Ini Rentetan Dampak bagi Indonesia Usai AS-Israel Agresi Iran

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR–Pasokan minyak dunia bakal terganggu. Stabilitas regional Asia tak menentu.

Tewasnya Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, mengguncang geopolitik. Sosok yang selama lebih dari tiga dekade menjadi simbol kekuatan Iran itu menjadi target serangan yang dikaitkan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Israel.

Isu ini bukan hanya menyangkut pergantian kepemimpinan. Akan tetapi berpotensi memicu ketegangan besar di kawasan Timur Tengah hingga Asia.

Salah satu dampak paling cepat terasa adalah pada harga minyak dunia. Apalagi beredar informasi bahwa Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran menutup Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Jika jalur ini benar-benar terganggu, harga minyak mentah berpotensi melonjak tajam. Kenaikan tersebut hampir pasti berdampak pada negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak bisa berimbas pada tekanan inflasi, beban subsidi energi, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah. Stabilitas ekonomi domestik berpotensi terdampak jika konflik berkepanjangan.

Pakar Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Ishaq Rahman, menilai situasi ini bisa memanaskan seluruh kawasan Timur Tengah. Kalau eskalasi berlanjut, dampaknya bukan hanya ke Israel.

“Iran punya jaringan dan pangkalan yang bisa menjangkau kepentingan Amerika Serikat di kawasan, termasuk di Yaman dan negara Timur Tengah lainnya,” ujarnya, Minggu, 1 Maret 2026.

Konflik yang meluas juga akan berdampak pada jalur penerbangan internasional. Maskapai kemungkinan akan menghindari wilayah udara tertentu demi keselamatan, yang pada akhirnya meningkatkan biaya logistik dan perjalanan global.

Pertanyaan besar lain adalah apakah kematian Khamenei menandai berakhirnya Republik Islam Iran. Ishaq menilai kemungkinan runtuhnya sistem politik Iran sangat kecil.

“Mekanisme pemilihan pemimpin tertinggi di Iran ditentukan oleh Dewan Ahli yang terdiri dari tokoh-tokoh agama. Sistemnya sudah mapan dan tidak mudah diintervensi pihak luar,” jelasnya.

Artinya, skenario Amerika Serikat atau Israel menentukan pemimpin Iran berikutnya hampir mustahil terjadi. Struktur kekuasaan Iran dirancang untuk menjaga kesinambungan ideologi revolusi.

Secara historis, Iran memiliki akar peradaban panjang sejak era Persia kuno. Negeri itu telah melewati berbagai invasi dan konflik besar, namun selalu mampu bangkit kembali.

“Iran punya identitas nasional dan religius yang sangat kuat. Sejarah panjang pertempuran justru membentuk mental kolektif yang sulit dipatahkan,” tambah Ishaq.

Di dalam negeri, Khamenei dikenal sebagai pemimpin yang bersahaja dan dekat dengan rakyat. Citra ini membuatnya memiliki basis dukungan yang solid. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa minimnya pengawalan super ketat menjadi salah satu faktor kerentanannya.

Khamenei disebut memilih tidak hidup dalam pengamanan berlapis seperti lazimnya kepala negara lain, melainkan berbaur dengan masyarakat.

“Terlepas dari berbagai spekulasi, satu hal yang pasti. Jika benar terjadi, peristiwa ini akan menjadi titik balik besar bagi Timur Tengah. Harga minyak, stabilitas kawasan, hingga keamanan global berada dalam posisi rentan,” bebernya.

Perang Teluk

Agresi AS-Israel terhadap Iran akan berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi global dan Asia, termasuk Indonesia.

Pengamat Hubungan Internasional Muhammad Nasir Badu menilai, dalam konteks konflik terkini, serangan balasan Iran terhadap Israel yang belakangan dikabarkan juga mengarah ke sejumlah negara Arab, berpotensi memperluas konflik kawasan.

Roket Iran meluncur ke Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab, menyasar fasilitas militer AS di negara itu. Hal ini bisa memicu pembalasan, sehingga perang akan meluas.
Berbeda dengan Israel yang memiliki dukungan kuat dari sekutu regional dan global, Iran justru relatif bergerak sendiri.

Negara-negara Arab, secara politik dan ideologis tidak sepenuhnya bersimpati pada Iran, terutama karena perbedaan mazhab dan pengaruh Syiah yang kuat.

