Jakarta, ERANASIONAL.COM – Aktris sekaligus musisi ternama Sherina Munaf dipastikan akan kembali ke dunia seni peran lewat proyek film adaptasi novel best seller Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Film ini menjadi salah satu proyek layar lebar yang cukup dinantikan, mengingat novel tersebut telah memberi pengaruh besar bagi banyak pembacanya di Indonesia.
Keterlibatan Sherina dalam film ini terasa semakin menarik karena ia bukan sekadar aktris yang ditawari peran, melainkan juga pembaca lama yang mengaku memiliki kedekatan emosional dengan isi buku tersebut. Dalam wawancara di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026), Sherina membagikan pengalamannya saat pertama kali membaca buku yang mengangkat filsafat Stoa itu dan bagaimana ajarannya membantunya menjalani kehidupan pribadi maupun karier.
Menurut Sherina, kehidupan setiap manusia tidak pernah lepas dari persoalan. Ia menyadari bahwa tekanan, ekspektasi publik, hingga dinamika hubungan personal merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidupnya. Dari sanalah ia merasa prinsip-prinsip yang dijabarkan dalam Filosofi Teras terasa relevan dan membumi.
“Banyak sekali hal yang akhirnya aku terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai manusia, kita pasti menghadapi berbagai masalah. Tidak ada hidup yang benar-benar tanpa tantangan,” ujar Sherina.
Ia menjelaskan bahwa saat membaca buku tersebut, ada perasaan familiar yang muncul. Beberapa prinsip stoik seperti fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan dan menerima hal-hal di luar kendali ternyata sudah ia praktikkan secara intuitif sejak lama. Namun melalui buku itu, ia mendapatkan kerangka berpikir yang lebih runtut dan terstruktur.
Sherina mengungkapkan bahwa membaca Filosofi Teras memberinya pemahaman baru tentang emosi, respons terhadap tekanan, dan cara memandang kegagalan. Ia menyadari bahwa banyak kecemasan muncul karena manusia kerap memikirkan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kuasanya. Dengan memahami batas kendali diri, ia merasa lebih tenang dalam mengambil keputusan.
Baginya, kekuatan utama buku tersebut terletak pada pendekatannya yang sederhana dan mudah dipahami, meski mengangkat filsafat kuno. Filosofi Stoa yang dipopulerkan kembali oleh Henry Manampiring dianggap berhasil diterjemahkan ke dalam konteks kehidupan modern, termasuk bagi generasi muda yang akrab dengan dinamika media sosial dan tekanan digital.
Sherina juga menilai buku ini bukan hanya menyentuh secara emosional, tetapi benar-benar memberikan alat praktis untuk menghadapi kehidupan. Ia menyebut banyak orang di sekitarnya yang turut merasakan dampak positif setelah membaca karya tersebut.
Kedekatan Sherina dengan Henry Manampiring menjadi salah satu alasan kuat ia percaya pada proyek adaptasi film ini. Ia mengaku sudah lama berdiskusi dengan Henry, bahkan sejak sebelum Filosofi Teras menjadi fenomena nasional. Percakapan mereka tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga pengalaman hidup sehari-hari.
Menurut Sherina, hubungan yang terjalin membuatnya memahami visi dan misi sang penulis secara lebih mendalam. Ia percaya bahwa pesan yang terkandung dalam buku tetap bisa tersampaikan dengan baik meskipun medium yang digunakan berbeda.
Adaptasi dari buku ke film tentu memiliki tantangan tersendiri. Format visual menuntut pendekatan dramatik yang kuat agar pesan filosofis tidak terasa menggurui. Namun Sherina optimistis bahwa tim produksi mampu meramu cerita yang tetap relevan dan menyentuh.
Film ini akan diproduksi oleh MD Pictures, rumah produksi yang dikenal sukses menghadirkan berbagai film populer di Indonesia. Keterlibatan MD Pictures menambah ekspektasi publik terhadap kualitas produksi, baik dari segi naskah, sinematografi, maupun jajaran pemain.
Selain Sherina, film ini juga menghadirkan deretan aktor dan aktris ternama seperti Zee Asadel, Ge Pamungkas, Lydia Kandou, Kiki Narendra, Rangga Nattra, Givina Lukita, Dinda Kanya Dewi, Putri Ayudya, dan Ina Marika. Kehadiran para pemain lintas generasi ini diyakini akan memperkaya dinamika cerita di layar lebar.
Bagi Sherina, keterlibatannya dalam film ini bukan sekadar proyek akting biasa. Ia melihatnya sebagai kesempatan untuk menyampaikan nilai-nilai reflektif kepada audiens yang lebih luas. Ia berharap film ini bisa menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang mungkin belum sempat membaca bukunya, sekaligus memperdalam pemahaman bagi mereka yang sudah lebih dulu mengenal konsep stoikisme.
Ia juga menyinggung bahwa di tengah situasi dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, banyak orang mengalami tekanan mental dan kecemasan berlebih. Melalui cerita yang dikemas secara sinematik, ia berharap pesan tentang ketenangan batin, pengendalian diri, dan kebijaksanaan dapat tersampaikan secara lebih emosional dan membumi.
Sherina menambahkan bahwa proses adaptasi ini menjadi ruang kolaborasi yang menarik antara dunia literasi dan perfilman Indonesia. Ia percaya bahwa film yang diangkat dari buku dengan fondasi kuat memiliki peluang besar untuk memberikan dampak jangka panjang, bukan hanya hiburan sesaat.
Dengan latar belakangnya sebagai figur publik yang tumbuh sejak usia muda di industri hiburan, Sherina merasa memiliki pengalaman personal yang membuatnya semakin terhubung dengan nilai-nilai dalam Filosofi Teras. Ia memahami bagaimana ekspektasi publik dapat memengaruhi kondisi mental seseorang, dan di situlah ajaran stoik menjadi relevan.
Menjelang proses produksi, antusiasme penggemar pun mulai terasa di media sosial. Banyak yang penasaran bagaimana buku yang sarat refleksi filosofis ini akan diterjemahkan ke dalam bentuk visual yang dramatis namun tetap ringan dicerna.
Sherina berharap film ini nantinya tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga memberi dampak positif bagi penonton. Ia percaya bahwa karya seni yang baik adalah karya yang mampu menemani dan membantu orang menghadapi fase-fase sulit dalam hidupnya.
Dengan kombinasi cerita yang kuat, tim produksi berpengalaman, serta kedekatan emosional para pemain terhadap materi cerita, adaptasi Filosofi Teras berpotensi menjadi salah satu film Indonesia yang tak hanya menghibur, tetapi juga memberi ruang refleksi bagi masyarakat luas.





