud melalui sinergi dan kolaborasi seluruh elemen,” ucapnya.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyampaikan, festival Jappa Jokka Cap Go Meh bukan sekadar perayaan budaya, tetapi telah menjadi simbol keberagaman dan persatuan masyarakat Kota Makassar. Kegiatan ini telah menjadi ruang perjumpaan budaya yang mempererat persaudaraan lintas etnis, agama, dan tradisi di Kota Makassar.
Terlebih lagi, penyelenggaraan festival tahun ini kian istimewa karena bertepatan dengan momentum bulan suci Ramadan. Perpaduan dua perayaan yang sarat makna tersebut menjadi gambaran nyata harmonisasi kehidupan masyarakat Makassar.
“Tahun ini, penyelenggaraan festival terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan momentum Bulan Suci Ramadan. Tema yang diangkat, ‘Harmony in Light’, menggambarkan perpaduan indah antara cahaya lampion Cap Go Meh dan cahaya spiritual Ramadan,” jelasnya.
Cahaya lampion dan cahaya spiritual Ramadan menjadi simbol bahwa keberagaman dapat berjalan beriringan dalam semangat saling menghormati. Sejak dahulu, Kota Makassar dikenal sebagai kota yang terbuka dan menjunjung tinggi nilai-nilai keberagaman. Masyarakatnya hidup berdampingan dengan semangat saling menghormati, saling menghargai, dan saling menjaga satu sama lain. “Nilai-nilai inilah yang terus kita pelihara agar kota ini tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua,” tegasnya.
Ketua Panitia Jappa Jokka Cap Go Meh 2026 Suzanna menyampaikan, festival ini merupakan komitmen umat Buddha dalam merawat keberagaman dan kebersamaan di Kota Makassar. Setiap tahun, konsep kegiatan selalu disesuaikan dengan dinamika sosial tanpa meninggalkan nilai utama persaudaraan.
”Jappa Jokka Cap Go Meh adalah ruang kebersamaan, di mana nilai budaya, sosial, dan keagamaan dapat berjalan beriringan dan dinikmati seluruh masyarakat. Terlebih sekarang bertepatan dengan Ramadhan, jadi kian guyub,” ujarnya.