“Ketika Iran menyerang Israel kemarin, itu sebenarnya bekerja sendiri. Negara-negara Arab tidak terlalu mendukung Iran, dan itu membuat posisi Iran cukup sulit secara regional,” ujarnya.

Saat ini, Iran merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia. Jika konflik berlanjut dan memicu penutupan Selat Hormuz, maka lonjakan harga minyak tidak terelakkan dan akan memengaruhi perekonomian global, termasuk Asia dan Indonesia.

“Indonesia ini, kan, masih sangat tergantung pada impor minyak. Kalau harga minyak dunia naik karena konflik Iran, maka itu akan berpengaruh ke APBN, subsidi energi, dan pada akhirnya ke daya beli masyarakat,” katanya.

Kenaikan harga energi juga dapat memicu inflasi lanjutan serta memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional, terutama jika konflik berlangsung dalam jangka panjang dan mengganggu jalur distribusi minyak internasional.

“Kalau eskalasi ini berkepanjangan, dampaknya bukan hanya geopolitik, tapi langsung ke ekonomi nasional. Indonesia tidak bisa menghindar dari efek domino konflik Timur Tengah,” ujarnya.

Asia Timur seperti China, Jepang, dan Korea Selatan yang sangat bergantung pada pasokan energi Timur Tengah juga akan terdampak. Kenaikan harga energi akan menekan rantai pasok dan memperburuk inflasi kawasan.

Di lain sisi, Kematian Ali Khamenei tidak serta-merta menandai runtuhnya Republik Islam Iran. Skenario suksesi kepemimpinan telah lama dipersiapkan oleh rezim, termasuk peran kuat Garda Revolusi Iran dalam menjaga stabilitas politik.

Keberadaan kelompok oposisi pendukung Reza Pahlavi yang kembali menguat, juga mendapat momentun. Namun, mereka masih menghadapi hambatan besar di dalam negeri Iran.

“Tapi sejauh Garda Revolusi bisa menahan tekanan internal, saya pikir Republik Islam Iran akan tetap bertahan dan tidak jauh berbeda dari kebijakan Ali Khamenei,” kata Nasir Badu.

Tanpa dukungan kuat dari negara-negara Arab dan keterlibatan aktif aktor besar seperti Rusia dan China, posisi Iran akan penuh tantangan. Israel dan Amerika yang diuntungkan jika kawasan ini makin memanas.

Secara geopolitik Iran selama ini memang menjadi sasaran tekanan AS dan Israel, terutama setelah negara-negara kuat di kawasan seperti Irak, Libya, dan Suriah melemah.

Kondisi itu menjadikan Iran satu-satunya kekuatan regional yang masih dianggap memiliki potensi ancaman terhadap kepentingan Barat.

Berbagai tuduhan terkait kepemilikan senjata nuklir Iran kerap dibesar-besarkan. Padahal, Iran merupakan salah satu negara yang menandatangani perjanjian pembatasan nuklir internasional, sementara Israel justru tidak terikat dalam perjanjian tersebut.

“Iran diisukan punya senjata nuklir, Israel justru tidak pernah disentuh,” ujarnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian berjanji akan merespons pembunuhan Khamenei. Kejahatan besar tersebut tidak akan pernah dibiarkan tanpa jawaban dan akan membuka lembaran baru dalam sejarah dunia Islam dan Syiah.

“Darah murni pemimpin berpangkat tinggi ini akan mengalir seperti mata air yang deras dan akan memberantas penindasan dan kejahatan Amerika-Zionis. Kali ini juga, dengan segenap kekuatan dan tekad kami, dengan dukungan bangsa Islam dan rakyat bebas di dunia, kami akan membuat para pelaku dan komandan kejahatan besar ini menyesalinya,” ucapnya. (edo-an/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Hari Ini 2 Maret 2026: Produk Antam Meroket Tembus Rp 3,135 Juta per Gram
• 49 menit laluviva.co.id
thumb
Kedubes Iran Apresiasi Niat Prabowo Jadi Mediator Konflik AS-Israel dengan Iran
• 12 jam lalukatadata.co.id
thumb
Kemlu Imbau WNI di Timur Tengah Tenang tapi Waspada, Ini Nomor Hotline Perwakilan RI
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Jenazah Ketua KPAI Sekaligus Ketum Fatayat NU Disholatkan di Kantor PBNU
• 16 jam laluokezone.com
thumb
PKB Kutuk Keras Tindakan AS dan Israel terhadap Ali Khamenei
• 20 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.