Studi Ungkap Fakta Mengejutkan : Paparan Sinar Matahari di Siang Hari Kendalikan Gula Darah dengan Lebih Baik

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

Sinar alami mungkin menjadi “obat gratis” untuk membantu mengontrol gula darah yang belum banyak dimanfaatkan

George Citroner

Sesuatu yang sesederhana duduk di dekat jendela dengan cahaya alami dapat membantu penderita diabetes Tipe 2 menjaga kadar gula darah mereka tetap lebih stabil, menurut sebuah studi terbaru.

Temuan menunjukkan bahwa peserta mampu menjaga gula darah dalam kisaran sehat selama 50 persen waktu ketika terpapar cahaya alami, dibandingkan 43 persen saat berada dalam fase pencahayaan buatan.

“Pada orang yang terpapar cahaya alami, kadar glukosa darah berada dalam kisaran normal selama lebih banyak jam per hari, dengan variasi yang lebih kecil,” kata Patrick Schrauwen, penulis studi dan ilmuwan di German Diabetes Center dalam sebuah pernyataan. “Dua elemen penting ini menunjukkan bahwa para relawan penderita diabetes mampu mengendalikan kadar gula mereka dengan lebih baik.”

Pengendalian Gula Darah Lebih Baik dengan Sinar Matahari

Studi yang dipublikasikan di jurnal Cell Metabolism ini menunjukkan bahwa meluangkan waktu di bawah sinar matahari alami dapat menjadi tambahan yang bermanfaat dalam strategi pengendalian gula darah bagi penderita diabetes Tipe 2.

Para peneliti merekrut 13 orang untuk menguji bagaimana lingkungan kantor memengaruhi kesehatan mereka. Semua peserta ditempatkan di gedung kantor yang sama. Satu kelompok duduk di meja dekat jendela besar yang menghadap selatan dan barat untuk memaksimalkan paparan sinar matahari harian. Kelompok lainnya ditempatkan di ruangan yang sepenuhnya tertutup dari cahaya alami dan hanya menerima pencahayaan buatan.

Peserta duduk di meja mereka dari pukul 08.00 hingga 17.00, meniru jam kerja kantor pada umumnya.

Setelah jeda minimal empat minggu, peserta kembali untuk sesi kedua. Kali ini, kelompok yang sebelumnya berada di bawah cahaya buatan dipindahkan ke ruangan bercahaya alami, dan sebaliknya. Semua peserta menderita diabetes Tipe 2, tidak menggunakan tabir surya selama periode penelitian, dan memiliki usia rata-rata 70 tahun.

“Selain sumber cahaya, semua parameter gaya hidup lainnya—makanan, tidur, aktivitas fisik, waktu layar, dan sebagainya—dibuat benar-benar identik,” ujar Joris Hoeks, salah satu penulis studi.

Peneliti menemukan bahwa ketika peserta terpapar cahaya alami melalui jendela, mereka lebih sering mempertahankan gula darah dalam kisaran sehat dibandingkan saat berada di ruangan dengan cahaya buatan. Fluktuasi glukosa selama 24 jam juga lebih kecil di bawah cahaya alami, dan fluktuasi yang lebih kecil dikaitkan dengan lebih banyak waktu berada dalam kisaran normal—menunjukkan kontrol glukosa yang lebih stabil.

Sepanjang hari, peserta membakar lebih banyak lemak dan lebih sedikit karbohidrat di bawah cahaya alami—baik saat istirahat pada hari keempat maupun setelah uji makan campuran pada hari kelima—meskipun total pengeluaran energi tetap serupa.

Kadar melatonin peserta juga sedikit lebih tinggi pada malam hari, dan metabolisme pembakaran lemak mereka menunjukkan perbaikan.

Mengapa Sinar Matahari Berpengaruh?

Studi ini tidak secara pasti menjelaskan mengapa sinar matahari memengaruhi pengendalian gula darah, tetapi para ahli memiliki beberapa teori yang berfokus pada bagaimana cahaya memengaruhi sistem biologis internal tubuh.

