Eskalasi Konflik Iran-Israel Berisiko Guncang Perdagangan RI hingga Picu Inflasi

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menjelaskan bahwa eskalasi konflik imbas serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran dapat mengguncang perdagangan hingga memicu inflasi produk impor Timur Tengah di Tanah Air.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani memaparkan bahwa dampak yang akan terasa paling cepat bagi Indonesia adalah gangguan rute perdagangan yang mengarah ke Timur Tengah dan sekitarnya. Pasalnya, Iran menutup akses Selat Hormuz dan kapal-kapal komersial dilarang mendekat.

“Selain mengganggu kelancaran perdagangan ke Timur Tengah, kita juga harus mengantisipasi kenaikan atau lonjakan biaya perdagangan, baik yang disebabkan oleh peningkatan beban asuransi perdagangan maupun karena penurunan volume kapal yang dapat melintas ke kawasan Timur Tengah, Eropa, dan Afrika,” kata Shinta saat dihubungi Bisnis, Minggu (1/3/2026).

Lebih lanjut, dia menyebut dampak yang bersifat langsung ini akan segera terlihat dalam beberapa hari hingga 2–3 pekan ke depan, bergantung pada perkembangan konflik yang terjadi.

Terkait dampak tak langsung, Shinta menggarisbawahi potensi  inflasi yang lebih tinggi di dalam negeri terhadap barang-barang impor, khususnya produk yang berasal dari Timur Tengah seperti minyak hingga kurma.

Menurutnya, potensi ini muncul di samping faktor inflasi yang memang disebabkan oleh peningkatan permintaan alias demand pasar dalam negeri pada periode Ramadan dan lebaran Idulfitri.

Baca Juga

  • Kemenhaj Pastikan Persiapan Haji 2026 Tak Terdampak Konflik AS-Israel vs Iran
  • Migrant Care Desak Pemerintah Lindungi PMI di Tengah Eskalasi Iran-AS
  • Indef: Perang AS-Israel vs Iran Beri Tekanan Berlapis ke Ekonomi Indonesia

Shinta lantas menjelaskan bahwa Indonesia perlu bersiap atas dampak eskalasi konflik di Iran terhadap resiliensi fundamental ekonomi nasional, agar stabilitas makroekonomi nasional terus kondusif terhadap pertumbuhan dan tidak terganggu karena limpahan dampak konflik ini.

Dia menerangkan bahwa konflik ini dapat mengguncang stabilitas harga minyak global yang dapat mempengaruhi beban impor, beban subsidi, posisi cadangan devisa, neraca pembayaran, hingga nilai tukar rupiah.

“Jadi kami berharap pemerintah bisa secara preemtif memonitor resiliensi fundamental ekonomi nasional & lebih agile dalam menciptakan stimulasi produktivitas ekonomi yang dibutuhkan, khususnya di sisi ekspor & FDI [penanaman modal asing],” tegas Shinta.

Dalam perkembangan sebelumnya, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan tewas usai serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026).

Presiden AS Donald Trump mulanya mengeklaim bahwa serangan gabungan tersebut telah menewaskan Khamenei. Hal ini lantas dikonfirmasi oleh televisi pemerintah Iran beberapa jam setelahnya.

"Diumumkan kepada rakyat Iran bahwa Yang Mulia Ayatollah Agung Imam Sayyid Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, telah gugur sebagai syahid dalam serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika dan rezim Zionis pada pagi hari Sabtu, 28 Februari," demikian dilaporkan oleh kantor berita Iran, Tasnim, dikutip dari Al Jazeera.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puasa Keempat Belas: Dari Sunyi Ibadah Menuju Kekuatan Berjemaah
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
OJK Sanksi 2 Emiten karena Laporan Keuangan Bermasalah hingga Lalai RUPS
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Duet Luka Doncic dan LeBron James Bawa Lakers Bungkam Warriors 129-101 di Chase Center
• 2 jam lalupantau.com
thumb
PDIP Soroti Balita Surabaya Disiksa Bibi-Paman, Singgung Peran Negara
• 13 jam laludetik.com
thumb
Balas Serangan Israel, Iran Luncurkan Rudal dan Drone
• 23 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.