Bisnis.com, JAKARTA — Yordania selalu sibuk setiap kali konflik antara Iran dan Israel pecah. Jet tempur hingga sistem rudal pertahanan udara bakal hilir mudik memburu pesawat nir awak atau drone bunuh diri maupun rudal balistik Iran yang melaju cepat ke arah tanah pendudukan Israel.
Wilayah Yordania memang dihimpit oleh kawasan yang rawan konflik. Di sebelah utara ada Suriah yang sudah didera konflik sejak peristiwa Revolusi Arab pada 2011 lalu.
Sementara itu di Barat, Yordania berbatasan dengan wilayah Palestina yang diduduki Israel, di timur ada Irak, dan di sebelah selatan perbatasannya membentang luas dengan Arab Saudi. Bisa dibilang, hampir semua negara yang berbatasan langsung dengan Yordania, memiliki sejarah peperangan yang panjang, rumit, dan berdarah-darah. Posisi yang cukup pelik bagi Yordania.
Adapun Yordania sendiri sudah lama dikenal sebagai 'sekutu' dekat AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Saat konflik antara Iran dan Israel pecah pada tahun 2025 lalu, misalnya, militer negara yang dipimpin oleh sahabat Presiden Prabowo Subianto, Raja Abdullah II, itu aktif mencegat rudal-rudal Iran ke wilayah Palestina yang diduduki negara Zionis.
Begitu juga dengan konflik terbaru, ketika AS dan Israel kompak melancarkan serangan ke Iran. Serangan itu mengakibatkan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia. Iran kemudian membalas dengan menembakkan rudal dan drone ke Israel, militer Yordania-pun ikut meng-intercept rudal Iran yang melewati wilayah udaranya.
Meski terancam serangan balasan Iran akibat aksinya itu, suasana Ibu Kota Yordania, Amman, relatif terkendali hingga sehari sebelum perang pecah. Raja Abdullah juga sempat menjamu Presiden Prabowo yang berkunjung ke Yordania pada tanggal 25 Februari 2026 lalu.
Baca Juga
- Jejak Persahabatan Prabowo-Raja Yordania: Ramadan Mubarak, Saudaraku Tersayang
- Oleh-oleh Kunjungan Prabowo ke Yordania, Perkuat Kerja Sama untuk Perdamaian Palestina
- Akrab! Begini Momen Prabowo Disetiri Raja Yordania Abdullah II
Wartawan Bisnis, Akbar Evandio yang turut meliput momentum pertemuan pemimpin kedua negara itu, melaporkan kondisi Kota Amman dua dan sehari sebelum Israel-AS menyerang Iran. Berikut laporannya:
Suasana Tenang Kota AmmanUdara pagi di Kota Amman pada akhir Februari masih terasa dingin menggigit, dengan suhu belasan derajat Celsius pada siang hari dan turun mendekati satu digit ketika malam tiba. Di tengah hawa yang menusuk tulang itu, denyut kehidupan berjalan lebih lambat—lebih khusyuk.
Jalanan ibu kota Kerajaan Yordania Hasyimiah tampak lengang pada pagi hari. Aktivitas perkantoran dan sekolah umumnya baru dimulai sekitar pukul 09.00 Waktu Setempat (WS).
Kompleks sekolah dan kantor yang saling berdekatan membuat kawasan tertentu mendadak hidup bersamaan. Anak-anak tampak berlarian sambil tertawa, memecah sunyi pagi yang masih diselimuti embusan angin dingin dari perbukitan Amman.
Suasana Kota Amman Yordania,/JIBI-Akbar Evandio
Ramadan di kota ini bukan sekadar peristiwa spiritual, melainkan ritme sosial yang mengubah pola aktivitas publik. Pada siang hari, hampir tak terlihat warga makan atau minum di ruang terbuka. Kepatuhan terhadap norma kolektif begitu terasa.
Bahkan, berdasarkan ketentuan yang berlaku, mereka yang kedapatan makan atau minum di ruang publik tanpa alasan yang dibenarkan dapat dikenai denda sekitar 15 dinar Yordania atau sanksi hukum lainnya. Aturan itu menjadi refleksi kuatnya penghormatan sosial terhadap bulan suci.
