Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Jakarta
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus menambah fasilitas sumur bor dan sanitasi mandi, cuci, kakus (MCK) di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).
Berdasarkan data Satgas PRR per 26 Februari 2026, progres pembangunan MCK menunjukkan capaian signifikan. Di Aceh, dari 72 unit yang ditargetkan, sebanyak 54 unit telah selesai dibangun.
Di Sumut, 128 dari 139 unit telah rampung. Sementara di Sumbar, 21 dari 46 unit telah diselesaikan.
Untuk pembangunan sumur bor, dari 578 unit yang direncanakan di Aceh, sebanyak 369 unit telah terealisasi. Di Sumut, 84 dari 152 sumur bor telah dibangun. Sedangkan di Sumbar, 21 dari 107 unit telah selesai dikerjakan.
Secara total, 208 MCK atau sekitar 80 persen dari target 257 unit telah terbangun di wilayah terdampak bencana di Sumatera. Untuk sumur bor, sebanyak 474 unit atau 56 persen dari target 836 unit telah terealisasi.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera Tito Karnavian mengatakan percepatan pembangunan sumur bor dan MCK darurat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar para penyintas sekaligus mencegah potensi krisis kesehatan.
Menurut Tito, kebutuhan air bersih dan sanitasi menjadi prioritas karena jaringan air dan fasilitas sanitasi mengalami kerusakan akibat longsor dan banjir yang melanda Sumatera pada akhir tahun lalu.
Ia juga mengapresiasi kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan fasilitas tersebut, termasuk dukungan dari PLN, Danantara, dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
“Terima kasih kepada PLN, Danantara, dan Kementerian ESDM. Pembangunan MCK sudah 80 persen, sementara sumur bor masih 56 persen atau baru 474 unit karena masih ada persoalan jaringan air minum yang terputus,” ujar Tito dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Minggu, 1 Maret 2026.
Pemerintah berharap percepatan penyediaan air bersih dan sanitasi ini dapat mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat terdampak serta mencegah munculnya persoalan kesehatan di lokasi bencana.
Editor: Redaksi TVRINews





