Para anggota parlemen juga mempertanyakan tidak adanya otorisasi dari Kongres.
TUJUAN
Dalam pidato via video berdurasi delapan menit dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump mengatakan AS akan menghancurkan industri rudal dan kekuatan angkatan laut Iran, mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir, serta menetralisasi kelompok bersenjata yang didukung Iran di seluruh Timur Tengah.
Dia juga mendesak anggota Korps Garda Revolusi Islam, angkatan bersenjata, dan kepolisian Iran untuk meletakkan senjata mereka dengan imbalan kekebalan hukum, serta menyerukan masyarakat Iran untuk "mengambil alih pemerintahan" setelah operasi militer AS berakhir, pernyataan yang menurut para analis mengindikasikan setidaknya dorongan tersirat untuk perubahan rezim.
Trump mengulang klaimnya bahwa Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang mampu menjangkau daratan AS.
Namun sejumlah media AS, mengutip pejabat intelijen, melaporkan bahwa tidak ada bukti intelijen yang meyakinkan untuk mendukung pernyataan tersebut.
The New York Times melaporkan bahwa penilaian Badan Intelijen Pertahanan pada 2025 menemukan Iran belum memutuskan untuk membuat rudal balistik antarbenua.
Dalam wawancara singkat dengan The Washington Post pada Sabtu pagi, Trump mengatakan dia berharap warisannya dari serangan terhadap Iran adalah "kebebasan bagi rakyat" dan "negara yang aman."
"Pendekatan Trump terhadap Iran ceroboh. Tujuannya tidak didefinisikan dengan jelas," tulis The New York Times dalam opini editorialnya.
Pentagon menamai operasi tersebut Operation Epic Fury, yang dikatakan para pejabat AS kepada sejumlah media dapat berlangsung selama beberapa hari atau pekan dan diperkirakan melampaui skala serangan gabungan AS-Israel selama 12 hari terhadap sejumlah target Iran pada Juni 2025.
Dalam gelombang awal pada Sabtu dini hari, puluhan pesawat diberangkatkan dari pangkalan militer AS di Timur Tengah serta dari kapal induk di perairan regional, lalu menyerang berbagai target di seluruh Iran.
Sasaran awal mencakup situs peluncuran rudal dan fasilitas militer lain yang tersebar di berbagai wilayah negara itu, menurut laporan yang diterima di Washington.
Video yang diverifikasi oleh The New York Times menunjukkan serangan di pusat Teheran dekat kompleks kepresidenan, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan sejumlah gedung pemerintahan penting lainnya, serta area di sekitar Kementerian Intelijen.
CNN, mengutip sumber keamanan Israel, melaporkan bahwa sejumlah pejabat tinggi Iran termasuk di antara target yang dimaksud.
Target militer AS tampaknya tidak terbatas pada wilayah Iran.
Sebuah pangkalan milisi yang bersekutu dengan Iran di Irak dilaporkan turut diserang, sementara Iran melancarkan serangan balasan terhadap target Israel dan fasilitas AS di seluruh kawasan.
Beberapa kedutaan besar AS di Timur Tengah telah menginstruksikan stafnya untuk berlindung di tempat.
Pentagon merencanakan rangkaian serangan yang meningkat secara bertahap namun memberikan opsi untuk deeskalasi, lapor CNN, mengutip seorang pejabat senior AS yang mengatakan setiap putaran operasi akan berlangsung satu hingga dua hari, disertai jeda untuk mengatur ulang strategi dan menilai dampak kerusakan pertempuran.
Pemerintahan Trump telah melakukan pengerahan militer terbesar AS di Timur Tengah sejak Perang Irak 2003, dengan menempatkan dua kapal induk serta sejumlah kapal perusak.
Pejabat senior, termasuk Wakil Presiden JD Vance, berulang kali menyatakan bahwa tidak akan ada pengerahan pasukan darat AS ke Iran.
Reaksi di Capitol Hill muncul dengan cepat dan terbelah.
Senator Partai Republik Roger Wicker, ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat, menyatakan dukungannya terhadap serangan ke Iran.
"Ini adalah operasi penting dan diperlukan untuk melindungi warga Amerika dan kepentingan Amerika," katanya dalam sebuah pernyataan.
Jack Reed, anggota Partai Demokrat tertinggi di Komite Angkatan Bersenjata Senat AS, mengatakan pemerintahan Trump tidak memberikan "pengarahan maupun informasi intelijen yang nyata" kepada Kongres sebelum melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran.
"Presiden hampir tidak menyinggung Iran dalam Pidato Kenegaraan terpanjang dalam sejarah itu. Dia gagal menjelaskan tujuannya," kata Reed dalam sebuah pernyataan.
"Kongres tidak menerima pengarahan maupun informasi intelijen yang nyata, dan sulit membenarkan tindakan tanpa alasan yang jelas," tambah senator tersebut.
Senator Ruben Gallego, anggota Partai Demokrat dari Arizona sekaligus mantan marinir yang pernah bertugas di Irak, menulis di media sosial pada Sabtu dini hari bahwa rakyat Amerika seharusnya tidak perlu "menanggung kerugian terbesar demi perubahan rezim dan perang yang belum dijelaskan ataupun dibenarkan kepada publik Amerika."
Anggota DPR dari Partai Republik asal Kentucky, Thomas Massie, mengkritik serangan terhadap Iran sebagai "tindakan perang tanpa otorisasi Kongres" dalam unggahan media sosial tak lama setelah AS melancarkan serangan tersebut. Selesai




