'HIDUP hanyalah sekejap bayang.
Maka isi ia dengan cinta, bukan kebencian'.
Sastrawan Persia Omar Khayyam mengingatkan bahwa kefanaan manusia seharusnya membuat kita merawat kehidupan, bukan menghancurkannya. Di tengah dunia yang kerap didera perang dan dendam, suara sastrawan Persia itu seperti mata air di padang gersang. Mereka mengajarkan bahwa peradaban tak dibangun senjata, tapi oleh hati yang mau memahami.
Tulisan ini mungkin serupa teriakan kecil di padang yang luas. Mungkin pula tidak melahirkan dampak. Bisa jadi sekadar ajakan untuk menggugurkan diri dari level 'selemah-lemah iman' karena diam. Namun, siapa tahu masih ada hati yang tertambat.
Setelah melihat dunia kembali diguncang dentuman yang merobek langit Teheran, nurani kemanusiaan saya terkoyak. Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, bukan sekadar operasi tempur. Ia pukulan telak terhadap tatanan dunia yang selama puluhan tahun dibangun dengan darah, air mata, dan kesepakatan internasional yang rapuh.
Korban berjatuhan. Anak-anak Iran, seperti yang terlihat di sekolah dasar (SD) khusus perempuan di wilayah Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, menjadi bagian paling memilukan dari statistik yang dingin dan tak berperasaan. Lebih dari itu, wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam serangan tersebut menandai babak baru yang sangat berbahaya.
Ketika simbol tertinggi sebuah negara teokratis tumbang akibat serangan eksternal, respons yang lahir hampir pasti bukan sekadar kecaman diplomatik. Ia bara dendam yang menyala. Garda Revolusi Iran pun sudah bersumpah menghukum 'para pembunuh' pemimpin tertinggi mereka, Ali Khamenei. Iran menyatakan akan memberikan balasan keras dan patut disesalkan musuh.
Tatanan dunia diguncang bukan hanya karena bom dan rudal, melainkan juga karena hukum internasional terasa tak lagi menjadi rujukan utama. Prinsip kedaulatan negara, yang selama ini dijaga dalam Piagam PBB, mendadak seperti selembar kertas yang mudah disobek ketika kepentingan geopolitik bermain.
Sejarah mengajarkan kepada kita Timur Tengah ialah ladang api yang mudah membesar. Setiap percikan bisa menjelma kobaran. Iran bukan negara yang berdiri sendiri. Ia memiliki jejaring proksi dan sekutu ideologis di berbagai penjuru kawasan. Serangan brutal akan dibalas dengan serangan brutal. Hukum besi konflik berbunyi demikian. Ketika balas-membalas menjadi bahasa utama, akal sehat tersingkir.
Kita tidak sedang berbicara tentang perang dua negara semata. Kita sedang berdiri di tepi jurang eskalasi regional yang bisa menyeret kekuatan-kekuatan global lain. Ketika proksi-proksi Amerika di Timur Tengah diserang dan sekutu-sekutu Israel ikut terlibat lebih jauh, spiral konflik akan sulit dihentikan. Dari Laut Merah hingga Teluk Persia, dari Suriah hingga Libanon, api bisa menjalar tanpa kendali.
Inilah titik ketika dunia seharusnya berhenti sejenak dan bertanya, ke mana peradaban hendak dibawa? Apakah kita rela menyaksikan anak-anak kembali menjadi korban, kota-kota menjadi puing, dan ekonomi global runtuh oleh lonjakan harga energi dan gangguan jalur perdagangan?
Baca Juga: Israel Kembali Serang Teheran Usai Menewaskan Khamenei
Perang Dunia Ketiga bukan sekadar istilah retoris. Ia kemungkinan nyata ketika blok-blok kekuatan saling mengunci dalam permusuhan terbuka. Dalam dunia yang saling terhubung, satu rudal di Timur Tengah bisa mengguncang pasar Asia, Eropa, hingga Amerika Latin. Krisis kemanusiaan dan pengungsi akan membanjiri banyak negara. Tatanan perdamaian yang susah payah dirawat sejak Perang Dunia II bisa runtuh.
Di sinilah tanggung jawab moral komunitas internasional diuji. Dewan Keamanan PBB tak boleh kembali terjebak dalam veto dan saling sandera kepentingan. Negara-negara besar harus menahan diri. Retorika balas dendam hanya akan mempercepat kehancuran kolektif.
Indonesia tidak boleh diam. Sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif dan tradisi panjang diplomasi damai, Indonesia harus mengambil peran. Jakarta mesti menggalang dukungan dari negara-negara ASEAN, Organisasi Kerja Sama Islam, hingga Gerakan Nonblok untuk menyerukan penghentian segera permusuhan.
Seruan itu sederhana, tetapi mendesak, yakni akhiri perang segera. Kembalikan Amerika Serikat dan Israel serta Iran ke meja dialog dan perundingan. Hanya diplomasi yang mampu memutus mata rantai kekerasan.
Dialog bukan tanda kelemahan. Ia puncak peradaban. Di meja perundingan, yang dihadirkan bukan rudal, melainkan argumentasi. Di dalam dialog, yang hadir bukan ledakan, melainkan komitmen bersama untuk hidup berdampingan.
Kemanusiaan harus menjadi panglima. Jika tidak, sejarah akan mencatat generasi ini sebagai generasi yang gagal menjaga warisan perdamaian dunia. Akhiri perang, sebelum dunia benar-benar kehilangan masa depannya. Wariskan cinta, bukan kepedihan.




