Demi Memburu Rupiah Konten Media Sosial Bisa Menyesatkan?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Salah satu manfaat kehadiran media sosial di negeri ini adalah bisa dijadikan media untuk memburu rupiah melalui pembuatan konten-konten..

Manfaat utama media sosial sebagai media komunikasi terkadang terkalahkan dengan manfaat memburu rupiah tersebut. Mengapa media sosial lebih dimanfaatkan dalam memburu rupiah? Karena media sosial tersebut mempunyai beberapa kelebihan.

Media sosial lebih fleksibel dari sisi waktu maupun dari sisi pemanfaatannya sendiri, media sosial mempunyai jangkauan luas (bisa menembus atmosfer dunia), penggunanya mempunyai kebebasan untuk melakukan kreasi asal tidak melanggar ketentuan dan atau Undang-undang yang berlaku (UU ITE) dan dapat dijadikan media untuk membangun personal branding penggunanya.

Peluang Bisnis Media Sosial

Bila disimak, semua media sosial yang ada ternyata semua dapat dijadikan media untuk memburu rupiah atau dengan kata lain dapat digunakan sebagai media melakukan dan atau menjalankan unit bisnis, baik bagi pelaku bisnis yang sudah ada maupun pelaku bisnis pemula yang akan melakukan kegiatan bisnis melalui media sosial tersebut.

Jika diperhatikan di layar “HP” kita, ada beberapa media sosial yang tersedia. Dalam ringkasan AI dijelaskan bahwa jenis-jenis media sosial dikategorikan berdasarkan tujuan dan format kontennya, seperti jejaring sosial (Facebook, Linkedin), berbagai media (Instagram, Youtube, Tik Tok), microblogging (X/Twitter), forum diskusi (Reddit) dan pesan instan (WhatsApp, Telegram). Platform ini memfasilitasi interaksi, berbagai konten serta membangun komunitas secara real-time.

Berdasarkan pemanfaatannya, sebenarnya semua media sosial bisa digunakan/dimanfaatkan oleh anak negeri ini untuk memburu rupiah dan memasang iklan. Namun mengenai media sosial yang paling banyak digunakan anak negeri ini hanya ada beberapa saja.

Pada ringkasan AI, bahwa berdasarkan tren 2025-2026, media sosial yang paling banyak digunakan untuk memburu rupiah dan memasang iklan di negeri ini adalah Meta Platforms (Instagram dan Facebook), Tik-Tik dan Youtube.

Dengan banyaknya pengguna media sosial pada media sosial yang terbanyak digunakan tersebut, maka tidak heran, jika pada saat kita membuka suatu konten pada media sosial tersebut kita akan diganggu berbagai konten dan konten iklan berbagai produk yang berseliweran.

Terkadang kita dipaksa untuk menyaksikan konten mereka, walaupun konten yang muncul tersebut bukan yang kita inginkan dan terkadang kita dipaksa juga untuk menyaksikan konten iklan pada layar HP kita. Sehingga, ada idiom; “tiada hari tanpa iklan”dan atau “tiada hari tanpa konten yang berseliweran”. Inilah fakta-nya dan inilah dinamika-nya!

Sajian Konten

Bila dicermati, konten pada media sosial yang disajikan anak negeri ini dalam rangka memburu rupiah dan pelaku bisnis yang akan memasang iklan suatu produk tersebut semua berorientasi pada menggoda konsumen/pengguna media sosial.

Terkadang dengan berbagai cara mereka lakukan, agar pengguna media sosial tersebut “tersanjung/tergoda” dengan konten mereka. Misalnya ada anak muda dengan entengnya membuat konten untuk menggiring pengguna media sosial agar “terhipnotis” untuk menyaksikan lagu yang dilantunkannya, padahal lagu yang dilantunkan tersebut merupakan lagu lama hanya diramu sedemikian rupa untuk mendorong pengguna media sosial agar penasaran untuk menyaksikannya.

Ada lagi konten yang berisikan nasihat untuk kebaikan atau untuk kesehatan. Agar pengguna media sosial tertarik untuk menyaksikan konten tersebut, mereka ramu dengan kata-kata pembuka yang menggoda atau kata-kata pengantar yang meyakinkan pengguna media sosial agar terkesan menarik sekalian agar durasi konten menjadi panjang, padahal isi dari konten tersebut sebenarnya sederhana dan singkat.

Mengapa konten tersebut tidak mereka buat sesederhana mungkin atau sesingkat mungkin? Tujuannya agar durasi waktu yang menyaksikan konten tersebut bisa panjang dengan demikian mereka bisa memburu rupiah lebih besar.

Kemudian, penyaji konten terus berupaya untuk membidik pengguna media sosial dengan menyesuaikan dengan perilaku dan atau muatan konten yang diinginkan pengguna media sosial itu sendiri. Misalnya mereka ramai-ramai membuat konten tentang ajaran agama, mereka ramai-ramai membuat konten yang bermuatan hiburan dan atau “kelucuan” dan mereka ramai-ramai membuat konten menggunakan kecanggihan AI agar konten tersebut lebih diminati.

