Mekanisme pergantian kepemimpinan mulai dibahas usai tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat.
Sejumlah 88 anggota Majelis Ahli (Assembly of Experts) akan berkumpul untuk membahas siapa sosok yang akan menggantikan Khamenei seperti yang diberitakan Al-Jazeera, Minggu (1/3).
Sebelum wafat, Khamenei disebut telah menyiapkan empat nama calon penggantinya. Namun, Majelis Ahli belum mengungkap nama-nama tersebut.
Menurut seorang sumber, kriteria calon pemimpin baru tersebut tetap mengutamakan kesetiaan pada prinsip revolusi Islam yang dirintis pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Dua nama mencuat dalam diskusi internal yaitu Mojtaba Khamenei (putra dari Ayatollah Ali Khamenei) dan Hassan Khomeini (cucu dari Ayatollah Ruhollah Khomeini).
Dilansir CNN, selain kedua nama itu, tersorot pula sejumlah nama kandidat lainnya yang berpeluang menduduki posisi tersebut.
Laporan tersebut berdasarkan pandangan para ahli dan analis. Berikut sejumlah nama kandidat yang dinilai memiliki peluang besar menggantikan Khamenei:
Mojtaba Khamenei
Putra kedua Khamenei ini dikenal memiliki pengaruh besar dan mempnyai hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta pasukan paramiliter sukarelawan Basij.
Namun, suksesi dari ayah ke anak dinilai kurang diterima di kalangan ulama Syiah, terlebih di Iran. Hambatan lainnya, Mojtaba bukanlah ulama berpangkat tinggi dan tidak memegang jabatan resmi dalam pemerintahan. Ia juga pernah dijatuhi sanksi oleh AS pada 2019.
Hassan Khomeini
Hassan Khomeini merupakan cucu pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia menjabat sebagai pengelola makam Khomeini, namun tidak pernah memegang jabatan publik dan tampak memiliki pengaruh terbatas di kalangan elite penguasa.
Ia dikenal lebih moderat dibanding banyak sejawatnya dan pernah dilarang mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Ahli pada tahun 2016.
Ayatollah Alireza Arafi
Arafi merupakan ulama dengan rekam jejak di berbagai institusi pemerintahan dan dikenal sebagai orang kepercayaan Khamenei.
Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ahli dan pernah menjadi anggota Dewan Garda. Ia juga memimpin sistem pendidikan seminari Iran.
"Kesediaan Khamenei menunjuk Arafi ke posisi-posisi senior dan strategis menunjukkan bahwa ia memiliki kepercayaan besar terhadap kemampuan birokrasi Arafi," kata Alex Vatanka dari Middle East Institute, dikutip dari CNN.
Meski demikian, Arafi tidak dikenal sebagai tokoh politik kelas berat dan tidak memiliki hubungan erat dengan lembaga keamanan.
Arafi juga telah ditunjuk sebagai anggota Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan menjalankan fungsi pemimpin tertinggi hingga Majelis Ahli memilih pengganti permanen.
Mohammad Mehdi Mirbagheri
Mirbagheri adalah seorang ulama dan anggota Majelis Ahli yang mewakili sayap paling konservatif dalam lembaga keulamaan Iran. Saat ini, ia memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di Qom, Iran.
Hashem Hosseini Bushehri
Bushehri adalah ulama senior yang memiliki hubungan erat dengan lembaga pengelola kepemimpinan, khususnya Majelis Ahli. Ia menjabat sebagai wakil ketua pertama.
Ia disebut-sebut dekat dengan Khamenei, namun memiliki profil rendah di dalam negeri dan tidak dikenal memiliki hubungan kuat dengan IRGC.




