Militer AS Gunakan AI Claude Serang Iran, Padahal Trump Sudah Putus Hubungan dengan Pemiliknya

suara.com
6 jam lalu
Cover Berita
Baca 10 detik
  • Militer AS tetap menggunakan AI Claude Anthropic pada operasi serangan Iran meskipun ada perintah pemutusan hubungan oleh Trump.
  • Konflik Trump dengan Anthropic dipicu penolakan Anthropic atas penggunaan AI untuk kekerasan dan pengawasan militer.
  • OpenAI mencapai kesepakatan baru dengan Pentagon, menerapkan batasan ketat pada pengawasan dan sistem senjata otonom.

Suara.com - Militer Amerika Serikat dilaporkan tetap menggunakan model kecerdasan buatan (AI) Claude milik Anthropic dalam serangan besar-besaran terhadap Iran. Penggunaan ini terjadi meski Presiden Donald Trump baru saja mengumumkan pemutusan hubungan total dengan perusahaan tersebut hanya beberapa jam sebelum operasi dimulai.

Laporan dari The Guardian, Wall Street Journal, dan Axios menyebutkan bahwa komando militer AS menggunakan Claude untuk keperluan intelijen, pemilihan target, hingga simulasi medan perang dalam operasi gabungan AS-Israel tersebut. Fakta ini menunjukkan betapa dalamnya teknologi AI telah terintegrasi dalam sistem operasional militer, sehingga sulit untuk dihentikan secara mendadak.

Perseteruan Trump dan Anthropic Memanas

Ketegangan antara pemerintah AS dan Anthropic memuncak pada Jumat, ketika Presiden Trump memerintahkan seluruh lembaga federal untuk segera berhenti menggunakan Claude.

Melalui platform Truth Social, Trump mengecam Anthropic sebagai perusahaan AI sayap kiri radikal.

"Perusahaan AI sayap kiri radikal yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak tahu apa itu dunia nyata," tulisnya melalui platform Truth Social, dikutip pada Senin (3/2/2026).

Konflik ini dipicu oleh keberatan Anthropic atas penggunaan Claude dalam penggerebekan untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, pada Januari lalu. Anthropic menegaskan bahwa ketentuan layanan mereka melarang penggunaan AI untuk tujuan kekerasan, pengembangan senjata, atau pengawasan (surveillance).

Menteri Pertahanan Pete Hegseth turut melontarkan kritik tajam. Ia menuduh Anthropic melakukan “arogansi dan pengkhianatan” serta menegaskan bahwa militer AS tidak akan disandera oleh kepentingan ideologis perusahaan teknologi.

"Para prajurit Amerika tidak akan pernah disandera oleh keinginan ideologis perusahaan teknologi besar,” tulisnya dalam unggahan di X pada Jumat (28/2/2026).

Baca Juga: 4 Negara yang Berpeluang Gantikan Iran di Piala Dunia 2026, Ada Timnas Indonesia

Meski demikian, Hegseth juga mengakui adanya kesulitan teknis untuk melepaskan sistem militer dari alat AI secara cepat. Ia menyebut Anthropic menyediakan layanan masa transisi selama enam bulan agar militer dapat beralih ke layanan yang ia sebut “lebih patriotik”.

Sejak saat itu, hubungan antara Trump, Pentagon, dan Anthropic terus memburuk.

OpenAI Masuk dengan Kesepakatan Baru bersama Pentagon

Di tengah keretakan hubungan dengan Anthropic, OpenAI — pengembang ChatGPT — resmi melangkah maju.

CEO OpenAI, Sam Altman, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mencapai kesepakatan dengan Departemen Perang (Pentagon) untuk mengerahkan sistem AI tingkat lanjut di jaringan klasifikasi militer.

Dalam pernyataan resminya, OpenAI menekankan bahwa kerja sama ini memiliki “pagar pembatas” (guardrails) yang lebih ketat dibandingkan kesepakatan sebelumnya. OpenAI menetapkan tiga “garis merah” (red lines) yang tidak boleh dilanggar oleh Pentagon:


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KM Almujib Tenggelam di Perairan Pulau Rakit
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Sahanan Tewas Diterkam Harimau Usai Pamit Cari Ikan
• 15 jam lalurealita.co
thumb
IHSG Kembali Tersungkur, Bursa Saham Ditutup Melemah 2,66 Persen di Awal Pekan
• 3 jam laludisway.id
thumb
143,9 Juta Masyarakat Diprediksi Mudik Lebaran 2026, Ini Strategi Pemerintah
• 3 jam laluliputan6.com
thumb
Dialog Perdana Bharat Indonesia Cultural & Economic Forum (BICEF) Perkuat Keterlibatan India–Indonesia
• 14 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.