Penulis: Redaksi TVRINews
TVRINews-Jakarta
Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan rantai pasok global dan kemandirian energi.
Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang melibatkan sekutu Barat telah memicu guncangan hebat pada stabilitas geopolitik dan ekonomi dunia. Situasi ini menjadi alarm bagi Indonesia untuk mempercepat agenda swasembada nasional sebagai instrumen perlindungan kedaulatan dalam negeri.
Serangan balasan yang melibatkan peluncuran rudal dan pesawat tanpa awak (drone) ke pusat-pusat strategis, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz, berpotensi melumpuhkan jalur distribusi minyak dunia.
Jika nadi energi global ini terhambat, negara-negara importir akan menghadapi lonjakan biaya logistik dan inflasi yang tidak terhindarkan.
Risiko Sistemik dan Peringatan Global
Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya telah memberikan catatan krusial mengenai potensi eskalasi ini. Beliau menekankan bahwa konfrontasi di wilayah tersebut dapat memicu ketidakstabilan skala luas yang berdampak langsung pada ekosistem ekonomi global yang saat ini masih dalam masa pemulihan pascapandemi.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai bahwa ketahanan dalam negeri kini menjadi kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan kebijakan.
"Dunia tidak pernah benar-benar aman. Perang mungkin terjadi jauh dari batas wilayah kita, namun dampaknya bisa sampai ke dapur rumah tangga. Maka membangun ketahanan dalam negeri adalah cara paling rasional untuk menjaga masa depan," ujar Agung Baskoro dalam keterangannya.
Swasembada sebagai Benteng Pertahanan
Menanggapi dinamika global, Pemerintah Indonesia terus memperkuat fondasi kemandirian di tiga sektor utama:
* Kedaulatan Pangan: Pada tahun 2025, cadangan beras nasional diproyeksikan mencapai angka bersejarah sebesar 4 juta ton. Pencapaian ini diharapkan mampu memutus ketergantungan pada impor di tengah gangguan logistik internasional. Program pendukung seperti Makan Bergizi Gratis juga diarahkan untuk menjaga daya beli sekaligus menstimulasi ekonomi domestik.
• Kemandirian Energi: Menghadapi risiko fluktuasi harga minyak dunia, penguatan kapasitas kilang domestik dan peningkatan angka lifting minyak menjadi prioritas. Langkah ini diambil guna meminimalisir eksposur terhadap gejolak pasar energi global.
• Hilirisasi Industri: Penguatan produksi lokal dan konsistensi kebijakan hilirisasi terus didorong agar industri nasional tetap tangguh menghadapi lonjakan harga bahan baku impor.
Meskipun langkah-langkah strategis telah dipetakan, efektivitas swasembada sangat bergantung pada transparansi dan pengawasan. Para pengamat menekankan pentingnya tata kelola yang bersih untuk memastikan program kemandirian tidak tergerus oleh praktik korupsi, yang dapat melemahkan fondasi ketahanan nasional dari dalam.
Di tengah dentuman konflik di Timur Tengah, kekuatan sejati Indonesia akan diuji melalui kesiapan logistik, kemandirian energi, dan integritas kebijakan yang diambil oleh pemerintah.
Editor: Redaksi TVRINews





