REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Bidang Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat , M. Azrul Tanjung, mengatakan, eskalasi perang Amerika/Israel dengan Iran akan berdampak riil terhadap ekonomi Indonesia. Peperangan itu akan membuat harga minyak akan menjadi terkerek mahal.
Dijelaskan Azrul, penutupam Selat Hormuz bagi kapal tanker milik sipil, akan mengganggu distribusi minyak. Sebab hampir 30% minyak dunia atau sekitar 20 juta barel per hari, melewati jalur ini. Termasuk pasokan LNG yang menggerakkan Eropa juga menggunakan jalur ini. “Artinya bahan bakar untuk mobil, pesawat, pabrik semuanya bergantung pada jalur tersebut. Dengan terganggunya, otomatis inflasi dalam negeri bergerak tinggi,” kata Azrul, Senin (2/3/2026).
Perang juga akan membuat terjadinya perlambatan perekonomian dunia akibat terganggunya rantai pasok. Kondisi ini dapat berdampak pada negara-negara yang masih bergantung pada impor. Maka, terjadi pelambatan perekonomian global, karena supply chain terganggu.
“Akibat harga bergerak naik (inflasi) berdampak pada kelompok berpendapatan rendah. Proporsi pengeluaran mereka untuk kebutuhan pokok dan transportasi lebih besar,” ungkap Azrul yang juga pengurus PP Muhammadiyah ini.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Dampak lain, menurut Azrul, adalah melebarnya defisit neraca perdagangan, kurs nilai tukar terancam, dan pasti subsidi energi membengkak. “Ujungnya kemiskinan makin membengkak,” kata Azrul.
Selain itu, lanjutnya, inflasi meningkat berdampak pengetatan kebijakan moneter. Pengetatan berlebihan berisiko mengerem laju pertumbuhan ekonomi. Obsesi pemerintah menargetkan angka pertumbuhan 8% makin jauh panggang dari api. “Jika bank sentral memilih menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi, berkonsekuensi pada biaya kredit meningkat. Investasi swasta bisa tertahan dan konsumsi rumah tangga menurun,” paparnya.
Oleh karena itu, menurut Azrul, di tengah gejolak geopolitik Timur Tengah dan situasi yang penuh ketidakpastian, Indonesia perlu membuat solusi yang mujarab. Salah satunya Indonesia perlu melakukan penguatan pasar domestik.
“Perlunya afirmasi pada usaha ekonomi rakyat, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mensuplai kebutuhan pasar domestik. Secara kelembagaan, perlu penguatan lembaga koperasi yang berakar kuat di masyarakat,” ungkap Azrul.



