Bisnis.com, JAKARTA — PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengungkapkan potensi dampak konflik antara Iran dengan Israel dan sekutunya, Amerika Serikat (AS) terhadap kinerja ekspor mobil perseroan.
Perlu diketahui, Toyota mengekspor sejumlah model kendaraan ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa pasar tujuan tersebut, antara lain Irak, Lebanon, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, serta Kuwait yang secara geografis berada relatif dekat dengan wilayah konflik tersebut.
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan, perseroan tengah mencermati kemungkinan dampak akibat perang di Timur Tengah tersebut, mulai dari kenaikan harga energi hingga gangguan jalur perdagangan internasional.
"Dampak secara langsung mungkin dari sisi logistik kalau jalur pelayaran terganggu," ujar Bob kepada Bisnis, dikutip Senin (2/3/2026).
Lebih lanjut, dia mengatakan, dampak yang lebih signifikan berpotensi muncul apabila konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia sehingga mengganggu stabilitas perekonomian negara-negara pengimpor. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan daya beli sekaligus memengaruhi permintaan kendaraan di pasar tujuan ekspor.
Pasalnya, sebanyak 20% kapal pengangkut minyak dunia melintasi Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Rata-rata volume pengiriman bulanan minyak mentah yang melalui Selat Hormuz berkisar 2—4 juta metrik ton per Februari 2026.
Baca Juga
- Auto2000 Mulai Pasarkan Toyota Veloz Hybrid di Jabar, Berikut Daftar Harganya
- Adu Kuat Toyota hingga Suzuki di Pasar Mobil Hybrid Januari 2026
- Toyota Berharap Stimulus Pemerintah untuk Genjot Pasar Mobil 2026
Adapun, sepanjang 2025, Toyota telah mengekspor kendaraan secara utuh (completely built up/CBU) sebanyak 298.457 unit, dengan kontribusi sebesar 58% dari total ekspor nasional.
Kendati demikian, di tengah ketegangan geopolitik saat ini, Toyota memasang target ekspor moderat pada 2026, alias sama seperti yang dibidik pada tahun lalu di angka 300.000 unit.
Sederet model kendaraan elektrifikasi Toyota yang diekspor meliputi Yaris Cross hingga Innova Zenix Hybrid. Sementara itu, model non-elektrifikasi mencakup Avanza, Veloz, Fortuner, Rush, dan sejumlah model lainnya.
Bob mengatakan, dalam jangka panjang, dampak konflik berpotensi menjadi lebih kompleks apabila eskalasi meluas hingga melibatkan kekuatan besar seperti China dan Rusia.
Jika skenario tersebut terjadi, gangguan tidak hanya terbatas pada perdagangan regional, tetapi juga berpotensi mengganggu rantai pasok global, khususnya pada pasokan material kritis yang sangat dibutuhkan oleh industri semikonduktor. Kondisi tersebut dinilai dapat memicu dampak berantai terhadap berbagai sektor manufaktur dunia.
Sebagaimana diketahui, konflik di Iran kian memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Serangan itu mengakibatkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran yang telah memerintah lebih dari 3 dekade.





