Kematian Ayatollah Ali Khamenei: Energi Baru dan Keruntuhan Rezim?

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kabar kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akhirnya dikonfirmasi oleh Pemerintah Iran. Sebelumnya, kabar tersebut sudah dihembuskan oleh Amerika dan Israel, tetapi Iran tidak langsung menanggapinya.

Banyak orang penasaran tentang masa depan rezim "Negeri para Mullah" ini, terutama setelah kabar kematian sosok penting bagi rakyat Iran tersebut.

Pergantian Rezim

Dalam banyak pernyataan Trump, salah satu tujuan Amerika dan Israel adalah ingin ada pergantian rezim di Iran. Sistem teokrasi di Iran harus diganti ke model demokrasi seperti barat.

Namun, sebenarnya tujuan utamanya adalah mendirikan rezim boneka yang pro pada kepentingan Amerika dan Israel, apa pun sistemnya. Ini lumrah dilihat di beberapa negara yang bersahabat dengan Amerika meskipun tidak dipimpin secara demokratis.

Namun jika ditelisik lebih dalam, meruntuhkan rezim di Iran tidaklah mudah, apalagi jika dibandingkan dengan Venezuela yang belum terlalu lama presidennya ditangkap oleh Amerika. Sistem pemerintah Iran telah berlangsung puluhan tahun dan sudah teruji dengan berbagai dinamika internal maupun eksternal.

Di internal, Pemerintahan Iran diuji dengan berbagai tantangan, seperti demonstrasi pada rezim dan upaya kelompok dalam Iran seperti Kurdi untuk memisahkan diri serta masalah ekonomi akibat sanksi barat.

Tantangan eksternal pun tidak kalah kuatnya. Iran telah beberapa kali berperang dengan negara lain yang bertujuan untuk menghancurkan negaranya. Sanksi ekonomi juga mereka sudah rasakan berpuluh-puluh tahun hingga hari ini, tetapi rezim ini sudah terbukti masih bertahan.

Berbagai masalah internal dan eksternal tersebut membuat Iran justru semakin kuat. Apalagi jika hanya sekadar kematian pemimpin tertinggi mereka. Iran sudah mengantisipasi dan menyiapkan mekanisme suksesi apabila pemimpin tertinggi mereka meninggal dan atau terbunuh dalam situasi perang seperti sekarang ini.

Sistem pemerintahan di Iran cukup unik. Mereka menggabungkan konsep demokrasi modern dan doktrin syiah. Sistem pemerintahan mereka berkonsep Wilayatul Faqih di mana Ayatollah sebagai pemimpin tertinggi yang memiliki kekuasaan yang besar, bahkan di atas presiden. Ayatollah adalah seorang ulama yang karismatik.

Model pemerintahan ini memiliki struktur yang yang rapi dan ditaati oleh sebagian besar masyarakat Iran. Ketaatan ini berdasarkan pada doktrin ajaran syiah, di mana Ayatollah adalah pemimpin spiritual sebagai “wakil Tuhan” di bumi. Suara Ayatollah adalah “suara Tuhan”.

Artinya, bisa dikatakan, bahwa ketaatan pada Ayatollah adalah ketaatan pada Tuhan, bukan hanya sekadar ketaatan pada pemimpin politik. Bukan hanya di Iran, komunitas syiah di luar Iran pun banyak yang tunduk pada fatwa dan perintahnya.

Komunitas Syiah Terkonsolidasi

Tidak heran pasca-kematian Ayatollah terkonfirmasi secara resmi oleh Pemerintah Iran, masyarakat Iran tumpah ruah ke jalan untuk mengekspresikan rasa duka yang mendalam dan semangat balas dendam kepada pembunuh pemimpin mereka, yakni Amerika dan Israel. Mereka terkonsolidasi. Yel-yel perlawanan terhadap Amerika-Israel diteriakan.

Bukan hanya di Iran, negara lain seperti Iraq, Lebanon, Pakistan, Nigeria, India dan banyak tempat di dunia—yang terdapat komunitas syiah, termasuk di Indonesia—juga menyatakan duka yang mendalam. Sekali lagi bukan hanya duka, melainkan juga semangat perlawanan kepada agresor (Amerika dan Israel) semakin kuat didengungkan.

Memori permusuhan terhadap Amerika, Israel, dan bahkan negara barat sekutunya sudah lama bersemayam di masyarakat Iran, terutama lagi semakin berkembang setelah revolusi Islam Iran tahun 1979. Revolusi itu berhasil menumbangkan rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi.

Rezim ini otoriter dan eksploitatif yang didukung oleh negara-negara barat, termasuk Amerika dan Israel. Rakyat Iran menderita di bawah rezim ini. Ada memori kelam yang masih membayang-bayangi hingga hari ini.

Kondisi ini akan sulit bagi Amerika dan Israel untuk menjalankan skenario pergantian rezim di Iran. Sistem politik pemerintahan di Iran—seperti dijelaskan sebelumnya—adalah sistem yang dibangun di atas basis agama (teokrasi). Ia punya jiwa dan semangat spiritual, bukan hanya semangat keduniaan seperti model demokrasi kapitalisme di barat.

