Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran pada akhirnya akan menekan perekonomian Indonesia secara bersamaan, mulai dari inflasi dan nilai tukar rupiah hingga fiskal dan kinerja perdagangan.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menyampaikan konflik Iran—Israel dan Amerika Serikat (AS) tidak hanya sekadar isu geopolitik regional, tetapi shock eksternal bagi negara emerging market seperti Indonesia.
“Mekanisme transmisinya terutama melalui perubahan perilaku investor global,” kata Rizal kepada Bisnis, Minggu (1/3/2026).
Ketika risiko global meningkat, Rizal menjelaskan bahwa pasar masuk fase risk-off sehingga dana portofolio keluar dari emerging market menuju aset aman. Dampaknya terlihat pada tekanan terhadap nilai tukar rupiah, kenaikan yield SBN, dan meningkatnya premi risiko negara.
“Jadi, tekanan yang muncul lebih karena persepsi risiko global, bukan perubahan fundamental domestik secara tiba-tiba,” ungkapnya.
Saluran kedua adalah energi dan fiskal. Rizal menuturkan, Indonesia merupakan net importer minyak sehingga setiap kenaikan harga minyak langsung memperlebar defisit neraca migas dan meningkatkan kebutuhan devisa.
Baca Juga
- Pemerintah Imbau Jemaah Umrah Tunda Keberangkatan, Tunggu Konflik Iran-Israel Mereda
- Perang AS-Israel vs Iran, Harga Minyak Dunia Bisa Mendidih Naik 100%
- AS-Iran Memanas, 58.000 Jemaah Umrah Indonesia Berada di Arab Saudi
Pada saat yang sama, Rizal menyebut bahwa pemerintah harus menahan kenaikan harga BBM untuk menjaga inflasi dan daya beli, yang berarti kompensasi dan subsidi energi berpotensi membesar.
“Akibatnya ruang fiskal tertekan: APBN harus bekerja lebih keras bukan untuk ekspansi ekonomi, tetapi untuk stabilisasi harga,” ujarnya.
Dari sisi nilai tukar, Rizal mengungkapkan bahwa tekanan datang dari dua arah sekaligus. Pertama, capital outflow akibat perpindahan portofolio global ke dolar AS. Kedua, meningkatnya permintaan valas domestik untuk impor energi dan bahan baku.
Dia menuturkan, kombinasi ini biasanya membuat rupiah melemah dan membatasi ruang pelonggaran moneter. Bank Indonesia (BI) cenderung lebih berhati-hati menurunkan suku bunga karena prioritas jangka pendek bergeser dari mendorong pertumbuhan menjadi menjaga stabilitas kurs dan inflasi.
Sementara pada perdagangan luar negeri, efeknya cenderung asimetris. Artinya, nilai impor hampir pasti naik karena harga energi meningkat, tetapi ekspor belum tentu meningkat karena konflik menekan pertumbuhan ekonomi global.
Konsekuensinya, kata Rizal, neraca perdagangan berisiko menyempit, industri manufaktur menghadapi kenaikan biaya produksi, dan dunia usaha menjadi wait and see terhadap investasi baru.
“Dengan demikian, perang di Timur Tengah bagi Indonesia pada akhirnya bermuara pada satu hal, yakni tekanan simultan pada inflasi, kurs, fiskal, dan kinerja perdagangan sekaligus,” tegasnya.





