JAKARTA, KOMPAS.com - Langit siang di pelataran Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, tampak berawan ketika Kompas.com menyusuri kawasan itu, Jumat (27/2/2026).
Angin berembus pelan, menggerakkan dedaunan pohon palem yang berjajar rapi di sisi jalan aspal yang lebar. Di antara lalu lalang pengunjung yang tidak terlalu padat, beberapa pria dengan kamera tergantung di leher berdiri siaga.
Mereka tidak berteriak menawarkan jasa, hanya memperhatikan rombongan yang datang, membaca situasi, lalu melangkah perlahan ketika melihat keluarga atau kelompok teman yang kebingungan mengatur posisi swafoto.
Baca juga: 3 Minggu Pasca Kebakaran Gudang Pestisida, Warga Sebut Sungai Cisadane Tak Lagi Berbau
Satu di antara mereka adalah Budi (bukan nama sebenarnya) (55), yang telah 39 tahun menggantungkan hidup sebagai fotografer keliling di Monas.
Bagi Budi, pelataran Monas bukan sekadar ruang publik. Di tempat inilah ia mendapatkan uang untuk membesarkan anak-anaknya, membayar uang kontrakan, dan bertahan melewati perubahan zaman, dari era kamera analog hingga dominasi ponsel pintar dengan kamera canggih.
Memulai dari Nol, Belajar Secara OtodidakBudi memulai profesi sebagai fotografer keliling sejak akhir 1980-an. Saat itu, area Monas belum serapi sekarang. Akses masuk belum seketat hari ini dan kamera bukan barang yang dimiliki setiap orang.
Ia mengaku tak pernah mengenyam pendidikan fotografi secara formal. Semua keterampilan dipelajarinya secara otodidak, dari sekadar meminjam kamera milik teman, memperhatikan teknik pengambilan gambar, hingga akhirnya mampu membeli kamera sendiri.
“Soal foto ya belajar sendiri saja. Otodidak. Lama-lama bisa,” ujar dia.
Kini, kamera DSLR merek Canon dan printer portabel selalu menemaninya bekerja. Seluruh peralatan itu dibeli dari hasil tabungan selama bertahun-tahun.
Printer kecil tersebut menjadi kunci layanan cepat. Foto bisa dicetak di lokasi dalam waktu sekitar satu menit.
“Langsung cetak, satu menit jadi. Kalau cuma file saja Rp 10.000, nanti bisa dikirim. Kalau cetak Rp 20.000,” kata Budi.
Baca juga: Video Penganiayaan ART di Sunter Terjadi pada 2023, Korban Tak Melapor
Dari Ramai ke Sepi: Perubahan yang TerasaEmpat dekade di lokasi yang sama membuat Budi merasakan betul perubahan suasana. Ia menyebutkan, tantangan terbesar saat ini bukan lagi jumlah fotografer, melainkan perubahan perilaku pengunjung.
“Sekarang memang sudah zamannya orang pakai HP. Jadi ya sepi,” ucap dia.
Menurut dia, hampir semua orang kini datang dengan ponsel berkamera mumpuni. Bahkan, kualitas gambar ponsel terbaru dinilai cukup untuk kebutuhan dokumentasi pribadi.
“Rombongan-rombongan masih ada, ibu-ibu juga ada. Tapi ya beda zaman,” tutur Budi.
Dalam sehari, terutama di luar musim liburan atau menjelang bulan puasa, pendapatannya tak bisa dipastikan.
“Kalau lagi sepi bisa Rp 100.000 sehari. Kadang lebih, kadang kurang. Tidak menentu,” kata dia.
Padahal, pada masa-masa ramai dahulu, ia bisa membawa pulang pendapatan berkali lipat. Momen Lebaran hingga kini masih menjadi harapan.
Namun, ia sadar tak bisa hanya mengandalkan musim ramai. Setiap hari tetap ia jalani dengan rutinitas yang sama, yakni datang pagi, berdiri di titik strategis, menunggu peluang.
Baca juga: 23 WNI Sempat Tertahan di Bandara Abu Dhabi kini Telah Aman





