Bisnis.com, JAKARTA — Amerika Serikat terpantau mengerahkan beragam sistem persenjataan untuk menyerang Iran dalam beberapa hari terakhir ini. Pemerintahan Presiden Donald Trump itu mengandalkan rudal hingga drone untuk menembus pertahanan Teheran.
Dalam operasi yang diberi nama kode Epic Fury, Angkatan Laut AS meluncurkan rudal jelajah Tomahawk dari kapal perang di wilayah Teluk Persia. Tomahawk merupakan senjata jarak jauh yang mampu menyerang target strategis dari ratusan mil laut tanpa perlu kehadiran langsung pasukan darat di wilayah musuh.
Rudal yang dapat beroperasi di laut dan di darat ini terbang pada ketinggian rendah untuk target tetap seperti situs komunikasi dan pertahanan udara. Rudal sepanjang 5,6 meter (18,4 kaki) tersebut memiliki jangkauan hingga sekitar 2.400 km (1.500 mil) dan dapat melaju dengan kecepatan 885 km (550 mil) per jam.
Menurut data anggaran Pentagon, AS berencana membeli 57 rudal Tomahawk yang diproduksi Raytheon pada 2026. Adapun, 1 rudal bernilai US$1,3 juta.
Dalam kesepakatan terbaru antara AS dan Raytheon, mereka akan memproduksi 1.000 unit Tomahawk setiap tahun.
Dari darat, Korps Marinir AS menggunakan High Mobility Artillery Rocket System (HIMARS) yang dikenal karena mobilitas tinggi dan kemampuan menembakkan roket presisi ke target tertentu. HIMARS dirancang untuk menyerang dan menghancurkan artileri, konsentrasi pertahanan udara, truk, dan kendaraan lapis baja ringan serta pengangkut personel, serta mendukung konsentrasi pasukan dan pasokan.
Baca Juga
- Prabowo Siap Berangkat ke Teheran, jadi Juru Damai Perang Iran vs AS-Israel
- Nasib Harga Minyak Mentah dan BBM di Tengah Seruan Iran Tutup Selat Hormuz
- Suasana Tenang di Jantung Kota Amman Sehari Jelang AS-Israel Serang Iran
“Operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah,” ujar Menteri Perang AS Pete Hegseth, dikutip dari Times of India, Minggu (1/3/2026).
Selain itu, militer AS juga mengandalkan jet tempur FA-18 dan F-35 dalam serangannya ke Iran. F-35 merupakan pesawat tempur siluman generasi kelima yang dirancang untuk menghindari deteksi radar seraya membawa senjata berpemandu presisi.
Pesawat tersebut juga dapat membawa rudal khusus yang dirancang untuk menemukan dan menghancurkan sistem radar musuh, sehingga membutakan jaringan pertahanan udara.
Diketahui, FA-18 adalah pesawat multiperan. Pesawat buatan Boeing. Ini dapat melakukan misi udara ke udara dan udara ke darat, dengan membawa berbagai macam bom serta rudal.
Kemudian, salah satu inovasi yang mencolok adalah penggunaan drone bunuh diri, yang diidentifikasi mirip dengan sistem “kamikaze” satu arah. Perangkat ini, dikenal sebagai Low-Cost Unmanned Combat Attack System (LUCAS), diproduksi dengan biaya relatif murah dibandingkan dengan drone canggih lain.
Drone ini terinspirasi dari drone Shahed milik Iran. Setiap drone LUCAS bernilai US$35.000, dengan demikian, dapat diproduksi dalam skala besar.





