JAKARTA, KOMPAS.com – Jumlah situ atau danau alami yang berfungsi sebagai pengendali banjir di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan sekitarnya (Jabodetabek) terus menyusut.
Hal ini pun menjadi salah satu faktor utama semakin parahnya ancaman banjir yang melanda kawasan Jabodetabek belakangan ini.
Baca juga: Situ Dukuh di Bekasi Kian Tersisih: Dulu Paru-paru Terbesar, Air Kini Nyaris Hilang
Tersisa 187 situBerdasarkan data Water Resources Data Center (WRDC), dari ribuan situ yang sebelumnya terdata, saat ini hanya terdapat 187 situ yang berada dalam pengelolaan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane.
Namun, dari 187 situ tersebut pun tak seluruhnya masih berfungsi sebagai pengendali banjir.
Kepala BBWS Ciliwung Cisadane, David Partonggo Oloan Marpaung, membenarkan adanya penyusutan yang cukup signifikan pada jumlah situ di wilayah kerjanya.
"Di mana 18 situ sudah beralih fungsi, sehingga tersisa 169 situ. Sementara wilayah DKI Jakarta situ yang dikelola Pemerintah Daerah sebanyak 16 situ, sehingga total situ yang masih ada di wilayah kerja kami 185," ungkap David dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Minggu (1/3/2026).
Hilangnya situ-situ di Jabodetabek yang terjadi secara bertahap setiap tahun dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta perubahan tata ruang.
Banyak kawasan situ yang telah diuruk dan diubah menjadi lahan darat, kemudian dibangun menjadi kawasan terbangun permanen seperti kawasan perumahan.
Akibatnya, luas tampungan air terus berkurang secara drastis.
Salah satu contoh nyata dari fenomena ini adalah Situ Kuru di Tangerang Selatan, yang luasnya menyusut tajam dari sekitar 5 hektare menjadi hanya 0,54 hektare karena sebagian areanya telah dimanfaatkan untuk pembangunan hunian.
Beralihnya fungsi situ menjadi kawasan terbangun ini dinilai berdampak langsung terhadap meningkatnya potensi dan keparahan banjir di Jabodetabek dalam beberapa waktu terakhir.
"Betul, salah satu penyebab banjir adalah adanya alih fungsi lahan (situ atau danau)," kata David.
Baca juga: Menelusuri Ratusan Situ yang Hilang, Akar Masalah Banjir Jabodetabek Kian Parah
Kehilangan fungsi vitalMenurut David, alih fungsi lahan tersebut membuat situ tidak lagi mampu menjalankan perannya secara optimal karena kehilangan dua fungsi vitalnya di lingkungan.
Fungsi vital pertama yang hilang adalah sebagai kawasan konservasi air, di mana situ sejatinya berperan menyimpan air, membantu proses peresapan, serta menjaga cadangan air tanah untuk jangka panjang.
Fungsi kedua yang turut sirna adalah peran situ sebagai pengendali banjir alami.