“Sudah diketahui selama beberapa tahun bahwa gangguan ritme sirkadian memainkan peran besar dalam perkembangan gangguan metabolik yang memengaruhi semakin banyak populasi Barat,” kata Charna Dibner, salah satu penulis studi dan profesor madya di Fakultas Kedokteran UNIGE.

Menurut Hoeks, cahaya alami lebih efektif dalam menyelaraskan jam biologis tubuh dengan lingkungan dibandingkan pencahayaan buatan, yang memiliki intensitas lebih rendah dan spektrum panjang gelombang yang lebih sempit. Namun, sebagian besar waktu kita dihabiskan di bawah cahaya buatan.

Beberapa ahli lain menduga efek ini berkaitan dengan paparan vitamin D atau cara sel-sel peka cahaya di mata membantu mengatur metabolisme.

Dr. Betul Hatipoglu, profesor kedokteran di Case Western Reserve University School of Medicine yang tidak terlibat dalam studi ini, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa vitamin D memiliki banyak peran penting dalam keseimbangan glukosa. Namun, studi besar sebelumnya untuk mencegah diabetes dengan vitamin D belum menunjukkan manfaat yang pasti.

Alih-alih vitamin D sebagai penyebab utama, Hatipoglu menyoroti hipotalamus—bagian otak yang mengkoordinasikan sistem saraf serta membantu mengatur suhu tubuh, rasa lapar, tidur, dan respons emosional.

Disfungsi hipotalamus telah dikaitkan dengan masalah metabolik dan mungkin menjadi mekanisme yang dipengaruhi paparan sinar matahari sehingga menghasilkan kontrol gula darah yang lebih baik.

“Ada kemungkinan hormon stres dan sistem saraf simpatik turut berperan,” ujarnya.

Selain vitamin D, sinar ultraviolet dari matahari dapat membantu melepaskan nitric oxide, yang berpotensi mengurangi stres dan memperbaiki fungsi pembuluh darah—efek yang dapat mendukung kesehatan metabolik.

Keterbatasan Studi

Meski desain penelitian ini memperkuat keandalan hasil, terdapat beberapa keterbatasan penting.

Jumlah peserta yang kecil—hanya 13 orang—membuat temuan ini harus ditafsirkan dengan hati-hati. Studi yang lebih besar dan berlangsung lebih lama, seperti berminggu-minggu atau berbulan-bulan, diperlukan untuk melihat apakah efeknya bertahan lama dan bermakna secara klinis.

Sebagian besar peserta juga merupakan lansia, dengan usia rata-rata 70 tahun dan 12 orang berusia minimal 65 tahun. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah efek yang sama akan terlihat pada kelompok usia lebih muda atau populasi yang lebih beragam.

Penulis studi juga mencatat bahwa meskipun analisis mereka mengidentifikasi beberapa indikator potensial tentang bagaimana cahaya alami mempengaruhi kesehatan, hasilnya belum cukup kuat untuk membuat prediksi yang sangat spesifik—kemungkinan karena jumlah peserta yang terbatas.

Meski demikian, Schrauwen menegaskan bahwa bahkan dalam periode singkat, sinar matahari menunjukkan efek yang terukur. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan sederhana ini layak diteliti lebih lanjut sebagai pelengkap dalam pengelolaan diabetes.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gugur dalam Agresi AS-Israel, Silsilah Ali Khamenei Sebagai 'Sayyid' Keturunan Nabi Jadi Sorotan
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Kemenhaj Pastikan Persiapan Haji Tetap Berjalan, Jemaah Diimbau Tunda Keberangkatan Umrah
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Emas Antam Masih Stagnan Awal Maret, Harga Bertahan Rp3,085 Juta per Gram
• 15 jam laluidxchannel.com
thumb
Polres Bandara Ngurah Rai Perketat Pengamanan Pascapembatalan Sejumlah Penerbangan ke Timteng
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ramadan dan Pendidikan Akhlak Muslim
• 23 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.