Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Bisnis-27 ditutup melemah seiring dengan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (2/3/2026). Meski demikian, saham MEDC, ANTM, PTBA, dan ADRO masih bertumbuh.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama Bursa dengan harian Bisnis Indonesia ini turun 2,72% atau 14,78 poin ke 529,60. Tercatat, hanya 7 saham menguat dan sebanyak 20 saham turun.
Saham dengan kenaikan harga tertinggi dipimpin PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) sebesar 15,65% ke Rp1.995 per saham, diikuti PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang menguat 5,98% menjadi Rp4.610 per saham.
Saham lain yang terapresiasi adalah PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) dengan kenaikan 5,77% menjadi Rp2.750, sementara saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADRO) bertumbuh 2,99% ke level Rp2.410 per saham.
Adapun penurunan terdalam ditorehkan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang turun 10,45% menjadi Rp1.200 per saham, sementara PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga terkoreksi sebesar 9,05% ke Rp1.810 per saham.
IHSG sendiri terperosok 2,66% menuju posisi 8.016,83. Sepanjang hari ini, indeks komposit dibuka pada level 8.092,90 dan sempat ke posisi 8.133,69.
Di samping itu, sebanyak 113 saham meningkat, 704 saham terkoreksi, dan 141 saham stagnan. Adapun, kapitalisasi pasar mencapai Rp14.342 triliun.
Indeks komposit diketahui terkoreksi tajam pada perdagangan sesi I akibat sentimen serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Stabilitas pasar keuangan global pun terguncang.
Laporan Mirae Asset Sekuritas menunjukkan bahwa sentimen geopolitik tersebut menjadi faktor utama yang menekan indeks domestik hingga melemah 1,6% ke level 8.104 pada perdagangan sesi I, Senin (2/3/2026). Aksi jual melanda hampir seluruh sektor, terutama saham-saham big caps.
Emiten otomotif PT Astra International Tbk. (ASII) memimpin koreksi dengan penurunan 4,5%. Pelemahan signifikan juga terjadi pada saham energi terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) sebesar 3,3%.
Sektor perbankan yang menjadi penopang pasar turut tertekan. Saham bank pelat merah, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) merosot 2,8% dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) terkoreksi sebesar 1,8%.
Di sisi lain, saham emiten logam mulai menjadi penopang atau top leaders indeks. Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) tercatat menguat 4,82%, disusul saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) juga melonjak 4,12%, sementara saham PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) naik 3,60%.
Secara sektoral, indeks saham siklikal dan infrastruktur menjadi sektor dengan koreksi terdalam pada paruh pertama perdagangan. Sebaliknya, di tengah pelemahan indeks, hanya IDX Energy yang mampu bertahan di zona hijau akibat ekspektasi kenaikan harga minyak dunia merespons konflik di Timur Tengah.
“Bursa-bursa utama Asia juga kompak memerah sebagai dampak konflik yang terjadi di Timur Tengah,” tulis laporan Mirae Asset Sekuritas.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengimbau para investor untuk tetap tenang dan rasional dalam menyikapi gejolak pasar yang dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik di tingkat global.
Menurutnya, penting bagi investor untuk tetap berpegang pada analisis fundamental emiten di tengah ketidakpastian yang melonjak. Hal tersebut menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang memberikan tekanan pada bursa-bursa saham dunia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Menghadapi ketidakpastian yang meningkat akibat eskalasi geopolitik yang terjadi di tingkat global, kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental," ujar Jeffrey dalam keterangannya.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





