JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah mengantisipasi potensi lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah dengan menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga daya beli masyarakat. Kenaikan harga energi global sebagai imbas perang dinilai berisiko menekan stabilitas fiskal, memicu inflasi, dan mengganggu konsumsi domestik.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto, saat dihubungi Minggu (1/3/2026), di Jakarta, mengatakan, pemerintah memantau ketat perkembangan situasi dan menyiapkan langkah antisipasi agar dampak eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran terhadap perekonomian nasional dapat diredam.
Ia menilai situasi saat ini perlu diantisipasi secara hati-hati, mengingat dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor, mulai dari energi, pangan, hingga stabilitas makroekonomi nasional.
“Kami terus memantau perkembangan situasi. Pemerintah berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan agar APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) dapat difungsikan sebagai shock absorber untuk meredam transmisi konflik, terutama pada energi dan pangan,” ujar Haryo.
Fokus utama pemerintah adalah menjaga daya beli masyarakat apabila terjadi fluktuasi harga komoditas global, khususnya energi. Untuk itu, pemerintah bakal mempercepat penyaluran bantuan pangan berupa 10 kilogram beras dan 2 liter minyak goreng kepada 35,04 juta keluarga penerima manfaat.
“Selain itu, kebijakan lanjutan juga tengah disiapkan menjelang momentum hari raya Idul Fitri guna menjaga konsumsi domestik di tengah ketidakpastian global,” kata Haryo.
Pemerintah juga berkoordinasi dengan Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Sesuai kewenangannya, bank sentral akan mengintervensi di pasar guna mengantisipasi tekanan terhadap kurs. Posisi cadangan devisa per Januari 2026 yang sebesar 154,6 miliar dollar AS dinilai memadai sebagai instrumen stabilisasi.
Di sektor energi, PT Pertamina (Persero) memastikan stok bahan bakar minyak (BBM) dan LPG nasional dalam kondisi aman untuk kebutuhan Ramadan dan Idulfitri. Berdasarkan pengalaman konflik sebelumnya pada 2025, perseroan telah menyiapkan alternatif jalur pelayaran guna menjaga keberlangsungan rantai pasok minyak dan kestabilan harga BBM domestik.
“Pemerintah mengimbau masyarakat tetap tenang dan memastikan kebijakan lanjutan akan diambil sesuai perkembangan situasi,” ujar Haryo.
Eskalasi konflik dipicu oleh operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dimulai Sabtu (28/2/2026) dini hari waktu setempat. Serangan dilaporkan menyasar sejumlah titik strategis di Iran, termasuk area di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Media resmi Iran, termasuk kantor berita IRNA, melaporkan Khamenei telah meninggal dunia dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Iran merespons serangan AS-Israel dengan menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan balasan ke sejumlah negara di kawasan, termasuk Israel, serta sejumlah aset AS di Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Yordania, Arab Saudi, dan Irak. Ratusan warga dilaporkan menjadi korban.
Penutupan Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar global. Jalur ini merupakan rute strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan 20–25 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global. Gangguan pada jalur tersebut berpotensi mengerek harga energi internasional secara signifikan.
Data Bloomberg menunjukkan harga minyak mentah jenis Nymex pada 17 Februari 2026 berada di level 62,22 dolar AS per barel. Seiring meningkatnya ketegangan negosiasi AS–Iran, harga naik menjadi 66,31 dolar AS per barel pada 23 Februari 2026 dan kembali menguat menjadi 67 dolar AS per barel pada 27 Februari 2026, sehari sebelum serangan terjadi.
Sementara, mengutip Investing.com, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Berjangka per Sabtu (28/2/2026) ada di level 67 dolar AS per barel, naik 7,8 persen dalam sebulan dan 16 persen sejak awal tahun. Adapun harga minyak Brent ditutup di level 72 dolar AS per barel dengan kenaikan bulanan 9 persen dan sejak awal tahun lebih dari 19 persen. Pasar memperkirakan harga masih berpotensi naik pada perdagangan pekan ini.
Pengalaman konflik Iran–Israel pada 19 Juni 2025 menunjukkan sensitivitas tinggi pasar komoditas. Saat itu, harga minyak melonjak dari 69,4 dolar AS menjadi 78,9 dolar AS per barel dalam waktu singkat sebelum akhirnya kembali turun ketika tensi mereda.
Menurut Energy Institute Statistical Review of World Energy 2025, kawasan Timur Tengah memproduksi sekitar 30,12 juta barel minyak per hari pada 2024.
Lima negara utama penyumbang produksi adalah Arab Saudi sekitar 10,86 juta barel per hari, Iran sebanyak 5 juta barel per hari, Irak sebanyak 4,3 juta barel per hari, Uni Emirat Arab sekitar 4 juta barel per hari, dan Kuwait sebanyak 2,7 juta barel per hari.
Sekitar 70 persen dari total produksi tersebut, atau lebih dari 20 juta barel per hari, diekspor ke luar kawasan dan sebagian besar melewati Selat Hormuz. Dengan kebutuhan minyak dunia yang mencapai sekitar 100 juta barel per hari, gangguan pasokan sekitar 20 juta barel per hari berpotensi memicu lonjakan harga yang tajam dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global.