Akhir-akhir ini tidak sedikit konten yang mereka sajikan yang muatannya sederhana dan menyajikan masalah yang sudah usang atau peristiwa yang biasa-biasa saja, namun karena diramu dengan menggunakan kecanggihan AI, maka konten tersebut menjadi menarik dan bisa terhindar dari jeratan UU ITE. Misalnya menyajikan dialog yang menampilkan badan manusia berwajah binatang atau menyajikan peristiwa masa lalu yang seakan-akan peristiwa tersebut lebih meyakinkan kebenarannya dengan menampilkan pelaku peristiwa atau pelaku sejarah dengan menggunakan kecanggihan AI.

Awas Anda Bisa Sesat!

Bila dicermati dari sajian konten yang ada pada media sosial, semua disajikan dengan sajian yang menggoda pengguna media sosial agar pengguna media sosial tertarik menyaksikan konten mereka, termasuk masalah sosial-keagamaan sekalipun.

Nah, awas hati-hati, Tidak sedikit konten yang kita saksikan, kita baca atau kita buka “menyesatkan”. Kalau diperhatikan bagi pengguna media sosial yang tidak hati-hati atau tidak menelaah atau tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang konten yang akan di baca, di buka atau di tonton bisa menyesatkan mereka. Maaf, biasanya pengguna media sosial yang paling getol menyaksikan konten-konten demikian adalah kalangan emak-emak, apalagi pelaku dalam konten adalah orang yang menjadi idola-nya dan atau peristiwa yang digandrunginya.

Misalnya, ada konten yang menyajikan masalah yang berhubungan dengan ajaran agama, pada saat ia menyaksikan/mendengar isi konten, mereka langsung menerima bulat-bulat atau menerima begitu saja tanpa dikaji dan atau tanpa ditelaah terlebih dahulu. Nah! yang demikian terkadang menyesatkan, karena isi konten tersebut terkadang bertentangan dengan ajaran agama yang sebenarnya (ajaran murni), karena sudah diramu dan atau ditambah dengan unsur tradisi atau hanya mengedepankan unsur akal semata.

Saya pernah menyaksikan, seorang ibu rumah tangga sampai berbantah-bantahan dengan suami-nya, hanya gara-gara sang ibu melarang sang suami untuk jangan melakukan aktivitas tertentu pada hari tertentu, karena sang ibu pernah menyaksikan/mendengar isi konten yang melarang melakukan aktivitas tertentu pada hari tertentu, maka sang ibu pun melarang sang suami untuk melakukannya pada hari tertentu tersebut. Padahal dari akal yang sehat dan dari ajaran agama murni semua hari adalah sama. Jika hal ini terus berlangsung dan banyak diikuti oleh pengguna media sosial, maka akan terjadi “kesesatan” yang tidak terbendung.

Ada juga isi konten yang menampilkan suatu aktivitas berlebihan (makan banyak sekali) agar terkesan seru, sehingga ada pengguna media sosial di kalangan anak muda yang mencoba meniru yang menyebabkan-nya muntah dan lebih jauh mengganggu kesehatannya.

Bagaimana Sebaiknya?

Bagi pembuat konten pada media sosial tersebut, buatlah konten yang tidak mengandung unsur yang menyesatkan, buatlah konten yang tidak mengandung unsur yang membingungkan, buatlah konten yang berdasar, buatlah konten yang berlandaskan ilmu dan pengetahuan yang benar.

Bagi pembuat konten, upayakan jangan sampai mendorong pengguna media sosial menjadi bingung, ragu, dan sesat. Usahakan pengguna media sosial benar-benar mendapatkan ilmu dan manfaat positif dari konten yang kita buat dan atau konten yang kita sajikan pada media sosial tersebut.

Bagi pengguna media sosial atau pemanfaat media sosial, manfaatkanlah media social untuk hal-hal yang positif dan berguna serta berfungsi menambah ilmu pengetahuan. Boleh saja menggunakan media sosial untuk hiburan atau untuk lainnya, namun jangan sampai salah arah dan jangan sampai menyesatkan.

Bagi pengguna media sosial, sebelum menerapkan, sebelum meyakini, sebelum mengimplementasikan isi konten yang di buka, yang di tonton, yang di baca, perlu adanya unsur ke-hati-hatian, “teliti sebelum membeli” atau “teliti sebelum mengempelementasikan”, agar pengguna media sosial terhindar dari “kesesatan”. Semoga!


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kementerian PU Pastikan Jalan Nasional Pantura Barat Bebas Lubang H-10 Lebaran
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menakar Peluang Serapan Pasar terhadap Sukuk Ritel SR024
• 9 jam lalubisnis.com
thumb
JK respons niat Presiden Prabowo jadi mediator AS-Israel dengan Iran
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Tanpa Haaland, Manchester City Tetap Menggila! Gol Semenyo Bikin Arsenal Mulai Panik
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Daftar Harga Emas Antam Termurah Rp3,02 Juta per Gram, Termahal Rp3,08 Juta per Gram
• 14 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.