Namun, ketegasan tersebut berjalan beriringan dengan toleransi. Warga non-Muslim tetap dapat beraktivitas seperti biasa di ruang privat. Restoran tertentu melayani mereka secara tertutup. Kehidupan berlangsung dalam keseimbangan antara penghormatan dan kebersamaan.
Suasana Hangat Menjelang MaghribMemasuki sore hari, lanskap Amman berubah. Lalu lintas mulai padat menjelang waktu berbuka puasa. Pusat kota dan kawasan permukiman dipenuhi kendaraan yang bergegas pulang. Aroma roti hangat, nasi mandi, dan sup lentil menyeruak dari dapur-dapur rumah dan gerai makanan.
Di banyak sudut kota, warga berbagi kurma dan air mineral kepada pengendara atau pejalan kaki yang masih berada di jalan saat azan maghrib berkumandang. Tradisi berbagi itu menjadi pemandangan lazim—sebuah ekspresi solidaritas yang menguat pada bulan suci.
Suasana Kota Amman Yordania./JIBI-Akbar Evandio
Masjid-masjid pun penuh saat salat tarawih. Jamaah meluber hingga ke pelataran. Lampu-lampu hias Ramadan menghiasi jalan utama dan pusat perbelanjaan. Keluarga-keluarga berjalan santai selepas ibadah malam, anak-anak kembali bermain, dan kedai kopi tradisional dipadati warga yang bercengkerama hingga larut.
Sekitar 95% penduduk Yordania merupakan Muslim Sunni. Dengan lebih dari 2,4 juta pengungsi Palestina yang tinggal di negara ini—termasuk di 13 kamp pengungsian—Ramadan memiliki makna sosial yang lebih dalam. Ia bukan hanya bulan ibadah, melainkan juga momentum mempererat solidaritas, terutama dalam konteks isu Palestina yang secara geografis dan historis begitu dekat dengan Yordania.
Hangatnya Diplomasi di Bulan SuciSuasana damai Ramadan di Amman juga menjadi latar bagi pertemuan Presiden RI Prabowo Subianto dengan Raja Abdullah II bin Al-Hussein di Istana Basman pada 25 Februari 2026. Dalam sambutannya, Raja Abdullah II menyapa dengan hangat,
“Ramadan Mubarak, saudaraku tersayang. Dan saya senang Anda kembali ke negara Anda ini lagi,” ucapnya kepada Prabowo.
Pilihan kata tersebut menegaskan kedekatan personal yang telah terjalin sejak keduanya sama-sama menempuh pendidikan militer di Fort Benning, Amerika Serikat, pada era 1980–1990-an. Prabowo pun menyebut Amman sebagai rumah kedua, menandai relasi yang melampaui protokol diplomatik.
Presiden Prabowo Subianto dengan Raja Yordania King Abdullah II./Ist
Pertemuan tersebut membahas situasi Gaza, Tepi Barat, dan komitmen terhadap solusi dua negara. “Indonesia berkomitmen untuk melakukan apa pun yang kami bisa demi solusi yang langgeng,” ujar Prabowo dalam pertemuan bilateral itu.
Kehangatan Ramadan terasa menyatu dengan percakapan mengenai perdamaian. Diplomasi berlangsung dalam suasana yang humanis—di tengah kota yang menjalani ibadah dengan khusyuk.
Sehari Menjelang EskalasiSuasana perdesaan di Yordania./JIBI-Akbar Evandio
Potret damai itu menjadi kontras ketika sehari berselang, kawasan Timur Tengah kembali diguncang eskalasi menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Ketegangan geopolitik yang meningkat memicu kekhawatiran terhadap stabilitas regional.
Namun pada hari-hari sebelumnya, Amman menunjukkan wajah berbeda: kota yang hidup dalam disiplin spiritual, solidaritas sosial, dan kehangatan persaudaraan. Dari pagi yang dingin dengan anak-anak sekolah berlarian, hingga malam yang hangat oleh doa dan kebersamaan, Ramadan di Amman merekam ironi kawasan—di satu sisi sarat harapan damai, di sisi lain dibayangi gejolak.
Di bawah cahaya lampu dan gema doa tarawih, kehidupan tetap berjalan. Warga berbagi makanan menjelang azan, masjid-masjid penuh oleh jamaah, dan kota tua di perbukitan itu mengajarkan satu hal: bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik, tradisi, iman, dan solidaritas sosial tetap menjadi jangkar ketenangan.





