Gang Sempit, Sistem Canggih: Inovasi Gerbang Digital dari Warga Gandaria

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Suasana Gang di RT 11 RW 07, Gandaria Utara, Jakarta Selatan, tampak seperti permukiman padat pada umumnya. Jalan sempit, rumah berdempetan, dan aktivitas warga yang berjalan apa adanya.

Namun, ada satu hal yang membedakan kawasan ini dari kebanyakan perkampungan lain, yakni sebuah gerbang besi dengan sistem akses kartu digital.

Gerbang itu bukan milik kompleks mewah. Ia berdiri di gang permukiman warga biasa, hasil gotong royong dan inisiatif warga sendiri untuk melindungi lingkungan mereka dari ancaman pencurian.

Ketua RT 11 RW 07, Imam Basori, mengatakan ide tersebut lahir bukan karena lingkungannya pernah menjadi korban, melainkan sebagai langkah antisipasi.

“Awalnya bukan karena ada kejadian di lingkungan kami, tapi di RT sebelah dan wilayah lain sering terjadi tindak kriminal. Apalagi Jakarta Selatan dikenal sebagai zona merah. Karena itu, kami ingin warga bisa merasa aman dan tidur nyenyak,” kata Imam kepada kumparan, Senin (2/3).

Dari Rantai ke Kartu Digital

Sebelum menggunakan kartu akses, gang tersebut hanya ditutup menggunakan rantai. Namun menurut Imam, sistem itu mudah dibobol.

Ia kemudian terpikir untuk menerapkan sistem digital, seperti yang lazim digunakan di perkantoran atau perumahan elite.

“Sekarang kan sudah era digital. Rantai itu gampang sekali dibuka. Kami ingin membuktikan gang sempit dengan anggaran minimal juga bisa digitalisasi,” ujarnya.

Pilihan jatuh pada sistem kartu bernama e-Gate 11. Setiap warga cukup menempelkan kartu untuk membuka gerbang.

Gerbang tersebut mulai diaktifkan setiap pukul 00.00 WIB hingga pagi hari, yang dianggap sebagai jam rawan kriminalitas. Di luar jam itu, gerbang tetap terbuka seperti biasa.

Dibangun Gotong Royong, Biaya Swadaya

Menariknya, gerbang itu tidak dibangun oleh kontraktor profesional. Warga merakitnya sendiri.

“Semua kita kerjakan gotong royong. Potong besi sendiri, ngelas sendiri,” kata Imam.

Dana pembangunan berasal dari anggaran operasional RT yang diberikan pemerintah, ditambah swadaya pribadi.

Untuk alat akses kartu, Imam mengaku membelinya secara daring dengan harga sekitar Rp 800 ribu.

Pembangunan dilakukan bertahap. Dari total empat titik akses, baru tiga yang aktif karena keterbatasan anggaran.

Satu Keluarga, Satu Kartu

Setiap kepala keluarga mendapatkan satu kartu akses. Namun, jika dalam satu rumah terdapat lebih dari satu keluarga, jumlah kartu bisa disesuaikan.

“Kalau ada anak yang sudah berkeluarga tapi masih satu rumah, bisa kita kasih lebih,” kata Imam.

Sistem ini dirancang untuk tetap fleksibel, termasuk bagi kebutuhan darurat seperti warga yang pulang malam atau memesan makanan.

Untuk kurir atau ojek daring, warga bisa menjemput di titik gerbang terdekat.

“Kita tidak ingin menghambat rezeki orang, tapi keamanan tetap prioritas,” ujarnya.

Keamanan Berlapis untuk Warga

Selain kartu akses, warga juga menambah lapisan keamanan lain. CCTV dipasang di beberapa sudut gang untuk memantau aktivitas.

Pagar juga dilas agar tidak bisa diangkat paksa, sementara kabel dilindungi besi untuk mencegah sabotase. Di malam hari, warga tetap menjalankan ronda secara bergiliran. Imam menyadari, tidak ada sistem keamanan yang sempurna.

“Tapi setidaknya kita sudah berusaha,” katanya.

Salah satu warga, Gatot Haryadi, merasakan langsung manfaat inovasi tersebut.

“Sangat terbantu sekali. Jadi merasa aman dan nyaman,” katanya.

Ia berharap sistem ini bisa diperluas ke seluruh wilayah RW.

“Harapannya bisa dipasang satu RW, nggak cuma satu RT,” ujarnya.

Imam mengatakan, gerbang digital hanyalah satu bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih baik.

Ia juga membuat kolam ikan untuk ketahanan pangan warga, mengadakan makan bersama, hingga memberikan kue ulang tahun kepada warga saat arisan atau kumpul.

Tujuannya sederhana, yaitu membangun rasa memiliki terhadap lingkungan. Ia berharap inovasi ini bisa menjadi contoh bagi wilayah lain.

“Dengan anggaran minimal dan gotong royong, lingkungan bisa jadi aman dan nyaman,” kata Imam.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Khofifah Sebut Try Sutrisno Sosok Prajurit dan Negarawan Sejati
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harry Styles dan Louis Tomlinson Nongkrong Bareng, Kode Reuni One Direction?
• 7 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Selama di Bawah Kendali Trump, Indonesia Sulit Jadi Mediator Konflik AS-Israel vs Iran
• 2 jam lalujpnn.com
thumb
Simak Jadwal Acara Metro TV Selasa, 3 Maret 2026
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Fairuz A Rafiq Bela Irish Bella di Tengah Hujatan Tinggalkan Ammar Zoni Saat Terpuruk
• 8 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.