Empat Alasan Iran Menuntut Balas atas Syahidnya Ali Khamenei

rctiplus.com
7 jam lalu
Cover Berita

(Oleh: M Sholeh Basyari, Direktur Ekskutif Center Strategic on Islamic and International Studies (CSIIS), Jakarta)

KESYAHIDAN Ali Khamenei, tampaknya bukan penanda pereda ketegangan. Konflik Amerika-Israel melawan Iran besar kemungkinan makin membara. Oleh karena itu, Amerika belum buru-buru menarik semua armadanya dari kawasan Timur Tengah. Israel juga masih gencar melakukan provokasi.

Sementara, Hauthi dan Hizbullah, juga proxy Iran lain di Iraq, juga tengah melakukan pergeseran posisi mendekati perbatasan darat Iran.

Setidaknya ada empat konteks yang mendasari kenapa konflik ini akan berlangsung lama? 

Pertama, pasca Bung Karno, Josep Boz Tito, Nehru dan Gamal Abdul Nasser, juga, Fidel Castro, tokoh serius yang berani melawan  Amerika "hanya" Ayatullah Ali Khamenei.  Sejatinya publik internasional banyak yang simpatik pada Iran. Ali Khamenei memenuhi dan mengisi hajat publik internasional tidak sekedar tandingan (counterculture), melainkan bagaimana bersikap "humanizing the face of enemy" (memanusiakan musuh).

Kedua, sejatinya, konflik As Israel melawan Iran, tidaklah terlalu prinsip. Konflik itu tak beda dengan operasi Amerika di Venezuela. Konflik ini polanya khas Amerika. Konflik serupa yang publik juga sangat paham seperti terjadi  sebelumnya di Libya, Iraq, Suriyah. Serangkaian konflik yang dibangun atas tudingan sumir: nuklir. Padahal musabab utama sejumlah operasi militer tersebut mulai dari pengalihan isu dalam negeri As maupun Israel, hingga  "sekadar" validasi atas  superioritas As. Untuk alasan yang terakhir ini setidaknya seperti pidato Donald Trump "rezim ini (Iran) segera menyadari, bahwa tidak seorangpun boleh menantang kekuatan dan kehebatan angkatan bersenjata Amerika".

Ketiga, posisi strategis Iran. Negeri Syiah ini, memiliki kartu truf kawasan berupa selat Hormuz. Selat ini, jantung ekonomi dan energi dunia. Iran tidak usah diajari tentang bagaimana caranya memaksimalkan dan memainkan selat seluas 45Km ini, untuk "menyiksa" lebih dari setengah pengguna minyak dan gas dunia?

Hari ini Iran menutup selat itu. Tetapi jika Amerika tidak segera memberikan konsesi dan insentif memadai atas syahidnya Ali Khamenei, sangat mungkin Iran bertindak lebih brutal atas selat tersebut. 

Keempat, Iran terbukti sukses membina Hauthi di Yaman, Hizbullah di Libanon dan Suriyah serta Hamas di Palestina. Tidak sekedar sebagai proxy, kehadiran Hauthi, Hizbullah dan Hamas, idealnya dibaca lebih serius sebagai semacam double track diplomacy. Hal ini penting, mengingat pasca revolusi Islam Iran tahun 1979, Iran dikucilkan dari pergaulan kawasan akibat sanksi ekonomi dan diplomasi, berkepanjangan.

Jago Amerika dan Tiga Wajah Iran  pasca Khamenei 

Hingga syahidnya Ali Khamenei, operasi Amerika dan Israel atas Iran, tidak disertai skenario lanjutan tentang sosok pengganti tokoh paling berpengaruh di dunia Islam ini.

Setidaknya dengan merujuk resources yang ada, wajah Iran memiliki tiga alternatif. Pertama, Iran seperti sekarang, dengan Ali Laranjani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. 

Kedua, Iran kembali ke jaman sebelum revolusi Islam 1979. Peluang ini ada, meski Amerika tidak nampak menyiapkan putra mahkota yang terusir di pengasingan, Reza Pahlevi. Tetapi gerakan masive di Toronto, Melbourne, serta sejumlah kota di Eropa, mengisyaratkan dia siap pulang kampung ke Teheran.

Ketiga, bisa saja figur kompromi antara Barat dan Iran yang diusung. Tokoh ini minimal sebagai pimpinan transisi untuk memudahkan Amerika dan Israel mendesakkan agenda-agenda jangka pendek. Siapa tokoh tersebut?

Dewan kepemimpinan interim Iran yang terdiri dari: Presiden, Ketua Mahkamah Agung, serta Mustasyar (penasehat) dari Dewan Wali telah menunjuk Ali Reza Arafi, sebagai pengganti sementara Ali Khamenei. 

Penutup 

Kesigapan dewan interim menunjuk pemimpin transisi, mengisyaratkan bahwa pemerintahan Iran solid. Rantai komando hingga kebijakan strategis tidak terganggu. Antisipasi atas mangkatnya Ali Khamenei terlihat dipersiapkan dengan matang. Publik internasional menunggu; apakah Amerika punya skenario lain atas masa depan Iran ?

Original Article


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Naik 2% Imbas Konflik, Emas Pegadaian Lampaui Rp 3,1 Juta Per Gram
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
Baznas berikan edukasi keagamaan untuk anak jalanan di Ciputat Tangsel
• 23 jam laluantaranews.com
thumb
Trump Ancam Gunakan Kekuatan yang Belum Pernah Terlihat ke Iran
• 23 jam laludetik.com
thumb
Luna Maya Hampir Tenggelam saat Syuting Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
KRL Bogor-Jakarta Kota Gangguan gegara Masalah Rel di Stasiun Bogor-Cilebut
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.