JAKARTA, KOMPAS.com - Polri memprediksi gelombang arus balik Idul Fitri 1447 H atau Lebaran 2026 terjadi dalam dua gelombang.
Gelombang pertama terjadi pada 25 sampai 26 Maret 2026. Sedangkan gelombang kedua arus balik Lebaran 2026 diprediksi terjadi pada 28 sampai 29 Maret 2026.
"Puncak arus balik juga diprediksi, diperkirakan pada tanggal 25 sampai 26 Maret. Ini gelombang pertama dan gelombang kedua diperkirakan tanggal 28 sampai tanggal 29 Maret 2026," ujar Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo saat ditemui di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, Senin (2/3/2026).
Baca juga: Polri Siapkan Rekayasa Lalin saat Mudik Lebaran 2026, Ganjil Genap hingga One Way
Sedangkan untuk puncak arus mudik, terjadi pada 14 sampai 15 Maret 2026 dan 18 sampai 19 Maret 2026.
"Gelombang pertama itu tanggal 14 sampai tanggal 15 Maret 2026. Kemudian gelombang kedua tanggal 18 sampai tanggal 19 Maret 2026," ujar Dedi.
Adapun pada Lebaran 2026, Polri memperkirakan pergerakan 143,9 juta orang selama libur Idul Fitri 1447 H.
Angka tersebut menurun dibandingkan dengan realisasi pada Lebaran 2025 yang mencapai 146,4 juta orang.
Baca juga: Pemudik Bisa Titip Motor di Kantor Polisi Saat Mudik Lebaran 2026
"Dari hasil survei Menteri Perhubungan, tadi sudah disampaikan oleh Pak Menteri Perhubungan, bahwa potensi pergerakan masyarakat di libur Lebaran tahun 2026 ini sebesar 143,9 juta orang. Angka tersebut menurun bila dibandingkan tahun 2025 sebesar 2,57 orang atau 1,75 persen," kata Dedi.
Demi mengamankan arus mudik dan balik Lebaran 2026, Polri menggelar Operasi Ketupat mulai 13 Maret hingga 25 Maret 2026.
Sebanyak 161.243 personel gabungan akan diterjunkan dalam operasi tersebut untuk mengamankan jalur mudik, pusat keramaian, serta objek-objek vital lainnya.
Baca juga: 143,9 Juta Orang Diprediksi Mudik Lebaran 2026, Turun Dibanding Tahun Lalu
Selain itu, Polri akan mendirikan 2.746 posko yang terdiri atas 1.624 posko pengamanan, 779 posko pelayanan, dan 343 posko terpadu.
"Nanti ada beberapa kegiatan-kegiatan manajemen rekayasa arus lalin di jalur tol antara lain nanti berupa ganjil genap akan juga dilaksanakan, kemudian one way, contraflow, delaying system, juga ada buffer zone di pelabuhan," ujar Dedi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




