Pengaruh Asing Menguat, Komunitas Tionghoa Imbau Utamakan Keindonesiaan

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Pengaruh budaya asing yang kian menguat mendorong komunitas Tionghoa di Indonesia, menegaskan pentingnya mengedepankan identitas keindonesiaan.

Seruan ini mengemuka dalam diskusi bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” yang menyoroti posisi Tionghoa Indonesia di tengah arus global.

BACA JUGA: Demi Keselamatan, Pemerintah Tiongkok Ubah Aturan Desain Kemudi Mobil

Para pembicara menilai masyarakat Tionghoa di Indonesia, telah mengalami proses adaptasi dan akulturasi panjang dengan berbagai etnis di Nusantara.

Karena itu, kebudayaan yang berkembang dinilai memiliki kekhasan Indonesia, dan tidak dapat disamakan dengan budaya di daratan Tiongkok.

BACA JUGA: Promosi Budaya Guangxi Pererat Kerja Sama Pariwisata Indonesia dan Tiongkok

Ketua Forum Sinologi Indonesia (FSI) Johanes Herlijanto mengutip pandangan akademisi Singapura Wang Gungwu yang menilai komunitas Tionghoa perantauan memiliki kemampuan beradaptasi tinggi.

“Sepanjang sejarah, Tionghoa sudah mengambil posisi tersebut, dan telah mengedepankan keIndonesiaan baik dalam aspek budaya maupun identitas politik mereka,” ujarnya.

BACA JUGA: Bahas Fenomena Migrasi Kaum Rebahan Asal China, FSI Datangkan Ahli Kelas Dunia

Imbauan kuat juga datang dari perwakilan Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), Septeven Huang.

Dia menekankan pentingnya generasi muda membangun identitas nasional yang kokoh di tengah derasnya pengaruh budaya luar.

“Janganlah generasi muda Tionghoa larut dalam krisis identitas, lalu mencoba mengadopsi kebudayaan luar, baik yang kebarat-baratan, yang berkharaktersistik Korea, atau bahkan Tiongkok. Hindari menjiplak langsung kebudayaan Tiongkok tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang berbingkai keindonesiaan,” tutur Septeven.

Dia menegaskan komitmen kebangsaan komunitas Tionghoa Indonesia. “Sebagai Tionghoa yang mencintai Indonesia, kami beranggapan bahwa kami Tionghoa, dan kami Indonesia,” kata Septeven.

Peneliti senior Badan Riset dan Inovasi Negara (BRIN), Thung Julan, menilai pernyataan tersebut merupakan wujud pilihan politik dalam berbangsa.

Dia menjelaskan identitas bersifat kompleks karena terbentuk melalui interaksi, akulturasi, hingga asimilasi yang panjang dalam sejarah Indonesia.

Sementara itu, Christine Susanna Tjhin menyoroti bahwa dari perspektif Tiongkok terdapat tiga istilah untuk diaspora, yakni Huayi, Huaren, dan Huaqiao.

Menurutnya, dinamika identitas Tionghoa Indonesia semakin kompleks di era globalisasi sehingga dikotomi lama seperti totok dan peranakan perlu kembali dipertanyakan relevansinya. (jlo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korban Tewas di SD Putri Iran Akibat Serangan Israel Bertambah Jadi 108 Orang
• 23 jam laludetik.com
thumb
Kronologi Edarkan Sabu Pakai Tutut, Pemuda Lembang Ditangkap Polisi | KOMPAS SIANG
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Media Pemerintah Iran Konfirmasi Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia
• 19 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ada Pemain Keturunan Jawa dalam Gol Penting Justin Hubner di Fortuna Sittard, Siap Dilirik John Herdman ke Timnas Indonesia?
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Swasembada Energi Dinilai Jadi Kunci Hadapi Dampak Konflik AS-Israel-Iran
• 7 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.