Penulis: Fityan
TVRINews, Aden
Gemerlap Kota yang Kembali Hidup
Senyum Abu Amjad (35) merekah saat menemani kedua buah hatinya berbelanja baju baru di pasar Kota Aden, Yaman, pada awal Ramadan tahun ini.
Sebagai guru yang baru saja menerima gaji berkat dukungan finansial Arab Saudi, momen ini adalah kemewahan yang langka.
Namun, sukacita Ramadan itu seketika pecah saat rentetan tembakan mengguncang udara, memaksa warga berlarian mencari perlindungan.seperti laporan yang ditulis oleh Jurnalis Al Jazeera
Insiden berdarah di dekat Istana al-Maashiq tersebut menjadi pengingat keras bahwa meski pemerintahan Yaman yang diakui PBB telah kembali dan mencoba menstabilkan kota, Aden masih berada di atas fondasi yang rapuh.
Di balik gemerlap lampu pasar, bayang-bayang konflik antara pemerintah dan kelompok separatis serta krisis kebutuhan pokok masih menghantui warga sipil.
Gemerlap Kota yang Kembali Hidup Setelah bertahun-tahun beroperasi dari pengasingan di Riyadh, kembalinya kabinet Yaman ke Aden membawa perubahan signifikan pada wajah kota.
Dukungan penuh dari Arab Saudi secara militer dan finansial berhasil memukul mundur pasukan separatis Southern Transitional Council (STC) yang sebelumnya mencoba menguasai wilayah timur.
Dampaknya mulai dirasakan langsung oleh penduduk setempat:
- Listrik Stabil: Warga melaporkan pasokan listrik jauh lebih konsisten dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
- Pembayaran Gaji: Aparat sipil mulai menerima upah rutin yang menggerakkan roda ekonomi lokal.
- Keamanan Pasar: Pasar-pasar tradisional kembali semarak dengan dekorasi lampu Ramadan.
- Optimisme Ekonomi: Nilai tukar mata uang mulai menunjukkan stabilitas sementara.
"Saat melihat lampu menyala dan pasar sibuk, Aden terasa seperti kota yang berbeda.
Ini mengingatkan saya pada masa sebelum perang," ujar Abdulrahman Mansour (42), seorang sopir bus di distrik Khormaksar kepada Al Jazeera
Krisis Gas dan Ancaman Kelaparan
Meski listrik membaik, tantangan harian belum sepenuhnya sirna.
Warga Aden kini terjebak dalam krisis gas memasak yang akut.
Antrean panjang tabung gas menjadi pemandangan lazim setiap pagi hingga menjelang berbuka puasa.
"Mencari gas sambil berpuasa itu sangat melelahkan," keluh Fawaz Ahmed (42).
Baginya, ketiadaan gas adalah ancaman kelaparan di tengah kota, karena kayu bakar tidak mungkin menjadi solusi di lingkungan urban yang padat.
Pasokan yang dikirim dari Provinsi Marib dianggap tidak mencukupi kebutuhan populasi yang terus bertambah.
Stabilitas Semu di Ujung Senjata
Para pengamat memperingatkan bahwa perbaikan yang terjadi saat ini bersifat "artifisial" karena ketergantungan penuh pada bantuan asing.
Peneliti ekonomi Wafiq Saleh menekankan bahwa tanpa reformasi internal dan pengaktifan kembali ekspor minyak, stabilitas ini tidak akan berkelanjutan.
Di sisi lain, tensi politik tetap mendidih. STC yang merasa ruang geraknya dipersempit oleh dukungan Saudi kepada pemerintah pusat, mulai memobilisasi massa.
Bentrokan di awal Ramadan yang menewaskan satu orang adalah sinyal bahwa oposisi tidak akan tinggal diam.
"Apa yang terjadi pada demonstran menunjukkan rapuhnya situasi politik. Tensi ini diprediksi akan terus berlanjut," tegas Majed al-Daari, Pemimpin Redaksi Maraqiboun Press
Editor: Redaktur TVRINews




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5173831/original/051249100_1742885112-WhatsApp_Image_2025-03-25_at_13.06.23.jpeg)
