Ekonomi Syariah, Pesantren, dan Jalan Baru Kemandirian Umat

kumparan.com
6 jam lalu
Cover Berita

Menjelang tahun-tahun penting pembangunan nasional, ada satu arus besar yang diam-diam semakin kuat: ekonomi syariah. Kita mungkin tidak merasakannya secara langsung seperti hiruk pikuk pasar atau ramainya mal di akhir pekan, tetapi di balik layar, ekonomi syariah sedang menata ulang wajah baru perekonomian Indonesia. Buktinya tak main main, Indonesia kembali menempati peringkat ketiga dunia dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2024/2025 yang dirilis Lembaga riset dan konsultan strategi asal Amerika Serikat, DinarStandard.

Gayung bersambut, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy, menyampaikan bahwa pemerintah akan menjadikan SGIE sebagai acuan dalam memperkuat pengembangan ekonomi syariah nasional. Fokusnya mencakup sektor halal, mulai dari makanan, keuangan, wisata ramah Muslim, media, hingga farmasi. Tujuan yang ingin dicapai jelas, Indonesia berambisi menjadi pusat ekonomi syariah masa depan.

Ada potensi besar, tetapi belum sepenuhnya kita olah. Industri halal tumbuh, tetapi mesinnya belum bekerja maksimal. Lalu kemudian kita mendapati secercah cahaya: pesantren, yang menjadi tempat bagi banyak anak muda ditempa bukan hanya ilmu agama, tetapi juga disiplin, etika, dan kemandirian. Di berbagai daerah, pesantren sudah lama bergerak di sektor ekonomi: mengelola kebun, koperasi, peternakan, hingga usaha kuliner. Namun, selama ini mereka berjalan sendiri dengan modal seadanya sehingga seringkali usaha yang mereka bangun jatuh bangun seiring dengan motor penggeraknya.

Terkadang mereka memiliki keterbatasan SDM karena kurangnya pengetahuan maupun kompetensi atas unit usaha maupun cara mengelola pembukuan sehingga untung rugi memiliki batas yang tipis sehingga sulit untuk dibedakan. Padahal, jika diberi dukungan yang tepat, pesantren bisa menjadi tulang punggung ekonomi syariah nasional.

Pesantren bisa menutup jurang itu. Caranya? Dengan menjadi pusat edukasi, pusat produksi, dan pusat UMKM halal. Tentu saja, pesantren tidak bisa berjalan sendiri. Ada peran besar yang kini mulai dijalankan lebih serius oleh perbankan dan instansi terkait.

Inovasi paling terasa adalah QRIS. Teknologi pembayaran ini bukan hanya memudahkan transaksi di kota-kota besar, tetapi juga membuka pintu bagi UMKM termasuk UMKM pesantren untuk terhubung dengan pasar modern secara cepat dan murah. QRIS kini menjadi salah satu tulang punggung sistem pembayaran syariah yang inklusif.

Bayangkan jika setiap pesantren memiliki QRIS untuk unit usahanya mulai dari toko kecil, usaha kuliner, hingga produksi herbal dan kerajinan. Bayangkan jika santri tak hanya belajar tafsir dan hadis, tetapi juga memahami pemasaran digital, manajemen usaha, hingga keuangan syariah. Itulah masa depan ekonomi syariah yang betul betul tumbuh dari akar rumput.

Tidak berhenti sampai di situ, sertifikasi halal juga harus mulai dimiliki, tidak hanya produk dari pondok pesantren namun juga merambah dari toko kecil hingga toko besar. Halal di sini sering disalahartikan, hanya karena sebuah produk tidak mengandung bahan yang diharamkan bukan berarti produk itu lantas menjadi halal. Dalam arti yang luas halal juga dimaksudkan bahwa suatu produk telah diproduksi secara bersih dan sesuai kaidah yang berlaku. Tidak hanya konsumen muslim namun konsumen non muslim pun turut diuntungkan apabila sebuah produk ataupun rumah makan telah tersertifikasi halal.

Ironisnya, justru kebanyakan pelaku usaha besar yang enggan mengurus sertifikasi halal karena mungkin bagi mereka tanpa label halal pun sudah banyak pelanggan yang akan terus kembali dan membeli. Dengan atau tanpa label halal pun mereka sudah punya pasar. Namun ada hak konsumen yang dikesampingkan. Pola pikir yang harusnya mulai ditanamkan adalah bahwa label halal memberi kepercayaan bagi konsumen muslim dan tidak merugikan bagi konsumen non muslim.

Namun, perjalanan menuju ke sana bukan tanpa tantangan. Selain akses modal dan literasi digital, dan sertifikasi tantangan terbesar adalah pola pikir. Kita perlu melihat pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai kawah candradimuka kemandirian ekonomi umat. Di saat industri halal global bergerak cepat, Indonesia tak boleh hanya menjadi pasar. Kita harus menjadi produsen dan pesantren bisa memegang peranan penting di gelombang ini. Pembinaan secara berkesinambungan bagi pesantren akan menciptakan pribadi yang mandiri dan menimbulkan dampak positif tidak hanya bagi santri dan pengurus di dalamnya namun juga bagi masyarakat sekitarnya.

Ekonomi syariah Indonesia berada di persimpangan besar: antara potensi dan kenyataan, antara mimpi besar dan pekerjaan rumah yang mendesak. Tetapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil dari kelas kecil di sebuah pesantren. Dari UMKM kecil yang belajar menggunakan QRIS, dari kolaborasi antara regulator dan masyarakat.

Jika semua bergerak ke arah yang sama, bukan tidak mungkin Indonesia tidak hanya menjadi pusat ekonomi syariah dunia di atas kertas tetapi benar benar menjadi kekuatan ekonomi umat yang mandiri, berdaya, dan menyejahterakan. Pada hari itu, pesantren akan dikenang bukan hanya sebagai penjaga moral bangsa, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi yang mengubah sejarah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Momen Trump Kembali ke Gedung Putih, Bungkam saat Ditanya soal Iran
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Blaaar, Rumah Warga Ponorogo Hancur Diduga karena Petasan, 1 Tewas, 1 Orang Luka Parah
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
BI Tekan Risiko terhadap Rupiah seiring Ekskalasi Konflik di Timur Tengah, Simak Strateginya
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Gunung Ibu Kembali Erupsi, PVMBG Perluas Radius Bahaya hingga 3,5 Kilometer
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Membedah aspek yang ditingkatkan di Galaxy S26 dan S26+ 
• 1 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.