IHSG dibuka anjlok 2,29 persen dengan berada pada level 8050 pada perdagangan Senin 2 Maret 2026.
Laju IHSG sejalan dengan Indeks unggulan seperti JII dan LQ45 yang ambruk. JII ambruk 1,70 persen sedangkan LQ45 jatuh 2,08 persen.
Baca juga: IHSG Dibuka Melemah ke 8.211, Masih Bisa Rebound atau Lanjut Koreksi?
Saham BBCA, BBRI, BMRI, ASII, TLKM ambruk. Sedangkan saham ANTM, PGAS, JPFA dan MDKA naik pada pembukaan hari ini.
Pasar keuangan domestik diperkirakan menghadapi tekanan pada awal pekan ini seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Memburuknya situasi pascaserangan terkoordinasi Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi memicu sentimen risk off di pasar global.
Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan tekanan jual kemungkinan mendorong koreksi di pasar saham Indonesia, sekaligus memicu arus keluar dana asing baik dari pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).
“Dalam kondisi seperti ini, tekanan terhadap nilai tukar Rupiah juga berpotensi meningkat,” ujarnya.
Ia menilai Bank Indonesia (BI) kemungkinan akan mengintensifkan langkah stabilisasi guna meredam volatilitas berlebihan.
Intervensi diperkirakan dilakukan di pasar valuta asing, baik melalui pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta di pasar SBN untuk menjaga stabilitas yield.
Menurut Rully, eskalasi konflik AS–Iran meningkatkan risiko lonjakan harga minyak dunia dan memperburuk persepsi risiko global. Kondisi tersebut biasanya mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Bagi Indonesia, terdapat sejumlah kanal transmisi yang perlu diwaspadai. Pertama, risiko imported inflation akibat kenaikan harga energi global.
Kedua, potensi meningkatnya beban subsidi energi apabila pemerintah menahan harga domestik. Ketiga, kemungkinan pelebaran defisit transaksi berjalan jika impor energi meningkat.
Selain itu, arus keluar portofolio asing juga berpotensi menekan nilai tukar Rupiah dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan lanjutan konflik geopolitik dan respons kebijakan otoritas moneter domestik dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Pergerakan Saham Global Mayoritas indeks saham global bergerak variatif pada penutupan akhir pekan lalu. Bursa saham Amerika Serikat kompak ditutup di zona merah setelah data inflasi produsen melampaui ekspektasi pasar dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak perkembangan kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,05% ke level 48.977,92. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 0,43% menjadi 6.878,88. Lonjakan volatilitas tercermin dari indeks VIX yang naik 6,60% ke posisi 19,86.
Data dari Biro Statistik Ketenagakerjaan AS menunjukkan inflasi tingkat produsen (Producer Price Index/PPI) pada Januari 2026 naik 0,5% secara bulanan (month-to-month/mom), lebih tinggi dibandingkan revisi bulan sebelumnya sebesar 0,4% dan melampaui konsensus pasar 0,3%.
Yang lebih menjadi perhatian pasar adalah inflasi inti produsen di luar komponen energi dan makanan yang melonjak 0,8% mom, jauh di atas proyeksi 0,3%. Angka ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga masih bertahan dan berpotensi mempengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Di sisi lain, sentimen negatif juga datang dari sektor teknologi. Kekhawatiran terhadap disrupsi AI terhadap pasar tenaga kerja kembali mencuat setelah perusahaan fintech milik Jack Dorsey, yakni Block, mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 4.000 karyawan, atau hampir separuh total tenaga kerjanya. Langkah ini memicu spekulasi bahwa efisiensi berbasis teknologi, termasuk otomatisasi dan AI, akan semakin agresif dilakukan korporasi
global.
Berbeda dengan Wall Street, bursa Eropa dan Asia mencatatkan kinerja yang lebih positif. Indeks FTSE 100 Inggris naik 0,59% ke level 10.910,55, sementara Nikkei Jepang menguat tipis 0,16% ke 58.850,27.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah naik 2,78% ke USD67,02 per barel. Harga emas melonjak 1,81% ke level 5.278,93, mencerminkan meningkatnya permintaan aset safe haven. Logam industri juga menunjukkan penguatan, dengan timah naik 6,10% dan perak melonjak 6,21%.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik tipis ke 6,43%. Premi risiko Indonesia yang tercermin dari CDS 5 tahun juga meningkat 3,51% menjadi 83,86.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan data ekonomi lanjutan serta respons kebijakan moneter global, di tengah dinamika inflasi yang belum sepenuhnya mereda dan percepatan transformasi teknologi yang memicu perubahan besar di sektor ketenagakerjaan/
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





