EtIndonesia. Pada Sabtu, 28 Februari, pasukan gabungan Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, dengan operasi yang disebut sebagai aksi “pemenggalan presisi” terhadap jajaran pimpinan tinggi negara itu. Militer Israel menyatakan bahwa sekitar 40 pejabat tinggi, termasuk Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, tewas dalam serangan tersebut.
Pada pagi hari yang sama, AS dan Israel memulai operasi militer gabungan dengan sandi “Operation Epic Fury”, yang menargetkan sejumlah fasilitas penting di Teheran secara presisi. Serangan itu disebut berhasil menghantam lokasi rahasia tempat para pejabat tinggi militer dan politik Iran tengah menggelar pertemuan.
Presiden AS Donald Trump melalui platform media sosialnya, Truth Social, mengumumkan bahwa setelah badan intelijen melacak pergerakan Khamenei, target tersebut berhasil dilumpuhkan.
Militer Israel menjelaskan bahwa kunci dari serangan udara dini hari 28 Februari adalah keberhasilan Direktorat Intelijen Militer Israel dalam memastikan bahwa sejumlah pejabat keamanan senior Iran sedang berkumpul di dua lokasi di Teheran. Hingga kini, diperkirakan lebih dari 40 pejabat tinggi militer dan politik Iran tewas.
Di antara nama-nama yang disebutkan termasuk Komandan Garda Revolusi Islam Mohammad Pakpour, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, Sekretaris Dewan Pertahanan Ali Shamkhani, Direktur Intelijen Markas Komando Darurat Angkatan Bersenjata Iran Saleh Asadi, Kepala Kantor Militer Pemimpin Tertinggi Mohammad Shirazi, Ketua Organisasi Inovasi dan Penelitian Pertahanan (SPND) Hossein Jabal Amelian, serta mantan Ketua SPND Reza Mozaffari-Nia.
Seorang pejabat tinggi keamanan nasional Israel mengatakan kepada Fox News bahwa operasi ini merupakan salah satu aksi “pemenggalan kepemimpinan” terbesar dalam sejarah perang modern. Keberhasilan operasi tersebut, menurutnya, sangat bergantung pada kemampuan badan intelijen Israel dalam menembus lingkaran keamanan tingkat tinggi Iran.
Dua sumber Amerika dan seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa setelah dikonfirmasi Khamenei sedang mengadakan pertemuan dengan para penasihat senior, Amerika dan Israel segera meluncurkan operasi udara dan laut.
Seorang pejabat AS menjelaskan bahwa demi menjaga unsur kejutan, target terhadap Khamenei harus dilakukan lebih dahulu, karena jika terlambat, ia berpotensi melarikan diri ke lokasi persembunyian rahasia.
Salah satu sumber AS mengungkapkan bahwa Khamenei semula dijadwalkan mengadakan pertemuan pada Sabtu malam di Teheran. Namun, intelijen Israel menemukan bahwa pertemuan tersebut dipercepat menjadi Sabtu pagi, sehingga serangan udara juga dimajukan untuk menyesuaikan waktu tersebut. (jhon)
Sumber : NTDTV.com





