Komisi III Minta Polres Sukabumi Periksa Ayah Nizam Terkait Penganiayaan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman meminta Polres Sukabumi mengembangkan kasus kematian Nizam Safei (13) anak Sukabumi yang tewas dianiaya ibu tirinya, Teni Ridha Shi.

Komisi III mendorong, Polres Sukabumi turun memeriksa ayah Nizam, Anwar Satibi. Sebab, sudah ada laporan dan kesaksian sang ayah terindikasi melakukan penganiayaan hingga penelentaran terhadap Nizam.

Wakil Ketua LPSK, Sri Suparyati mengungkap sejumlah ancaman diterima ibu kandung Nizam, Lisnawati usai melaporkan Anwar ke polisi. Ia mengungkap latar belakang Anwar merupakan anggota geng sehingga ia meminta Polres Sukabumi untuk mengantisipasi laporan balik.

“Jadi mungkin Kapolres nanti mengantisipasi supaya yang laporan balik itu dibelakangkan dulu, Pak. Supaya ini dikedepankan dulu,” ucap Sri dalam RDPU bersama Komisi III, Senin (2/3).

Mendengar itu, Habiburokhman meminta agar bukan dibelakangi dulu, tapi ditolak.

“Jangan dibelakangkan, ditolak. Dijamin. Nggak ada cerita. Ditolak,” tegasnya.

Sri pun setuju dengan Habiburokhman. Menurutnya, laporan balik sangat mungkin dilakukan dan harus disingkirkan saja. Menurut Sri, Anwar harus segera diperiksa karena riwayat KDRT-nya juga menyasar mantan istrinya.

“Yang kedua saya mau menambahkan, Pak. Karena memang betul informasi dari Bu Lisna sendiri karena semasa dahulu dia juga menjadi korban KDRT dari suaminya dan ternyata di istri-istri yang lain juga mengalami hal yang sama,” tutur Sri.

“Jadi saya sepakat pak ini sepertinya pengembangannya harus segera dilakukan terhadap orang tua kandung, ayahnya,” tambahnya.

Minta Segera Diperiksa

Anggota Komisi III dari Gerindra, Amar Ma’ruf, meminta agar Anwar segera diperiksa. Menurutnya, dari omongan Anwar dalam sebuah podcast, telah terbukti bahwa ia melakukan pembiaran penganiayaan.

“(Anwar) Mengaku bahwa dia ditelepon istrinya (Teni) karena Nizam sedang panas, pulang ke rumah dan melihat anaknya sudah dalam kondisi melepuh. Ini yang pengakuan dari Pak Anwar sendiri ya. Tapi tidak malah segera ke dokter dan malah dibiarkan sampai besok. Besoknya pun kesiangan baru dibawa ke dokter,” ucap Amar.

“Ini kan bisa menjadi unsur pembiaran dan bisa menjadi bukti karena dia sendiri yang ngomong pada podcast itu,” tambahnya.

Ia pun mendorong agar Anwar beserta saksi lainnya segera diperiksa.

“Dan juga dari banyak bukti disampaikan sudah banyak saksi yang bisa menjadi saksi dalam hal ini pelapor dan juga terlapor nantinya tolong secara profesional diperiksa pak karena kita tidak mau kasus seperti ini terjadi lagi,” tandasnya.

Tak Boleh Berakhir Damai

Sementara, Anggota Komisi III dari Golkar, Soedeson Tandra, berpesan agar kasus ini tak berakhir dengan mekanisme restorative justice (RJ).

Menurutnya, bila kasus ini berakhir damai, maka rantai kekerasan terhadap anak tak akan terputus.

“Nah, berikutnya, agar menjadi perhatian kalau terjadi kekerasan rumah tangga, kekerasan terhadap anak, mohon jangan ada RJ, mohon jangan,” ucap Tandra.

“Karena kejahatan itu selalu berulang, betul ndak ibu ya? Selalu berulang. Ya nanti saat bapak-bapak mau nangkep dia ngaku-ngaku bersalah. Pulang, setelah itu mukul lagi, tendang patah-patah lagi, mati lagi,” tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prabowo Mau Terbang ke Iran jadi Fasilitator, Menohok Respons DPR: Setelah Masuk BoP, Memang Masih Dipercaya?
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Viral Video Penganiayaan ART di Sunter Ternyata Kejadian 2023, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan
• 3 jam lalusuara.com
thumb
Putin Sebut Pembunuhan Khameini adalah Pelanggaran Moral dan Hukum Internasional
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Harga Minyak Melonjak 10% Imbas Konflik Iran, Berpotensi Tembus USD 100/Barel
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
PT Everest Kripto Indonesia (Bitbromo) Resmi Keluar dari Keanggotaan Bursa Kripto (CFX), KKI, dan ICC
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.