Dukungan Militer

Suatu rezim di negara mana pun akan bisa bertahan dalam waktu yang lama apabila didukung oleh militer. Tanpa dukungan ini, rezim sering kali tidak berumur panjang. Di Mesir misalnya, rezim Muhammad Mursi akhirnya dikudeta oleh militer.

Militer mengambil alih pemerintahan hingga hari ini. Amerika mendukung. Tragisnya, Mursi ditangkap dan menghabiskan akhir hayatnya di dalam jeruji besi.

Di Iran, militer merupakan salah satu pilar yang sangat kuat secara politik dan bahkan ekonomi yang menopang keberlangsungan rezim, terutama sejak Revolusi Islam Iran 1979.

Bahkan, unit elite militer yang paling berpengaruh dan dipimpin langsung oleh Ayatollah dinamakan dengan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Ini tidak bisa diabaikan. Meskipun, katakanlah, ada rezim baru, apabila tidak didukung oleh IRGC, rezim tersebut tidak akan bertahan lama.

Perang Semesta

Dampak lain dari pembunuhan Ali Khamenei adalah akan ada perang semesta. Kader-kader, pengikut dan simpatisan Ayatollah Ali Khamenei akan semakin terfragmentasi dan sporadik dalam perlawanan.

Bukan hanya dalam bentuk organisasi proksi, seperti Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hashed al-Shaabi di Iraq, bahkan Hamas (sunni) di Palestina, melainkan juga sebagai “jihadis” individu yang bergerak tanpa ada koordinasi dari struktur organisasi tertentu.

Mereka akan melakukan gerakan perlawanan secara mandiri di mana saja yang akan menargetkan aset, bahkan mungkin gerakan tersebut dapat menargetkan warga Amerika dan Israel.

Pola dan sifat perlawanan (perang) bisa berubah. Amerika dan Israel tidak hanya akan berhadapan dengan negara Iran dan proksinya secara organisasi, tetapi juga dengan ‘musuh” individu yang tidak terlihat dan bisa bergerak di mana saja serta kapan saja, termasuk di atas tanah Amerika.

Dalih Amerika dan Israel—agar timur tengah bisa stabil dan Israel bisa kehilangan ancaman—justru bisa terjadi sebaliknya. Keamanan Amerika, Israel, dan bahkan Timur Tengah semakin tidak menentu.

Israel dan Amerika justru menciptakan ancaman-ancaman baru yang lebih mengerikan. Para kader, pengikut dan simpatisan Ali Khamenei akan teradikalisasi untuk membalas dendam pada pembunuh pemimpin mereka.

Tantangan ke Depan

Tentunya, akibat buruk perang akan sangat besar. Dampaknya ada pada semua lini seperti sosial, ekonomi dan politik. Kita akan melihat di hari-hari mendatang bagaimana akhir dari perang ini.

Di sisi lain, bagaimanapun juga harus diakui bahwa tidak semua rakyat Iran setuju dengan sistem Wilayatul Faqih. Ketidaksetujuan ini merupakan hal yang biasa. Sama hal dengan Indonesia, tentunya pasti ada juga masyarakat Indonesia yang tidak setuju dengan sistem yang dijalankan oleh pemerintah hari ini.

Namun, yang cukup menjadi perhatian, kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini memberontak ke rezim akan mendapat angin segar di tengah perang yang dimulai oleh Amerika dan Israel.

Salah satu kelompok yang "getol" untuk memerdekakan diri adalah kelompok Kurdi. Kelompok ini mendapat dukungan dari Amerika dan Israel. Bahkan, mereka punya markas di Amerika. Kelompok ini menjadi kartu penting yang siap diaktivasi oleh Amerika dan Israel untuk mendestabilisasi Iran dari dalam.

Iran akan menghadapi front perlawanan baru di internalnya sendiri. Dengan situasi ini, skenario yang mungkin akan dilakukan oleh Amerika dan Israel adalah membagi wilayah Iran. Ada kelompok yang akan memerdekakan diri dan tentunya akan menjadi sekutu kuat Amerika dan Israel. Selain itu, nantinya, kelompok itu juga akan menjadi ancaman di halaman belakang Iran.

Semoga perang segera berakhir dan hukum internasional segera ditegakkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Gol Menit Akhir Bawa AC Milan Taklukkan Cremonese 2-0 di Liga Italia
• 16 jam lalupantau.com
thumb
JK Respons Rencana Prabowo Jadi Juru Damai AS–Iran: Masalahnya Terlalu Besar
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Situasi Iran Memanas, KBRI Teheran Mulai Tampung WNI yang Terlantar
• 6 jam lalumatamata.com
thumb
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Diprediksi Dua Gelombang, Ini Tanggalnya
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Chris Hemsworth Bongkar Rahasia Pernikahan Harmonis dengan Elsa Pataky
• 9 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.